
Setelah beberapa saat terbiasa dengan ritme kerja santai karena hanya mengambil sedikit job, kini Luna kembali harus mengencangkan ikat pinggangnya. Luna baru saja mengeluarkan album baru. Dan jadwal tour promo album ke berbagai daerah di nusantara telah menantinya.
Terpaksa, Luna harus menangguhkan sejenak urusannya dengan Zein. Dalam hati Luna berjanji akan menyelesaikan urusan itu, tapi tidak sekarang. Ini adalah hal besar dan Luna perlu waktu untuk mempersiapkan mentalnya menghadapi berbagai macam kemungkinan. Lagi pula, setelah sekian lama menghilang dari hidupnya, Zein pantas untuk dibiarkan menunggu. Mungkin setelah urusan pekerjannya beres Luna baru akan memikirkannya lagi.
Besok, rencananya Luna dan timnya akan menggelar konser di Surabaya. Dan setelah itu Luna dan managernya akan bertemu seorang calon legeslatif yang juga pejabat daerah yang rencananya akan membuat kesepakatan kontrak untuk mengundang Luna, dalam pencalonannya beberapa bulan ke depan. Semua rencana berjalan lancar. Konsernya terbilang cukup sukses dengan ribuan penonton memadati area sekitar panggung dan meneriakkan namanya. Keesokan harinya pun kontrak dengan pejabat daerah telah disepakati. Namun kemudian Luna merasa sangat lelah dan sedikit tak enak badan. Jadi saat timnya sibuk jalan-jalan dan mencicipi kuliner lokal, Luna memilih pulang ke hotel untuk beristirahat.
Sebelum naik ke kamar Luna mampir terlebih dahulu ke restoran hotel untuk minum kopi dan memesan sepotong cake agar kepalanya lebih ringan. Namun siapa sangka direstoran hotel itu Luna justru bertemu Pak Ahmad, si pejabat daerah yang tadi pagi membicarakan kontrak dengannya.
"Eh mbak Luna, ketemu lagi disini, menginap disini juga?"
"Ya Pak..."
"Wah, kebetulan sekali, boleh ya saya gabung duduk disini?"
Luna sebenarnya sedang malas berbasa-basi, tapi tak mungkin juga menolak, apalagi dirinya seorang diri. Lagi pula, tanpa menunggu jawaban Luna, Pak Ahmad sudah duduk di depannya.
Luna akhirnya hanya mengangguk untuk bersopan santun, lalu menyesap kopinya sambil memainkan ponsel agar terlihat sibuk.
"Apa benar kamu masih sendiri?"
Tanya Pak Ahmad membuka percakapan. Pertanyaan yang langsung membuat Luna muak. Bisa ditebak laki-laki macam apa yang kini ada di depannya. Dan apa yang ada dipikirannya tentang sosok Luna.
"Maaf, saya tidak berminat membuka masalah pribadi saya pada orang asing...."
"Wah..wah..masih jual mahal rupanya, santai saja kita sama-sama orang dewasa, sama-sama punya kebutuhan, apalagi kamu kan janda, iya kan? Atau sekarang sudah punya pasangan? Haha"
Luna semakin muak dan tidak berminat meladeni obrolan itu. Tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menegur laki-laki yang punya jabatan terhormat, tapi prilakunya sama sekali tidak pantas untuk dihormati.
"Bapak dewan yang terhormat, seharusnya anda menjaga wibawa anda di depan rakyat jelata seperti saya..."
"Haha, masih ingin berpura-pura rupanya, berapa sebenarnya tarifmu? Aku dengar kamu pernah dekat dengan bos tambang di pulau seberang, pasti dompetnya tebal..."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Pak Ahmad.
"Berani sekali kamu! Saya bisa menuntutmu dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!"
Pak Ahmad murka dan mengancam dengan nada tinggi. Tapi Luna tak gentar. Orang seperti ini harus diberi pelajaran.
"Coba saja kalau berani! Anda pikir saya takut?"
"Sudahlah Nona, jangan sok galak begitu, pantas saja laki-laki tak mau dekat. Mari kita selesaikan dengan cara damai saja. Berapa tahun kamu menjanda? Pasti kamu kesepian bukan? Mari kita habiskan malam bersama. Tenang saja aku akan membayarmu mahal dan kita lupakan keributan barusan!"
Lelaki itu kembali memandang Luna dengan pandangan mesumnya.
Luna baru saja akan menampar Pak Ahmad untuk yang kedua kali, tapi sebuah tahan besar menahannya.
"Sayang, jangan kasar begitu...dia rekan bisnisku.."
Luna terkejut mendengarnya, tapi hanya menatap datar.
"Selamat siang Pak Ahmad, bagaimana dengan proyek kerjasama dinas UMKM dengan platform saya? Minggu depan saya akan meminta anak buah saya untuk melakukan evaluasi. Jika sekiranya kurang menguntungkan rencananya saya akan menarik investasi saya..."
Seketika wajah Pak Ahmad jadi pucat.
"Mari duduk dulu Pak, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik dan mencari solusinya bersama..."