
Luna sampai dirumah dengan perasaan yang kacau. Kenapa Zein harus merusak malam mereka yang indah dengan ucapan yang tak jelas. Luna jelas merasa marah. Tapi entah mengapa saat malam tiba dirinya tak kunjung bisa memejamkan mata. Bagaimana bisa dirinya jadi lemah begini? Padahal selama ini Luna hampir mati rasa pada siapapun pria yang coba mendekatinya. Luna tak bisa menampik pesona Zein di usia matangnya justru semakin menawan. Namun Luna juga tidak ingin mengulang kesalahan di masa lalu yang jatuh pada pesona pria tampan itu hingga rela menyerahkan segalanya. Meski kini keadaanya juga telah jauh berbeda. Karena kegalauannya itu, bahkan Luna sampai harus menelan obat tidur. Dirinya harus beristirahat, sebab besok jadwalnya cukup padat dan staminanya harus prima.
Sementara Pamela sempat khawatir Mommy akan kembali marah padanya, namun ternyata tidak. Meski begitu Pamela menangkap jelas wajah Mommy yang berubah kesal. Pastilah hal itu karena rencana Daddy Zein yang jelas-jelas gagal. Pamela sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat dirinya pergi. Tapi tidak mungkin untuk menanyakannya langsung pada Mommy. Jadilah Pamela harus menunggu sampai minggu depan, sampai bertemu dengan Daddy lagi.
Dan akhirnya saat Daddy menjemputnya pulang dari kampus lalu mengajaknya mampir makan siang, barulah Pamela punya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut.
"Daddy, sebenarnya apa yang terjadi malam itu?"
Daddy Zein hanya menggeleng lemah sambil tetap fokus menekuri buku menu. Pamela lalu menggoyangkan tangan Daddy Zein agar pertanyaannya segera dijawab.
"Sudahlah lupakan saja Pamela..."
Kata Daddy Zein akhirnya.
"Kenapa begitu?"
"Sudah kuduga itu bukan ide yang bagus, seperti yang kau lihat, semua berantakan dan Mommy-mu marah..."
"Ayolah ceritakan, aku sangat penasaran Daddy..."
"Tidak ada yang perlu dibahas sayang, cepat pesan makan siangmu, aku sudah lapar!"
"Ah Daddy tidak seru, pokoknya aku tidak mau pesan makanan kalau Daddy belum cerita!"
"Dasar anak nakal, bisanya mengancam saja! Baiklah, kau pesanlah makanan, sambil menunggu aku akan ceritakan..."
"Baiklah Daddy, tapi janji ya?"
"Tentu saja, aku tak pernah ingkar janji. Kamu cerewet sekali dan suka memaksa, persis seperi Mommy mu dulu..."
"Tuh kan, Daddy pasti selama ini tidak bisa melupakan Mommy..."
Goda Pamela dengan nakal. Dan Daddy Zein mencubit pipinya dengan gemas.
Pamela lalu menuliskan pesanannya, lalu sesuai janjinya Daddy Zein mulai bercerita.
"Pantas saja Dad!"
Begitu tanggapan Pamela setelah Zein selesai bercerita.
"Pantas saja Mommy kesal!"
"Memangnya apa salahku?"
"Harusnya Daddy bilang ingin memulai lagi dengan Mommy karena masih mencintainya, bukan malah menyebutku sebagai alasan..."
"Tapi itu juga benar, aku tidak berbohong kan kalau ini juga demi membahagianmu?"
"Tapi bukan itu yang ingin di dengar Mommy kalau ada seorang pria mendekatinya..."
"Lalu apa?"
"Bilang kalau Daddy mencintai Mommy. Itu satu-satunya alasan yang ingin di dengar wanita kalau ada pria mendekatinya?"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku kan juga perempuan Daddy!"
"Oh, begitu ya? Lalu jika seandainya kemarin aku bilang begitu Mommy-mu tidak akan marah?"
" Tentu saja Mommy akan tetap marah!"
"Kalau begitu sama saja! Kau sedang mengerjaiku ya?"
"Tapi walaupun Mommy marah, pasti diam-diam dalam hatinya senang..."
" Kenapa bisa begitu?"
"Karena Mommy akan merasa tersipu tapi malau untuk menunjukkannya...dan perlahan-lahan mungkin dalam hatinya Mommy akan mulai memikirkanmu"
"Begitu ya? Wah...wah...kenapa pikiran wanita rumit sekali?"
"Karena itu Daddy harus lebih agresif dan mulai belajar memahami Mommy..."
"Baiklah, terimakasih untuk masukannya..."
Dan begitulah akhirnya Zein mulai belajar memahami pikiran wanitanya dan menyusun rencana lagi.