Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 33



Akhirnya setelah beberapa hari belakangan Pamela disibukkan dengan urusan sahabatnya, kali ini Pemela ingin bersenang-senang dan meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.Yah, akhir pekan ini Pamela meminta izin pada Daddy Zein untuk tidak bertemu dulu. Sebab Pamela sedang ingin menghabiskan waktunya dengan Kak Rayhan. Untunglah Daddy Zein mau mengerti dan tidak keberatan.


Maka pagi itu di hari minggu Kak Rayhan datang menjemput Pamela dengan motor bebeknya. Tentu sebelumnya Pamela sudah meminta izin khusus pada Nenek dan juga meminta bantuan Mommy, agar acara hari ini berjalan lancar.


"Pagi Cantik..."


Sapa Kak Rayhan saat melihat Pamela keluar dengan busana andalannya. Celana jeans dan t-sirt warna merah hati yang membuat wajah Pamela terlihat merona. Kali ini Pamela harus memadukannya dengan jaket jeans kesayangan. Sebab kalau naik motor pasti anginnya terasa kencang.


"Pagi Kakak! Ayo masuk dulu, pamit sama Nenek dulu di dalam!"


Kak Rayhan pun ikut mengekor Pamela untuk berpamitan pada Neneknya. Salah satu peraturan tak tertulis yang berlaku bagi lelaki yang ingin mengajak Pamela pergi adalah berpamitan langsung dengan sang Nenek.


Beres berpamitan barulah mereka pergi. Padahal cuman mau jalan-jalan ke CFD(Car Free Day) aja, tapi prosedurnya harus benar. Dan meluncurlah mereka dijalanan, dengan tangan Pamela yang memegang erat pinggang Kak Rayhan karena takut jatuh. Pamela masih terkagum-kagum dengan sensasi naik motor begini. Rambutnya terurai tertiup angin dan sesekali helm mereka berbenturan. Di jalan mereka mengobrol dengan suara keras seperti berteriak. Ah, romantis sekali rasanya. Meski Pamela tentu belum berani memeluk Kak Rayhan erat seperti kebanyakan pasangan.


Akhirnya sampailah mereka ke tempat tujuan. Kalau yang lainnya pergi ke CFD untuk berolahraga, Pamela sama sekali tidak berminat untuk mencari keringat. Bisa-bisa wajahnya jadi jelek kalau sampai berkeringat dan nanti Kak Rayhan bisa illfeel padanya. Jadi tujuan Pamela datang kesini hanya untuk sekedar cuci mata dan wisata kuliner.


Dan setelah berkeliling beberapa saat akhirnya Pamela menjatuhkan pilihannya pada sebuah nasi pecel yang lumayan ramai dikunjungi pembeli.


"Jauh-jauh kesini cuma mau makan nasi pecel Mel?"


Ledek Kak Rayhan saat mereka mulai menikmati makanannya.


"Ih Kakak, ngerusak suasana aja! Kan asik ramai-ramai begini makan di atas tikar..."


"Hehe, pacarku ternyata udik, makan di atas tikar aja kesenengan!"


"Sejak kapan aku jadi pacar Kakak?"


"Emang apaan dong?"


"Kan kakak belum pernah nembak!"


"Kan dulu kamu pernah nembak?"


"Ih Kakak nyebelin, pokoknya aku nggak mau jadi pacar Kakak!"


Goda Kak Rayhan.


"Kakak ini nggak romantis ya! Pdkt yang bener, terus kakak harus menyatakan sambil nembak, begitu baru bener!"


"Jadi kamu minta di tembak nih ceritanya?"


"Ih Kakak nyebelin! Udah ah aku mau pulang!"


Mungkin maksud Kak Rayhan hanya mencandainya. Tapi Pamela merasa harga dirinya terluka diperlakukan begitu. Kak Rayhan memamg tak pernah peka dan tidak pernah mengerti perasaannya.


Dan dalam perjalanan menuju pulang Pamela masih sempat minta dibelikan es potong untuk dimakan di atas motor. Dan meluncurlah mereka kembali ke rumah Pamela. Pamela menyebutnya kencan yang gagal. Hari yang dipikirnya akan menyenangkan dengan menghabiskan waktu bersama Kak Rayhan ternyata malah berakhir menyebalkan. Jadi begitu sampai di rumah, Pamela yang ngambek langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan kehadiran Kak Rayhan sama sekali.


Dan jadilah Kak Rayhan tinggal seorang diri menghadapi Nenek Zubaedah, yang entah mengapa, meski tersenyum, namun terlihat menakutkan.


"Siang Nek..."


"Siang juga anak muda, dari mana saja tadi?"


"Cuma jalan-jalan ke CFD Nek..."


"Suka kamu dengan Pamela?"


Kak Rayhan hanya tersenyum malu-malu.


"Dengarkan saya, hanya karena orang tuamu adalah temanku, bukan berarti kamu boleh seenaknya dengan Pamela. Dia adalah putri kesayangan kami, yang kujaga sendiri sejak kecil, jadi jangan sampai kamu berani menyentuhnya! Dan lagi, kalau kamu memang mencintainya, aku harap kamu sanggup memantaskan diri untuk bersanding dengan dirinya! Pamela terbiasa hidup sebagai tuan putri, Ibunya bekerja keras demi memenuhi semua kebutuhannya dengan kualitas nomor satu! Kami tidak ingin kamu mendekatinya hanya bermodal cinta lalu membuat hidupnya sengsara, kamu mengerti anak muda?"


"Mengerti Nek, saya pamit dulu, terimakasih banyak!"


Kata-kata Nenek Zubaedah bagaikan tamparan yang menyadarkannya dari mimpi. Apakah harapan untuk bersanding dengan Pamela terlalu tinggi? Apakah dirimya pantas untuk seorang Putri? Apakah dia sangguh untuk memantaskan diri?


Ah, tiba-tiba semua terasa buntu. Kebahagiannya karena menghabiskan waktu bersama Pamela seketika runtuh. Tidak! Dia tidak boleh lemah dan menyerah. Mungkin sekarang dirinya belum menjadi apa-apa. Tapi mulai sekarang Rayhan akan berusaha. Demi cita dan cintanya.