
Malam ini, akhirnya jadi juga Pamela menginap di apartement Daddy. Pamela ingat bagaimana dulu dia pernah kabur dan menginap di tempat ini. Rasanya konyol sekali. Untunglah saat itu tidak terjadi apa-apa, dan pasti karena Daddy Zein memang ayahnya. Entah mengapa sejak bertemu Pamela telah merasakan kenyamanan yang tidak dirasakannya bersama orang lain.
"Daddy, apartemenmu terasa sepi..."
"Maka, bilang Mommy-mu agar kau boleh sering menginap disini!"
"Bukan itu maksudku! Apa Daddy tidak kesepian hidup sendirian begini?"
"Dulu iya, tapi sekarang kukira tidak lagi karena sudah bertemu denganmu!"
"Aku sudah besar Dad, aku punya urusanku sendiri!"
"Daddy juga sudah sibuk bekerja sepanjang hari, jadi kau tak perlu mengkhawatirka Daddy-mu ini..."
Pembicaraan semacam ini seolah takkan ada akhirnya. Zein mengerti maksud Pamela. Tapi membicarakan hal ini dengan anak kecil terasa konyol.
"Daddy, aku lapar!"
"Pesan online saja ya? Pesanlah apapun yang kau mau, nanti biar aku yang bayar...."
"Kalau pesan online makanannya tidak hangat lagi Daddy, terlalu lama dijalan..."
"Kau mau kita pergi makan di luar?"
"Aku ingin makan masakanmu Dad, bisakah kau buatkan aku pasta seperti dulu?"
"Ouh! Aku sedang lelah Pamela..."
"Ayolah Dad..."
"Hmm, baiklah anak manja, merepotkan saja!"
Daddy Zein pergi ke dapur sambil bersungut-sungut, sementara Pamela tertawa jahil sambil menyalakan televisi.
"Makanan siap tuan puteri..."
Daddy Zein menganguskan sepiring pasta di depan Pamela.
"Suapi Dad!"
"Ah, kau ini! Baiklah..."
Meskipun kesal, Zein tidak mampu menolak permintaan putri kesayangannya itu.
Mereka makan malam bersama. Dan Pamela terlihat lahap disuapi Daddy Zein.
"Setelah ini apa lagi tuan puteri?"
"Hahaha, cukup setelah ini aku yang pijatin Daddy..."
Dan sesuai janjinya, setelah menghabiskan makannya, mereka duduk di karpet tebal di depan sofa dan Pamela mulai memijit kaki Daddy. Televisi masih menyala, tapi seolah hanya menjadi latar belakang, sebab Daddy Zein dan Pamela mulai terlibat obrolan serius.
"Pamela, apa kau tidak tertarik mengambil sekolah bisnis? Kamu bisa magang di perusahaan Daddy nanti..."
"Untuk apa? Aku tidak ingin bekerja kantoran. Pasti akan sangat sibuk dan melelahkan. Aku ingin mendesign pakaian, pekerjaan favorit dan impianku...apa itu tidak keren memurut Daddy?"
"Bukan begitu sayang, kamu boleh jadi apapun yang kamu mau. Tapi...aku membutuhkanmu untuk meneruskan estafet perusahaan nantinya....dan kalau kamu bersedia, kamu harus mulai belajar dan berlatih mulai dari sekarang...bagaimana?"
"Hahahaha! Bisa saja kamu bikin alasan! Baiklah aku akan cari cara lain saja..."
"Daddy, sepertinya kamu benar-benar butuh penerus, kenapa tidak menikah saja? Nanti kau bisa punya anak lagi untuk meneruskan perusahaanmu..."
"Ah, kau ini! Kenapa jadi kesitu lagi arahnya?"
"Aku serius Dad..."
"Tidak semudah itu Pamela..."
"Bagaimana dengan Mommy?"
"Ah, sinetron macam apa ini? Aneh sekali ceritanya! Aku ganti saja ya..."
Zein terlihat salah tingkah dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Daddy, tolong jujurlah padaku...Apa kau masih punya perasaan pada Mommy?"
"Apa kau bisa menyimpan rahasia gadis kecil?"
"Daddy! Aku bukan anak kecil! Katakanlah, aku akan menutup mulutku rapat-rapat..."
"Baiklah, dengarkan aku...hubungan kami di masa lalu sangatlah rumit...kami sudah memutuskan untuk menutupnya dan memulai lembar baru masing-masing. Kami hanya masih menjaga komunikasi dan hubungan baik demi dirimu..."
"Tapi, apa kau masih punya perasaan pada Mommy? Jawablah yang jujur!"
"Mungkin..."
Daddy Zein berbicara dengan pandangan memerawang.
"Kalau begitu berusahalah!"
"Tidak semudah itu Pamela...Mommy-mu pasti akan menolakku!"
"Apakah Daddy-ku seorang lelaki pengecut yang kalah sebelum berperang?"
"Haha, kau coba memanas-manasiku?"
"Ayolah Dad...kau laki-laki, cobalah untuk bersikap jantan!"
"Baiklah anak manis yang cerewet, tapi..."
Kata-kata Zein terhenti, seolah memikirkan sesuatu.
"Tapi apa lagi Dad?"
"Aku hanya ingin lebih berhati-hati, dulu aku pernah melakukan kesalahan yang sangat besar, jika aku ingin memulainya lagi, aku harus memastikan tidak akan yang terluka...apalagi sekarang ada dirimu dan hubungan kita baru saja membaik..."
"Terserah padamu Dad...kenapa pikiran orang dewasa harus rumit sekali? Apapun itu Dad kau harus tahu aku akan jadi orang pertama yang selalu mendukungmu!"
"Terimakasih sayang..."
Mereka lalu menonton tv bersama hingga malam beranjak larut dan Pamela terlelap. Dan sesuai janjinya, Daddy Zein menngendong Pamela masuk ke dalam kamarnya.
Zein memandang wajah putrinya yang tertidur lekat-lekat. Betapa waktu cepat berlalu. Sepertinya belum lama huru-hara kehamilan Luna menghebohkan acara gosip di televisi. Saat-saat yang membuatnya amat terluka melihat orang yang disayanginya terluka, tapi dia tak bisa melakukan apa-apa. Dan kini buah cintanya sudah beranjak dewasa.