Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 12



Setidaknya Pemela masih merasa sedikit beruntung, sebab pertemuan keduanya dengan sang "daddy" adalah di sebuah pusat perbelanjaan seperti permintaannya, bukan di kamar hotel seperti Vanessa dan daddy nya.


Pamela sedikit kaget sekaligus lega saat Daddy Zein bertanya dimana dia ingin bertemu. Yah, mulai sekarang Pamela memutuskan untuk memanggilnya Daddy Zein. Spontan Pamela langsung minta bertemu di pusat perbelanjaan saja. Di sana adalah tempat umum yang pasti cukup ramai, jadi setidaknya keamanannya akan terjamin. Dan tidak mungkin mereka akan melakukan hal yang macam-macam. Resiko yang akan dihadapinya hanya jika ada seorang yang dikenalnya, memergoki dirinya sedang jalan dengan om-om. Tapi bagi Pamela itu tidak masalah, Daddy Zein masih cukup tampan dan cukup pantas untuk diakuinya sebagai pacar. Asal bukan Kak Rayhan saja yang memergokinya atau istri Daddy Zein, kalau memang dia sudah beristri.


Lagi-lagi tentu Pamela harus berbohong pada sang nenek, berpamitan untuk belajar bersama di rumah Vanessa. Sopirnya mengantarnya ke rumah Vanessa, barulah dari sana Pamela naik taksi online. Walaupun Daddy Zein menawarkan untuk menjemputnya, tapi Pamela menolak karena hal itu terlalu beresiko.


Sampai disana Daddy Zein sudah menunggu Pamela di sebuah restoran jepang favorit pamela. Lagi-lagi tentu saja itu adalah permintaan Pamela.


"Selamat malam Pamela..."


Sapa Daddy Zein ramah dan tersenyum pada pamela.


"Malam Daddy, maaf kalau lama menungguku..."


"It's ok, ayo pesan makananmu dulu!"


Kali ini Pamela memilih satu jenis sushi, ocha, dan takoyaki.


"Kita ngobrol-ngobrol dulu ya? santai saja, aku tidak akan memakanmu.."


"Ya Daddy, boleh aku tanya sesuatu?"


"Silahkan..."


"Apa Daddy sudah punya istri?"


Entah kenapa karena pembicaraannya dengan Vanessa tempo hari membuat Pamela jadi penasaran.


"Belum, kenapa? Apa kamu mulai terpesona padaku?"


Tuduh Daddy Zein sambil tersenyum menggoda.


"Tidak Daddy.."


Pamela menggeleng, tapi setelah itu tertunduk malu.


"Pamela, boleh aku tanya beberapa hal pribadi tentang dirimu?"


"Dasar bocah licik, kamu memang harus menjawabnya!"


Kata Daddy Zein sambil pura-pura menjewer telinga Pamela. Tapi tidak terasa sakit.


"Apa hobby mu?"


"Hobby ku? Apa ya? Aku tidak punya hobby yang spesifik Dad, aku suka jalan-jalan, makan, belanja, nonton...Yah selayaknya remaja pada umumnya..."


"Apa yang membuatmu mau menjadi sugar baby, apa kau mengalami kesulitan keuangan?"


"Tidak, aku hanya merasa kesepian, dan sebenarnya aku menyesal melakukannya..."


"Jangan menyesal, aku janji akan membuatmu tidak merasa kesepian lagi..."


Pamela tersenyum, entah mengapa Pamela merasakan ketulusan dalam ucapan itu.


"Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan disini?"


"Mungkin berkeliling sebentar dan...bagaimana kalau kita nonton? Sudah lama aku tidak nonton!"


"Baiklah, ayo kita lakukan apa yang kamu inginkan!"


Mereka kemudian berkeliling di pusat perbelanjaan itu. Masuk dari satu gerai ke gerai yang lain. Tentu saja Daddy Zein menawari Pamela untuk membeli barang-barang yang dia inginkan. Hingga tanpa terasa Pamela sudah menenteng tiga buah papper bag berukuran besar. Sepanjang berjalan-jalan, Daddy Zein menggenggam tangan Pamela, terkadang juga memegang pundaknya. Dan entah mengapa Pamela sama sekali tidak keberatan dan justru merasa nyaman.


Setelah puas berkeliling mereka akhirnya pergi ke bioskop untuk menonton sebuah film bergenre romantis yang sedang hits. Film yang cukup manis dan selama pertunjukan Pamela nyaman menyandarkan kepalanya di bahu bidang Daddy Zein.


Benar-benar acara kencan yang sempurna, kalau saja Pamela tidak ingat bahwa dirinya hanyalah gadis bayaran.


Malam itu pamela kembali pulang kerumah dengan menggunakan taksi online.


Good night my baby, have a nice dream...


Sebuah pesan singkat dari Daddy Zein untuk Pamela.


Tanpa sadar selengkung senyum terbit di bibir Pamela.