
Pamela mendapatkan jahitan di tangan dan di pelipisnya, juga mengalami cidera ringan di bagian kepala. Setelah selesai mendapatkan penanganan, Pamela segera dipindahkan ke ruang perawatan. Sejak tadi Daddy Zein dan Rayhan sama-sama menunggui Pamela tanpa saling bicara. Zein bisa bernafas lega, saat dokter memberi tahunya bahwa tidak ada luka serius yang dialami Pamela. Mungkin Pamela hanya perlu dirawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya. Tapi kemudian ada hal lain yang membuat Zein gelisah.
Pamela sudah dalam keadaan sadar saat di bawa keruang perawatan dengan ditemani Kak Rayhan dan Daddy Zein. Kepalanya masih merasa pening, entah efek benturan atau obat bius. Dua lelaki itu masih setia menungguinya. Membuat Pamela risih dan juga bingung harus bersikap bagaimana. Suasana terasa canggung dan dingin. Bagaimana kalau Kak Rayhan tahu kalau dia seorang baby? Kak Rayhan pasti akan membencinya. Kekhawatiran itu tetap membayanginya ditengah rasa sakit. Tapi biarlah. Kepala Pamela kembali terasa pusing. Pamela memilih memejamkan matanya. Mungkin lebih baik dirinya tidur sekarang.
Zein juga menyadari suasana dingin di ruangan itu. Anak muda teman Pamela itu sesekali melihatnya dengan pandangan menyelidik. Atau tatapan tajam penuh kebencian? Namun ada hal lain yang membuatnya benar-benar harus meninggalkan tempat itu secepatnya. Tapi setidaknya Zein harus memastikan gadis kesayangannya baik-baik saja sebelum dia tinggalkan.
"Pamela, apa ada yang terasa sakit sayang?"
Pamela hanya menggeleng sambil masih menunduk. Kepalanya terasa pusing, tapi Pamela tidak ingin mengatakannya. Dan kali dia merasa risih dengan panggilan 'sayang'. Padahal biasanya Pamela merasa panggilan itu normal saja. Mungkin karena sekarang ada Kak Rayhan di depannya.
"Maaf, saya ada urusan pekerjaan, saya tinggal dulu nggak papa?"
Pamela hanya mengangguk, bingung harus memanggil apa di depan Kak Rayhan.
"Saya titip Pamela ya sampai Mama-nya datang?"
"Ya Om!"
Akhirnya Pamela bisa bernafas lega. Sepertinya Daddy mengerti posisinya. Namun belum sampai Daddy Zein meninggalkan ruangan, terdengar suara pintu dibuka dari luar. Reflek semua mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Pamela, kamu..."
Kata-kata Luna menggantung karena terkejut melihat seseorang yang ikut berada di ruang perawatan putrinya. Pandangan Luna dan Zein beradu. Sesaat Zein merasa panik. Tapi kemudian mencoba menguasai diri untuk tetap tenang.
"Apa kabar Luna?"
"Untuk apa kamu disini?"
Kata Luna dengan nada membentak. Pamela terkejut sekaligus bingung. Belum pernah Pamela melihat Mommynya berbicara dengan nada tinggi pada orang lain. Biasanya Mommy selalu tersenyum ramah, bahkan pada orang-orang yang sering menggunjingkannya. Apakah mereka saling mengenal? Sepertinya riwayatnya akan segera tamat. Semua orang akan tahu kalau dirinya seorang Baby. Bagaimana ini?
"Sepertinya banyak hal yang harus kita bicarakan, lain kali aku akan menghubungimu, tolong jangan menghindariku, sekarang aku pamit dulu!"
Luna memilih tidak menggubris kata-kata Zein dan segera menghampiri Pamela.
"Ya ampun sayang, kenapa bisa begini? Kamu nggak papa? Mana saja yang sakit?"
Pamela menunjukkan luka-luka yang dialaminya.
"Tenang saja Mommy, kata dokter ini tidak parah dan aku akan segera sembuh.."
Pamela memaksakan tersenyum meski sambil menahan sakit.
"Ah, anak Mommy, maaf kalau Mommy jarang ada untuk kamu....istirahatlah...Mommy mau temani kamu sekarang, nanti kalau sudah baikan baru kamu cerita sama Mommy ya?"
"Rayhan, sekarang kamu boleh pulang, istirahatlah dirumah, kamu pasti capek, terimakasih sudah menemani Pamela..."
"Ya Tante..."
Rayhan keluar dari ruangan setelah berpamitan pada Luna dan Pamela. Sekarang tinggal Pamela dan Mommy di dalam ruang perawatan. Pamela merasa lebih tenang. Sambil menggenggam tangan Mommy, Pamela mencoba memejamkan mata dan perlahan tertidur. Meskipun pertemuan mereka terbatas waktu, Pamela tetap merasa Mommy lah orang yang paling mengerti dirinya. Menasehati dengan lembut tanpa pernah menghakimi.