Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 53



Flash back of...


Kehamilan Luna di usia muda dengan status yang belum menikah adalah berita buruk yang seolah meruntuhkan dunianya. Karir yang sedang menanjak dan berbagai kontrak dengan nilai besar adalah impian yang kini sudah digenggamnya, tapi harus dipertaruhkan karena keadaan.


Zein, kekasih Luna ketika itu sekaligus ayah bayi yang dikandungnya adalah satu-satunya harapan dan tumpuan Luna. Menikah dengan Zein, juga adalah impian Luna. Lelaki tampan dan berkharisma dengan kelimpahan materi, siapa yang tak akan jatuh hati? Tapi Luna bukan hanya berkhayal, sebab selama ini Zein lah yang selalu mengejarnya dan selalu memperlakukannya dengan amat manis. Maka dalam keadaan terpuruknya itu Luna juga berharap Zein ada untuknya, menguatkan dan memberi solusi terbaik untuk masa depan mereka berdua. Menikah. Itu yang diharapkan Luna dari kekasihnya. Setelah perbuatan mereka yang membuat Luna hamil, Luna tentu mengharapkan kekasihnya mau bertanggung jawab dan tetap memperlakukan dengan manis. Luna tahu keluarga Zein tidak terlalu menyukainya. Tapi dengan kehadiran calon cucu mereka di rahimnya, Luna berharap mereka mau membuka hati. Dan terlebih Luna berharap, Zein akan memperjuangkannya.


Tapi kenyataan yang di dapat justru sebaliknya. Zein jadi bersikap dingin padanya dan menjaga jarak. Apa memang begitulah sifat laki-laki? Hanya manis di awal, kalau sudah ada masalah bisa pergi begitu saja, sementara perempuanlah yang harus menanggung akibatnya.


"Beri aku waktu, aku perlu berfikir dan bicara pada keluargaku..."


Begitu kata Zein sebelum mereka berpisah sementara. Luna menunggu dengan sabar, berharap Zein sedang memperjuangkannya dan datang dengan membawa kabar gembira. Namun ternyata kemudian, Zein justru datang dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menikahimu karena keluargaku tidak setuju dan Ibuku sedang sakit. Tidak mungkin aku memaksakan kehendak. Tapi aku berjanji akan bertanggung jawab dan membiayai anak itu..."


Luna memberikan tamparan keras sebagai jawabannya.


"Pergi dari hidupku dan jangan pernah muncul di hadapanku dan anakku, aku tidak butuh uangmu!"


Yah, Luna merasa sakit. Kata-kata itu tak lebih dari sebuah penghinaan. Dan harga dirinya terkoyak. Ternyata kekasihnya hanya ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan uang. Tidak ada lagi cinta seperti yang sebelumnya selalu manis dan diagung-agungkan. Perasaan sedih, sakit, terluka, dan terbuang bercampur menjadi satu. Dalam hati Luna bersumpah tidak akan membutuhkan Zein lagi dalam hidupnya.


Selanjutnya, jalan terjal harus dilalui Luna karena kehadiran buah hatinya itu. Luna sempat ingin menyerah dan menggugurkan kandungannya saja. Tapi orang tuanya melarangnya. Luna bahkan sempat bersembunyi, hidup di dalam pengasingan dan mempertaruhkan karirnya yang sedang berada di puncak sampai kemudian anaknya lahir. Luna bahkan masih tak bisa menerima kehadiran Pamela, yang dulu selalu dianggapnya sebagai pembawa sial dan biang masalah. Luna sempat mengalami baby blues berat setelah melahirkan Pamela. Luna benci suara tangisan bayi yang rewel dan membuatnya stres. Luna tidak siap dengan segala kerepotan itu ditambah rasa sakit setelah melahirkan dan tidak adanya suami di sisinya. Kemudian kebencian Luna bertambah saat orang-orang mulai menggunjingkannya. Tadinya Nenek Zubaedah tidak ingin menggunakan jasa baby sitter. Dia ingin turun tangan sendiri dan membantu Luna mengasuh cucunya. Namun melihat kondisi Luna yang semakin memprihatinkan dan tidak bisa diandalkan akhirnya Nenek Zubaedah meminta Luna menyewa baby sitter saja. Luna akhirnya dijauhkan dari bayinya. Nenek Zubaedahlah yang mengasuh Pamela dengan dibantu para baby sitter yang beberapa kali berganti. Sementara itu Luna kembali fokus bekerja. Untunglah meskipun sempat diberitakan negatif, karir Luna tetap berjalan bahkan semakin bersinar.


Pamela kecil tumbuh menjadi anak yang manis berkat didikan nenek Zubaedah. Perlahan-lahan hati Luna pun mulai luluh melihat putri kecilnya tumbuh dengan cantik dan menggemaskan. Luna mulai menyayangi putrinya dan menyesal sempat menelantarkan Pamela. Namun hal itu tak lantas membuat Luna bisa selalu ada untuk Pamela. Padatnya jadwal pekerjaan menyita waktu, pikiran, dan tenaganya. Luna berusaha semaksimal mungkin memberikan apapun yang terbaik untuk putrinya, tentu semua dilakukan dengan uang yang dimilikinya. Yang bisa dilakukan Luna saat itu hanyalah memanjakan Pamela dengan materi.


Sekarang Luna bertekad untuk membayar hutangnya pada Pamela. Lama malang melintang di dunia hiburan membuat pundi-pundinya kian tebal. Luna juga sudah mulai berinvestasi, mulai dari bisnis kuliner hingga properti turut ditekuninya. Dan sebagai biduan papan atas Luna kini semakin selektif memilih tawaran pekerjaan, hingga bisa memilih pekerjaan tertentu saja yang nilai kontraknya besar dan tidak terlalu menghabiskan waktunya. Prioritasnya bukan lagi kejar setoran seperti dulu saat merintis, kini Luna lebih fokus dengan kualitas bukan lagi kuantitas, supaya karirnya bisa langgeng meski banyak pendatang baru. Yah meskipun masih sibuk juga, tapi belakangan Luna sudah menyempatkan waktunya untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Pamela.