
Namanya Luna Husein. Putri pertama dari Kakek Husein dan Nenek Zubaedah. Dulu Luna, hanyalah gadis kampung biasa dengan kecantikan yang cukup menonjol di lingkungannya. Parasnya cantik dan manis, khas perempuan melayu. Tak pernah membosankan bagi siapapun yang memandangnya. Rambutnya hitam, lurus, dan halus alami. Kulitnya kuning terang dan bersih, meski kala itu belum terkontaminasi krim-krim mahal seperti sekarang.
Dulu Kakek Husein, Ayah Luna, dimasa kejayaannya adalah seorang juragan beras di kampungnya. Hampir semua petani menjual hasil panennya kepada Kakek Husein. Sampai kemudian entah bagaimana ada juragan lain yang mengambil alih bisnis itu, hingga semua petani beralih dan tak ada yang menjual hasil panennya kepada Kakek Husein lagi. Namanya Haji Bilal. Rumornya kala itu, anak Haji Bilal yang bernama Taufik menaruh hati pada Luna. Tapi Luna yang waktu itu masih berumur empat belas tahun belum ingin menikah. Kala itu di kampung tempat Luna berasal, wajar anak gadis dinikahkan pada usia belasan tahun. Kebanyakan karena alasan ekonomi banyak orang tua yang ingin cepat-cepat menikahkan anak gadisnya. Supaya tak lama-lama jadi beban keluarga. Begitu alasannya. Tapi keluarga Luna waktu itu adalah orang yang cukup berada. Kakek Husein juga ingin anaknya memiliki masa depan yang baik dengan menempuh pendidikan terlebih dahulu. Begitu juga dengan Luna yang masih ingin menikmati masa remajanya. Maka dengan kompak keluarga Kakek Husein menolak lamaran itu. Tanpa mereka sadari, penolakan itu berujung pada retaknya persahabatan Kakek Husein dan Haji Bilal. Dan karena kebenciannya Haji Bilal dan keluarganya bertekad untuk menghancurkan keluarga Kakek Husein. Keluarga Haji Bilal memang jauh lebih kaya dan lebih memiliki kekuasaan di desa mereka. Karena itu dengan mudahnya mereka sengaja membuat usaha keluarga Kakek Husein gulung tikar. Kerjasama diantara mereka diputuskan secara sepihak. Sedangkan pemasok dan pelanggan Kakek Husein diambil alih dengan cara yang licik. Tak apa rugi sebentar, kekayaan Haji Bilal tak akan habis untuk menanggung kerugian selama beberapa bulan atau bahkan satu tahun lebih. Haji Bilal rela membeli hasil panen lebih mahal dan menjualnya lebih murah. Kakeh Husein yang waktu itu tidak menyadari perbuatan curang rekan bisnisnya dengan mudah tumbang.
Luna masih duduk di bangku SMP ketika itu. Kang mukhlis, salah satu pemilik organ tunggal di kampung sudah lama melirik Luna untuk dijadikan biduannya. Dia mampu melihat bakat dan aura bintang yang dimiliki Luna. Sayang Luna adalah putri Kakek Husein. Agak kurang sopan rasanya menawarkan pekerjaan yang kerap dipandang hina pada anak orang terpandang. Tapi peluang itu kemudian muncul saat mendengar berita kebangkrutan Kakek Husein. Tawaran itupun ternyara disambut gembira oleh Luna. Luna memang senang bernyanyi dan tampil. Hanya saja selama ini tidak ada kesempatan. Sambil menyelam minum air. Sambil menyalurkan hobi terpendamnya, Luna beralasan ingin membantu perekonomian keluarga. Dengan berat hati akhirnya Kakek Husein mengizinkan. Benar saja, nama Luna cepat populer dari kampung ke kampung. Meski Luna selalu berpakaian sopan saat tampil, tapi suaranya yang merdu juga parasnya yang ayu mampu menarik perhatian para penonton melebihi biduan lain. Karir Luna pun makin bersinar dan pundi-pundinya semaki tebal. Tapi bersama itu pun cobaan yang menerpanya semakin besar. Sekolahnya mulai terbengkalai, hingga gosip-gosip miring sering didengarnya. Luna mencoba untuk tidak perduli dan terus fokus meniti karirnya.
