
Tidak bisa menjadi wali nikah Pamela, adalah hukuman terberat yang diterima Zein dari dosa masa lalunya. Tapi apapun itu Zein telah rela demi melihat putrinya berbahagia dengan pasangan hidupnya. Demi sahnya pernikahan, akad nikah dilaksanakan dengan wali hakim. Pamela bisa merasakan kalau hal itu akan memancing pergunjingan dari orang-orang yang tidak menyukai keluarganya. Tapi untunglah keluarga Kak Rayhan sudah mengerti hal ini dan tidak mempermasalahkannya. Hari ini adalah hari yang bahagia. Kata-kata orang di belakang punggung mereka takkan bisa merusak sedikitpun aura kesakralan dan kebahagian pada acara akad.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Pamela Husein binti Luna Husein, dengan mas kawin 102 gram emas dibayar tunai..."
"Sah?"
"Sah...sah..."
Akhirnya semua bisa menarik nafas lega. Meski tak bisa menjadi wali, Zein ikut duduk di meja melihat langsung prosesi akad nikah putrinya dengan amat terharu. Zein pun tak bisa menahan air matanya. Akhirnya putrinya menikah di depannya meski dirinya bukan walinya.
Acara akad dilangsungkan secara sederhana dengan mengundang orang-orang terdekat saja sesuai keinginan Pamela. Tapi acara resepsi kali ini akan berlangsung mewah dan meriah di sebuah ballroom hotel berbintang lima. Tentu hal itu adalah rencana dan keinginan Luna dan Zein ntuk memberikan persembahan terbaiknya sebelum melepas putri kesayangannya. Dan Pamela pun tak kuasa menolaknya.
Sahabat dan teman-teman Pamela dan Rayhan sudah semuanya diundang. Tapi ternyata jumlahnya tak seberapa dibandingkan rekan-rekan Luna dan Zein dari kalangan para artis dan pengusaha. Jadilah pesta resepsi itu banyak dihadiri para artis terkenal rekan Luna yang memancing perhatian para hadirin lain, dan banyak diantara mereka yang tidak ragu minta foto bersama para idolanya.
Setelah hingar bingar pesta selesai, Pamela dan Rayhan masuk ke salah satu kamar hotel yang sudah di pesan khusus untuk kamar pengantin mereka. Kamar tipe presidential suite dengan kaca besar berlatar pemandangan kota yang menawan. Keduanya duduk di sebuah sofa empuk yang menghadap ke kaca besar. Dengan tangan kekar Rayhan melingkar di bahu Pamela.
"Akhirnya....sampai juga kita jadi suami istri..."
Pamela tersenyum sambil memejamkan mata, sedangkan kepalanya bersamdar di bahu Kak Rayhan. Benar-benar seperti mimpi, tapi ini semua kenyataan.
"Kakak tahu, waktu kecil dulu aku pernah bermimpi menikah dengan Kakak, tapi kemudian Kakak malah menolakku...", Pamela masih bergumam dengan mata terpejam.
"Apa kamu tahu, dari dulu aku sudah mencintaimu, tapi saat aku bilang pada temanku, dia bilang aku seperti penjahat yang mengincar anak-anak...lalu setelah itu kamu pergi begitu saja..."
"Hahaha, lucu ya Kak kalau diingat-ingat, kita sudah kenal lama lalu berpisah, sekarang tahu-tahu bisa menikah...."
"Dan aku bersyukur, sekarang kita bertemu disaat semua benar-benar sempurna, kita sudah meraih impian masing-masing, seolah semua berjalan sesuai rencana, seperti yang kita inginkan...."
"Tapi juga ingat ini baru permulaan awal hidup baru kita, entah apalagi ujian yang akan kita hadapi nantinya, tapi satu yang kujanjikan, aku akan selalu berada disampingmu dan kita tidak akan pernah berpisah lagi..."
Rayhan mengeratkan tangannya dan membalik tubuh Pamela sampai mereka berhadapan. Sejenak hening tanpa kata, tapi hati mereka saling bicara. Tatapan yang dalam dan penuh rasa. Rayhan memegang tengkuk Pamela dan perlahan mendekatkan kepalanya. Pamela tidak menolak, hanya jantungnya berdegup lebih kencang hingga akhirnya bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya. Terasa indah dan syahdu. Ciuman itu terasa lembut, tapi penuh dengan rasa.
"Terimakasih..."
Kata Rayhan setelah melepaskan ciumannya. Mereka telah saling menjaga sekian lama. Jadi momen ini benar-benar terasa indah dan sakral.
"Bisa kita coba malam ini?"
"Hmm"
Rayhan membimbing Pamela ke tempat tidur mereka.
"Aku belum pernah melakukannya, tapi aku sudah belajar dari internet sebelum ini, semoga tidak meengecewakan..."
Mendengar hal itu Pamela malah tertawa.
"Tapi maaf kak, aku sedang berhalangan sekarang..."
Runtuh sudah bayangan Rayhan tentang malam pertama yang nikmat dan syahdu. Tapi sebagai gantinya malam itu mereka berbicara dari hati ke hati, saling bercerita tentang peristiwa yang terlewati juga perasaan yang selama ini terpendam. Sampai akhirnya mereka jatuh tertidur dengan saling berpelukan. Pamela merasa begitu nyaman meringkuk dalam pelukan pria yang telah menjadi suaminya itu. Ternyata sangat menentramkan berada disana. Bukanlah nafsu yang menggebu, tapi kasih sayang dan perlindungan yang dirasakannya.