
Pamela terbangun dari tidurnya dan melihat seberkas cahaya menelusup dari celah tirai.
"Jam berapa ini? Kenapa sudah terang sekali?"
Gumamnya sambil meraba-raba tempat tidur untuk mencari ponselnya.
"Astaga!"
Pamela bangun kesiangan dan mulai panik.
"Ada apa sayang?"
"Kenapa Daddy tidak membangunkanku?"
"Tidurmu terlihat nyenyak dan semalam kita tidur larut, mandilah dan makanlah sarapanmu, aku sudah buatkan sanwich dan segelas susu, tenanglah jarak apartemen ke kampusmu lebih dekat..."
Pamela bergegas ke kamar mandi. Ternyata Daddy Zein sudah menyiapkan segala keperluannya, bahkan sampai handuk dan pakaian gantinya. Setelah selesai mandi Pamela lalu meminum susu yang sudah dibuatkan Daddy Zein.
"Aku memasukkan sanwichmu ke kotak bekal, kamu bisa memakannya di jalan nanti, ayo berangkat! Tenang saja, aku jamin tidak akan terlambat.."
"Terimakasih banyak Dad..."
Pamela memyambar tasnya dan mengikuti langkah Daddy Zein keluar apartemen. Dalam hati Pamela mengagumi bagaimana Daddy Zeim begitu telaten mengurus segala keperluannya.
"Jangan heran, aku sudah biasa hidup sendiri, jadi tahu apa yang harus disiapkan di pagi hari!"
Jelas Daddy Zein, seolah tahu pertanyaan di benak Pamela.
Di perjalanan Pamela sibuk mengunyah sanwichnya yang ternyata rasanya cukup lezat.
"Pamela, bisakah kamu membantuku?"
"Tentu saja, bantuan macam apa yang bisa kuberikan?"
"Tolong atur pertemuan dengan Mommy-mu, aku akan mencobanya..."
Pamela sedikit terkejut, tapi senang sekali.
"Wow, akhirnya! Tentu saja, dengan senang hati..."
Pamela tahu mungkin Mommy-nya tidak akan suka dan akan mrmarahinya lagi. Tapi Pamela tetap akan mengambil resiko itu demi membantu Daddy Zein.
Seperti yang dijanjikan, Pamela tiba di kampus tanpa terlambat. Pamela mencium tangan Daddy dan keluar sambil melambaikan tangan. Di kampusnya, Pamela malah sibuk memikirkan bagaimana caranya memeprtemukan mereka tanpa membuat Mommy marah. Yah, kenapa juga dirinya harus terlibat dalam kisah yang rumit ini?
"Mel, yuk masuk ke kelas! Kenapa malah bengong disini?"
Sapa Siska mengagetkannya.
"Eh, iya...iya.."
Pamela laku bergegas, hingga jam kuliahnya berakhir dan Daddy Zein mengantarkannya lagi ke rumah pikirannya masih saja buntu.
Maka saat Mommy pulang pukul sebelas malam itu, Pamela buru-buru menghampiri Mommy yang sedang berada di dapur.
"Mommy! Mommy sedang apa?"
"Oh, mommy sedang menyeduh teh dan membuat mie instan, kamu mau sayang?"
"Tidak, aku sudah kenyang. Apa Mommy lapar?"
"Sedikit, dan Mommy memang sudah lama ingin mie instan seperti ini..."
Pamela lalu ikut duduk di meja makan dan menemani Mommy.
"Ada apa sayang? Sudah larut begini belum tidur?"
"Mommy sebentar lagi aku akan ulang tahun..."
Seperti deja vu. Mereka mengulang adegan di tahun lalu.
"Ya sayang, kamu ingin apa untuk pesta ulang tahunmu?"
"Aku tidak mau pesta ulang tahun Mom. Aku sudah dewasa, tidak perlu pesta meriah seperti anak kecil..."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin makan malam bersama Mommy dan Daddy..."
Luna mengambil ponselnya dan memeriksanya agendanya.
"Baiklah, kali ini Mommy janji akan meluangkan waktu di hari ulang tahunmu..."
Dalam hati Pamela bersorak riang. Rencananya sepertinya akan berhasil tanpa membuat Mommy curiga.
"Terimakasih banyak Mom, aku yang akan memesan tempatnya dan memtraktir kalian..."
"Wah begitu ya? Lalu anak cantik Mommy mau kado apa?"
"Tidak usah, kehadiran Mommy sudah jadi kado terindah buatku..."
Luna tersentak dengan kalimat putrinya. Apa karena tahun lalu dirinya tidak jadi datang di ulang tahun putrinya?
"Kali ini Mommy janji pasti akan datang, kau bisa percaya Mommy kan?"
"Tentu saja Mom, terimakasih banyak..."
"Tidurlah sayang, ini sudah malam..."
"Baik Mom..."
Pamela pun beranjak ke kamarnya.