"Luna, kewajiban ayahlah untuk bekerja. Kamu boleh saja bekerja, tapi sekedarnya saja, jangan sampai menelantarkan sekolahmu..."
Kakek Husein waktu itu masih terus bekerja meski serabutan. Tak elok jika hanya mengandalkan anak perempuannya. Tapi kemudian Kakek Husein sempat jatuh sakit dan tak bisa bekerja untuk beberapa saat. Dalam hati Luna bertekad untuk sungguh-sungguh belajar sambil meniti karirnya perlahan. Luna terpaksa mebatasi jam panggungnya. Tapi namanya sudah rezeki, bayarannya malah semakin besar. Tentu belum sebesar sekarang, tapi cukup untuk memenuhi hidup sehari-hari secara sederhana. Akhirnya Luna lulus sekolah SMU. Tapi tak mungkin baginya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak ada anggaran biaya untuk itu.
Jadi setelah lulus sekolah Luna bertekad untuk mengadu nasib di ibu kota. Sebab kalau hanya dikampung, sebesar apapun penghasilannya tetap segitu saja. Dan nasibnya juga hanya begini saja. Sedang nanti dirinya akan menua dan semakin turun harganya. Begitu pikir Luna.
Begitu kata Kakek Husein ketika itu. Lagi pula hidup dikampung baginya terasa semakin susah. Para tetangga semakin rajin menggunjingkan keluarganya, karena dirinya yang tak lagi becus sebagai kepala keluarga. Juga tentang putrinya yang menjadi biduan. Meski pekerjaan itu halal dan Luna selalu menjaga norma-norma yang berlaku, tapi tetap saja pekerjaannya terlanjur dipandang sebelah mata.
"Bagus juga dinikahi Taufik, jadi istri orang berada, jadi wanita terhormat. Eh ini malah sok-sok an jual mahal ujung-ujungnya malah kerja begituan..."
Begitu suara-suara sumbang yang turut mengiringi kemajuan karir Luna. Kakek Husein pun tak mudah memulai usaha lain di Desa. Sepertinya segala akses telah diblokir oleh Haji Bilal karena dendamnya. Akhirnya diputuskannya untuk menjual semua rumah, tanah, dan sawah yang dimilikinya sebagai modal merantau ke ibu kota. Meskipun hartanya di kampung lumayan banyak, tapi ternyata harga jualnya tidak terlalu tinggi.
Dan akhirnya sampailah Luna dan keluarganya di ibu kota. Dengan bantuan seorang kenalan, Kakek Husein membeli sebuah rumah sederhana di kampung Duren. Dan sisa uangnya kemudian habis sebagai modal Luna meniti karir di ibu kota. Persaingan di ibukota jauh lebih ketat ternyata. Datang dari satu rumah produksi ke rumah produksi lain, hingga mengikuti audisi di berbagai program prncarian bakat, semua Luna coba dengan gigih. Namun hasilnya nihil. Kecermelangan karirnya di desa tak berarti apa-apa di Ibu kota. Perjuangan Luna tak hanya menguras tenaga dan air mata, tapi juga menguras habis harta orang tuanya. Hingga mereka sekeluarga sempat tak punya uang sepeserpun, bahkan untuk sesuap nasi. Keadaan itu berlangsung hampir dua minggu. Saat itu keluarga Pak Sanusi, orang tua Rayhan lah yang menolong mereka. Meski hanya dengan berbagi makanan dan meminjamkan sedikit uang. Sedangkan orang lain tak ada yang perduli. Untunglah setelah itu keadaan perlahan-lahan membaik, Luna bertemu dengan seorang pencipta lagu kondang yang mengajaknya bekerja sama. Dan di awal kemunculannya, sosoknya cukup menarik perhatian. Sebab lagu yang dibawakannya memang bagus dan mampu meledak di pasaran. Namanya pun turut melambung. Meski hanya sebagai pendatang baru. Begitulah awal Luna memulai karirnya, hingga kini menjadi seorang biduan yang paling diperhitungkan di tanah air.