
Mommy menepati janjinya untuk meluangkan waktunya bertemu Kak Rayhan. Pamela senang sekali, tapi juga sedikit kecewa. Sebab Mommy malah melarangnya ikut.
"Lebih baik kamu di rumah saja sayang, kamu nggak mau kan kalau sampai nenek curiga?"
Dengan terpaksa Pamela mengangguk dan menurut saja.
"Ok, take care Mommy, jangan lupa nanti cerita..."
"Eh belum apa-apa udah penasaran? Ok, Mommy berangkat sekarang ya...bye..."
Dan terpaksa akhir pekan ini Pamela harus menghabiskan waktunya di rumah saja dengan rutinitas yang itu-itu saja. Membosankan!
Kenapa tidak bertemu Daddy Zein? Karena Daddy Zein sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis.
Sudahlah! Lebih baik Pamela melanjutkan maraton menonton drama korea favoritnya. Berkhayal halu sambil menatap wajah aktor tampan favoritnya di layar laptop sepertinya bukan ide yang buruk.
Dan ditempat lain, Luna, Mommy Pamela sudah sampai di sebuah restoran dimana Rayhan sudah menunggu. Bagi Luna, restoran ini hanyalah tempat standar yang biasa dikunjunginya. Tapi tidak bagi Rayhan, sebab satu menu disini harganya bisa sebanding dengan uang jajannya selama seminggu. Tapi tak mengapa, Rayhan sudah bersiap menyisihkan uangnya. Dan tentu saja, sepeser uang yang dikeluarkannya tidak akan sebanding dengan pertemuannya dengan seorang biduan terkenal sekelas Luna Husein. Apalagi ditambah bonus kerjasama wawancara eksklusif untuk mengisi konten youtube nya. Tentu dirinya sangatlah beruntung bisa mendapatkan itu semua secara cuma-cuma. Tapi keberuntungan itu disisi lain juga membuatnya semakin menyadari, jika jaraknya dengan Pamela dan keluarganya, benar-benar bagaikan bumi dan langit.
Sedangkan bagi Luna, tentu kesempatan untuk bertemu Rayhan, kekasih putrinya tidak akan dia sia-siakan begitu saja. Dia juga punya kepentingan, untuk bertemu dan berbincang berbagai macam hal sebagai orang tua Pamela. Selama ini banyak yang telah ia lewatkan tentang perkembangan Pamela karena kesibukannya. Dia tidak ingin menjadi orang tua yang menyesal.
"Selamat siang Tante..."
Sapa Rayhan begitu melihat Luna datang.
"Selamat siang, Rayhan ya? Tampan juga kamu sudah besar! Pantas saja..."
Kalimat pembuka Luna langsung membuat Rayhan tersipu. Yah, Luna beberapa kali mendengar dari Ibunya kalau Rayhan adalah teman kecil Pamela yang mencoba mendekatinya lagi. Luna pikir hal itu tidaklah buruk. Sebab laki-laki biasa seperti Rayhan bisa jadi lebih tulus, dibanding lelaki dari keluarga kaya yang biasa dimanja harta. Tapi, mari kita selidiki lebih jauh.
"Pantas apa Tante?"
"Hmm, anak muda yang menarik, berapa usiamu sekarang?"
"Dua puluh tiga Tante..."
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terimakasih karena kamu sudah menemani masa kecil Pamela, saat saya tak selalu ada untuknya..."
"Dia melewati saat-saat yang berat saat itu, karena kesalahan yang saya lakukan..."
"Iya Tante, saya tidak melakukan apa-apa, Pemela seperti adik kecil yang manis buat saya. Karena saya sempat kehilangan adik perempuan seusia Pamela..."
"Oh ya?"
"Ya Tante, adik saya meninggal saat usianya lima tahun, karena muntaber..."
"Maaf..."
"Saya masih kenyang. Orange jus saja boleh..."
"Baik Tante Saya pesankan..."
Sejenak Rayhan memanggil waiters dan memesan minum. Dia juga hanya memesan minum sama seperti Luna. Tidak enak kalau dia makan sendirian. Lagi pula ini bisa menghemat pengeluarannya.
"Saya harap saya bisa mempercayai kamu dan kamu tidak mengecewakan Pamela. Kalian masih muda, Ibuku memang orang zaman dulu yang sedikit kolot dan juga sedikit trauma karena masa laluku, jadi bersabarlah kalau kamu sungguh-sungguh..."
"Ya Tante, tidak masalah..."
"Apa kau menyukai Pamela?"
"Ya Tante..."
"Sebesar apa? Dan sejauh apa hubungan kalian?"
"Yang jelas saya serius dengan Pamela, tentu itu jika keluarga Tante mengizinkan. Dan sejauh ini kami hanya berteman dekat..."
"Bagus, aku harap aku bisa memegang ucapanmu. Ingat, jangan melebihi batas! Dan tentang syarat yang diberikan Ibuku, mengertilah...kami para orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak kami...jadi jangan salah paham ya?"
"Ya tante, saya mengerti..."
"Ok, sekarang mari kita bahas konten untuk chanelmu, kita akan wawancara pekan depan bagaimana?"
"Ya Tante, saya ikut saja dan terimakasih banyak sudah meluangkan waktu. Pasti Tante sangat sibuk..."
"Semua orang juga punya kesibukan. Ok, nanti akan ku kirimkan script daftar pertanyaan yang harus kamu tanyakan saat wawancara nanti. Kita beri tajuk "Wawancara eksklusif : Curahan Hati Sang Biduan ". Aku akan beberkan beberapa fakta yang belum terungkap ke publik. Nanti akan ku bantu promosikan juga di sosial mediaku. Ada yang mau di tanyakan?"
Yah, meskipun konten ini untuk chanel Rayhan, tapi kali ini Rayhan hanya harus menurut. Sebab kuasa sepenuhnya ada di tangan Luna. Dialah yang memutuskan untuk membuka cerita hidupnya bagian mana agar tidak melanggar privasinya. Dan tentu, Luna juga lebih berpengalaman tentang apa yang menarik bagi penonton.
"Tidak Tante, nanti saja. Sekali lagi, terimakasih banyak..."
"Sama-sama. Berjuanglah anak muda, aku dulu juga bukan apa-apa, sama sepertimu sekarang. Banyak hal yang sudah kulalui hingga sampai dititik ini, asal kamu tidak berhenti dan menyerah, pasti ada jalan..."
"Ya Tante..."
Mereka kemudian lanjut berbincang sambil sesekali menyesap minumannya. Luna, ternyata tipe orang tua gaul yang cukup menyenangkan untuk mengobrol. Dan di luar dugaannya, Luna sama sekali tidak sombong. Berbeda dengan rumor yang sering beredar.
Luna akhirnya berpamintan saat seseorang menelponnya, lalu pergi dengan terburu-buru.
Begitulah pertemuan singkat itu berakhir. Dan Rayhan semakin tidak sabar menunggu pertemuan selanjutnya. Pertemuan yang akan membuka jalannya untuk menggapai mimpinya.