Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 108



Pagi itu Luna akhirnya bisa memejamkan mata beberapa saat. Tubuhnya terasa amat lelah, setelah seharian bekerja ditambah saat pulang kerumah tak mendapati keberadaan Pamela membuat pikirannya kalut. Pekerjaannya yang sedang cukup padat belakangan ini memang membuatnya mengabaikan Pamela dan mungkin juga suaminya, Zein. Tapi untunglah, Zein amat sabar dan pengertian. Zein tetap berdiri disampingnya memberikan dukungan tanpa menyalahkannya sedikitpun.


Tapi kemudian Luna berfikir, dia juga tidak ingin selamanya hidup seperti ini. Terus dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjadi Ibu dan istri yang baik. Lagi pula sekarang, apa lagi yang dia cari? Hasil kerja kerasnya selama ini sebenarnya sudah cukup untuk menghidupinya. Luna memiliki beberapa properti sebagai bentuk investasinya dan menyewakannya. Luna juga menginvestasikan uangnya untuk membuka restoran fine dining bersama beberapa rekannya. Meski tidak bisa mengelolanya secara langsung, Luna mendapatkan hasil yang lumayan dari bisnis itu. Tapi seakan dunia hiburan sudah menjadi urat nadinya, berat bagi Luna untuk meninggalkannya begitu saja. Apalagi saat mengingat beratnya perjuangan saat merintis karirnya dulu. Kini dia telah sampai dipuncak. Menikmati hasil sambil harus terus menjaga kualitas dan profesionalisme. Tapi disisi lain, kini dirinya telah sampai di sebuah persimpangan dimana harus menentukan jalannya ke depan. Harus ada yang menjadi prioritas dan Luna harus rela melepaskan apa yang ada dalam genggamannya demi sesuatu yang lebih berharga dalam hidupnya. Yah, Luna sudah memutuskan, dia harus berani mengambil sebuah pilihan, meskipun itu akan dilakukannya perlahan-lahan.


Pagi itu, seperti biasa mereka menikmati sarapan bersama di meja makan. Zein selalu menyempatkan diri mengantarkan Pamela kuliah, jika Pamela ada jam pagi, dan Pamela senang dengan hal itu. Sesekali Zein juga akan menjemput Pamela, jika jam pulang mereka hampir bersamaan.


Tapi pagi itu tiba-tiba Luna memiliki sebuah ide.


"Pamela, biar nanti Mommy yang menjemputmu, pulang jam berapa sayang?"


"Hmm, sekitar jam lima sore Mom, tapi apa Mommy sedang tidak ada pekerjaan?"


"Yah, Mommy tidak ada pekerjaan hari ini..."


"Baiklah, jadi Daddy tidak akan menjemputku?"


"Tidak, kalau Mommy sudah menjemputmu...lagi pula sepertinya nanti Daddy harus lembur, kebetulan sekali kalau begitu..."


Setelah sarapan, Pamela dan Zein berangkat bersama-sama seperti biasa.


Luna tersenyum menyaksikan dua kesayangannya berangkat bersama. Sebuah pemandangan sederhana yang menghangatkan hati.


Meski Luna harus menunggu lama, tapi waktu Tuhan tak pernah salah. Semua terasa lebih nikmat di waktu yang tepat. Mungkin karena Luna sudah merasakan berjuang dan memimpikannya begitu lama, kini segalanya terasa lebih bermakna dan berharga.


Malam itu Zein pulang cukup larut dan merasa amat lelah, tapi rasa penatnya sedikit berkurang saat ada sang istri yang menyambutnya dengan senyuman dan secangkir teh hangat.


Sekilas Zein menyadari, sepertinya ada yang berbeda dari Luna istrinya. Perubahan baik yang entah sejak kapan, tapi baru disadarinya sekarang. Sepertinya belakangan ini Luna sering menyambutnya pulang.


"Sayang, sepertinya sekarang kau semakin jarang meminta izin pulang malam atau memintaku menjemputmu, apa pekerjaanmu baik-baik saja?"


"Iya, semua baik-baik saja, hanya saja aku lebih selektif dalam memilih pekerjaan, terutama aku ingin mengurangi jadwal malamku. Aku merasa bersalah, kau pasti lelah kalau haris selalu menemai dan menjemputku setelah bekerja..."


"Haha, aku jadi terharu...tapi pelan-pelan saja, kau tak perlu memaksakan diri...ambilah pekerjaan apapun yang kau suka, tapi jangam sampai kelelahan, lakukan apapun yang membuatmu bahagia..."


"Yah, terimakasih banyak..."


Malam itu karena merasa amat lelah, Zein segera tidur sambil memeluk Luna.


Tapi saat terbangun di tengah malam, Zein tak mendapati Luna disisinya. Kemana Luna malam-malam begini?