Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 100



"Bagaimana kalau kita jemput Pamela dulu? Biar Pamela bisa ikut memilih dan mengungkapkan keinginannya. Bagaimanapun Pamela juga akan tinggal bersama kita di rumah itu bukan?"


"Boleh juga, tapi jangan sampai menganggu kuliah Pamela. Biar aku tanya dulu jam berapa dia selesai kuliah!"


"Baiklah aku setuju, seandainya Pamela tidak ikut nanti kita juga bisa memperlihatkan hasil pilihan kita padanya terlebih dulu..."


"Baiklah..."


Luna segera mengirim pesan pada Pamela dan untunglah tak berselang lama pesannya langsung mendapat balasan dari sang putri.


"Pamela selesai sekitar dua jam lagi, bagaimana baiknya?"


"Hmm, dua jam ya, masih lumayan lama, bagaimana kalau sambil menunggu kita makan siang dulu? Kita cari tempat makan yang dekat kampus Pamela...."


"Baiklah, ide yang bagus...."


Luna dan Zein lalu menghabiskan waktu dengan makan siang sambil menunggu Pamela selesai.


"Pamela pasti juga belum makan siang..."


Di tengah acara makan tiba-tiba Luna teringat puterinya.


"Tidak apa, bagaimana kalau kita bungkus saja makanan untuk Pamela, supaya menghemat waktu, Pamela pasti mengerti..."


"Baiklah, Pamela suka sanwich disini, lagi pula akan lebih praktis memakannya..."


"Baiklah..."


Luna lalu memesankan sanwich, salad buah, dan juga es coklat untuk Pamela. Setelah selesai makan mereka langsung menjemput Pamela di kampusnya.


"Wow, surprise! Dijemput calon pengantin nih! Serasa jadi anak TK deh, yang jemput lengkap Mommy sama Daddy..."


Ucap Pamela sambil meledek ke dua orang tuanya.


"Pamela, kami ingin melihat-lihat rumah untuk tempat tinggal kita nanti. Kami ingin mengajakmu juga agar kamu bisa ikut memilih..."


Zein menjelaskan maksudnya agar Pamela mengerti. Tapi Pamela malah terlihat kaget.


"Kita akan pindah rumah Mommy?"


"Oh, maaf aku belum sempat membicarakan hal ini dengan Pamela...Pamela kemungkinan setelah Mommy dan Daddy menikah nanti, kita bertiga akan tinggal bersama di rumah baru..."


"Nenek dan Kakek tetap tinggal di rumah lama bersama Tante Chika..."


"Oh.."


Bagi Pamela rencana untuk pindah rumah cukup mengejutkan. Meski kadang menyebalkan, tapi Pamela sangat dekat dengan mereka dan sudah seperti orang tua sendiri.


"Kenapa kita tidak tinggal saja dirumah bersama Kakek dan Nenek? Kasihan mereka sudah tua..."


Pamela hanya bergumam pelan. Tapi Mommy dan Daddy cukup mendengarnya. Mereka hanya saling memandang dan sama-sama bingung bagaimana menanggapi Pamela.


"Makanlah dulu Pamela, tadi kami membelikanmu makan siang, tadi kami sempat makan siang sambil menunggumu selesai, tidak apa-apa kan kamu makan di perjalanan?"


"Ya Mom, tidak apa-apa, terimakasih banyak..."


Pamela haus sekali dan langsung meminum es coklat yang di belikan Mommy. Mommy memang paling pengertian membelikan minum dengan ukuran cup paling besar untuknya. Pamela pun menyantap menu makan siangnya dengan lahap.


Akhirnya sampai juga mereka ke kantor agen property yang dituju. Seorang sales agen property yang masih muda dan cukup tampan langsung menyambut mereka dengan ramah. Dengan cekatan pemuda itu menunjukkan produk perumahan yang ditawarkan dengan media brosur, foto, juga video, lengkap dengan harga, lokasi, spek bangunan, design, serta keunggulan dan kelemahan masing-masing unit rumah yang ditawarkan. Cukup mudah memperoleh gambaran dari penjelasan itu, namun ternyata, baik Luna, Zein, maupun Pamela menjatuhkan pilihan pada rumah yang berbeda.


Luna suka rumah minimalis yang asri dengan banyak ruang terbuka dan lubang udara tapi letaknya di pinggir kota. Zein ingin rumah yang cukup besar dan berada di tengah kota, tapi harganya lumayan mahal. Sedangkan Pamela memilih sebuah rumah bergaya klasik, padahal alasan sebenarnya Pamela menyukai rumah itu karena dekat dengan rumah lamanya, jadi dia tak harus jauh dari Kakek dan Nenek.


"Maaf, sepertinya kami masih perlu waktu untuk berdikusi, lain waktu mungkin kami akan kembali kesini..."


Pamit Zein pada sales muda itu.


Mereka pulang dengan membawa berbagai brosur. Zein juga sempat menyimpan beberapa foto dan video yang menarik perhatian mereka sebagai referensi.


Mereka harus benar-benar membahas urusan ini nanti.


Namun kemudian saat dalam perjalanan pulang, Zein justru mendapat ide yang cemerlang.


"Bagaimana kalau kita bangun saja rumah kita nanti? Kita beli tanah, lalu kita tentukan designnya sendiri, pasti akan lebih memuaskan bukan?"


"Tapi, membangun rumah cukup memakan waktu, mungkin setelah menikah rumah yang dibangun belum siap ditempati?"


"Tidak masalah, kita masih bisa tinggal bersama orang tuamu bukan? Lagi pula sepertinya Pamela belum siap jika langsung berpisah dengan kakek dan neneknya..."


"Baiklah, begitu sepertinya lebih baik, jadi kita tidak perlu terburu-buru..."


Begitulah akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah rencana. Tapi semua nampak bahagia.