Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 50



Flashback of....


Hartono mengetuk pintu ruangan Zein, lalu masuk ke ruangan bosnya sambil tersenyum penuh arti dan menyerahkan sebuah dokumen di meja bosnya.


"Ngapain lo pagi-pagi udah senyum-senyum aja? kesambet lo?"


"Hehe, dokumen spesial Bos, bisa dilihat-lihat dulu, kalau kurang cocok boleh di tuker Bos!"


"Dasar sinting!"


Meski begitu, Zein lalu mengambil map di mejanya dan mulai membukanya. Benar-benar ide yang gila. Seberapa putus asanya dia sampai harus cari cabe-cabean begini? Namun kemudian, baru membuka halaman pertama Zein sudah terperanjat. Matanya melotot dengan kening berkerut.


"Kenapa Bos? Ada yang salah?"


Zein hanya menggeleng dan semakin fokus menekuni dokumen di depannya.


Sepertinya rencana akan berhasil nih!


Begitu pikir Hartono. Tapi kemudian Zein justru menggebrak meja dengan sangat keras.


"Sial!"


"Kenapa Bos?"


"Hah, ada apa sih Bos?"


"Atur pertemuan sama Luna Husein! Kalau dia menolak juga, pakai pengacara! Ini udah keterlaluan!"


"Sabar-sabar Bos, ada apa ini? Kok jadi bawa-bawa mantan segala?"


Zein lalu menyarahkan map itu pada Hartono. Hartono mulai melihatnya dan tersenyum. Pantas saja bos nya marah.


"Sabar Zein, jangan pake emosi melulu ah! Lo jadi nggak cerdas kalau emosi begitu!"


"Eh, maksud lo apa?"


"Jangan nyolot gitu, dengerin gue dulu, ini kan kesempatan emas! Dari dulu lu ngemis-ngemis cuma buat ketemu anak ini. Sekarang dia sendiri yang datang sama lo!"


Ah iya juga ya kenapa sampai tidak terpikir. Dan akhirnya Zein memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu dan mendekati Pamela.


Tujuh belas tahun berlalu tak lantas membuatnya melupakannya. Pamela, gadis itu harus tumbuh besar tanpa kehadirannya. Keinginan Zein yang selalu menjadi doa selama ini adalah agar bisa bertemu Pamela walau hanya sekali saja.


Dia memang lelaki brengsek, dan sebut dirinya pengecut. Tapi Zein tak pernah berniat untuk tidak mengakui dan menelantarkan darah dagingnya sendiri. Tapi rasanya pintu itu benar-benar telah tertutup rapat hingga tak ada celah sedikitpun. Bertahun-tahun Zein mencoba menumui putrinya, selalu penolakan yang di dapatnya.


Zein mencintai Luna saat itu, dan benar-benar berniat tulus untuk menjaga dan menemani sang kekasih. Mereka adapah sepasang kekasih yang serasi dan sedang dimabuk asmara, sampai akhirnya terjerumus ke lubang dosa. Mereka terlalu terlena dan beberapa saat sempat menikmati dosa terindah bersama-sama, sampai akhirnya Tuhan murka dan menegur mereka dengan kehadiran Pamela dirahim Luna ketika itu. Seketika semua menjadi kacau. Zein ingin bertanggung jawab dan menikahi Luna, tapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Ibunya mengidap kanker dan sering keluar masuk rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Sedangkan Ibunya dan keluarganya sangat menentang hubungannya dengan Luna. Zein sempat meminta izin untuk menikahi Luna, yang justru berakhir dengan kondisi kesehatan Ibunya yang memburuk dan harus di rawat intensif beberapa hari. Bagaikan buah simalakama, semua pilihan menjadi serba salah. Zein mencoba menawarkan jalan tengah pada Luna untuk tetap bertanggung jawab tanpa menikahinya, tapi yang ada Luna malah tersinggung dan mengusirnya hingga komunikasi di antara mereka putus total dan Luna benar-benar menghilang dari hidupnya. Kemudian Zein yang putus asa memilih fokus pada kesehatan Ibunya dan mulai belajar mengelola perusahaan. Karena ayahnya yang punya penyakit jantung juga mulai khawatir kalau tiba-tiba harus menghadap Sang Kuasa. Meski begitu Zein tetap tak menyerah, berkali-kali Zein mencoba datang untuk menemui Pamela, buah hatinya. Namun yang di dapatnya selalu penolakan hingga tak sekalipun dirinya diberi kesempatan walau sekedar melihat wajah Pamela. Bahkan saat Ibunya sebelum meninggal, Ibunya sempat menyesal tentang perlakuannya pada Luna. Ibunya berwasiat untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Luna dan cucunya, juga sudah memberikan restu kalau mereka ingin menikah. Namun sampai Ibunya meninggal, bahkan setelahnya dan sampai sekarang, Zein sama sekali tidak punya kesempatan untuk sekedar menyampaikan maksudnya.