Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 72



Zein tersenyum sendiri sambil memandang layar ponselnya. Kali ini dia punya alasan kuat untuk menghubungi Luna. Ah, kenapa dia jadi senang campur berdebar begini? Ya, tentu saja dia senang. Karena sebentar lagi bisa bertemu dengan buah hatinya yang sudah lama dirindukannya. Tapi dari mana mendapatkan nomor ponsel Luna? Tentu saja bukan hal yang sulit bagi seorang Zein untuk medapatkan nomor ponsel pribadi seorang biduan terkenal sekelas Luna Husein. Tentu Zein harus pandai-pandai memanfaatkan uang dan kekuasaannya.


"Luna aku sudah bicara pada orang tuamu tadi. Terimkasih sudah memberiku kesempatan..., jadi kapan aku bisa menemui Pamela?"


Tanyanya lewat pesan. Dia harus menjaga wibawa tanpa basa basi.


Tidak lama berselang pesannya langsung mendapatkan jawaban.


"Mungkin pekan depan. Aku akan bicara dulu pada Pamela sebelum dia bertemu denganmu..."


"Baiklah, terimakasih banyak. Aku tunggu kabar selanjutnya..."


Zein menunggu jawaban. Lima menit. Sepulu menit. Lima belas menit. Tidak ada balasan. Sepertinya Luna memang tak akan membalas pesannya. Jadi, Zein kembali menyibukkan dirinya dengan berkas pekerjaan.


Sementara ditempat lain. Di tempat tidurnya yang besar dan empuk, Luna sedang beristirahat sambil memikirkan bagaimana cara membicarakan masalah ini dengan Pamela. Lusa Luna harus kembali pergi ke luar kota untuk konser promonya. Jadi waktunya tinggal hari ini dan besok. Sebenarnya Luna tidak suka diburu-buru begini. Tapi apa boleh buat, karena pertemuan tanpa sengaja dengan Zein tempo hari membuat rencananya berubah total. Niat untuk menyelesaikan masalah Pamela jadi lebih cepat.


Kalau biasanya Pamela yang sering menunggunya pulang jika ingin membicarakan sesuatu, kini keadaannya berbalik. Luna lah yang kali ini menunggu Pamela pulang dengan gelisah. Hari sudah beranjak sore. Tapi Pamela belum menampakkan batang hidungnya di rumah. Padahal jam sekolah seharusnya sudah berakhir. Mungkin Pamela ada kegiatan ekskul atau main bersama teman-temannya. Luna bisa memakluminya. Seusia Pamela memang waktunya bergaul dengan teman-teman seusianya.


Namun hingga malam tiba, Pamela tak kunjung pulang. Justru kemudian sebuah pesan dari Pamela masuk ke hape-nya.


"Mom, hari ini aku menginap di rumah Vanessa ya? Kami ingin belajar bersama..."


Luna merasa kecewa, sebab penantiannya ternyata sia-sia. Tapi kemudian Luna menyadari sesuatu. Apakah Pamela juga sering menunggunya saat dirinya tidak pulang ke rumah? Lagi-lagi perasaan bersalah menyergapnya. Apa dirinya bukan Ibu yang baik selama ini?


Luna lalu membalas pesan dari Pamela.


"Ya sayang, hati-hati disana dan bersenang-senanglah..."


Luna ingat wajah sembab Pamela tadi pagi. Insting seorang Ibu paling mengerti buah hatinya. Pamela tak mungkin sedang belajar. Pamela pasti sedang butuh teman untuk bercerita dan menenangkan hatinya. Dan Luna memilih mempercayai putrinya.


Keesokan harinya setelah sekolah Pamela langsung pulang kerumah. Kesempatan terakhir ini tak akan disia-siakan Luna untuk bicara.


Pamela terlihat lebih segar dan ceria sehabis mandi sore itu. Luna memutuskan untuk menyusul Pamela ke kamar dan mengetuk pintu kamar putrinya.


Tok. Tok. Tok.


"Siapa?"


"Ini Mommy sayang..."


Pamela langsung membuka pintunya.


"Boleh Mommy masuk? ada yang ingin Mommy bicarakan sama kamu..."


"Tumben Mom..."


Pamela membuka pintu lebih lebar dan memperailahkan Mommy masuk.


"Sudah lebih segar dan cantik anak Mommy sekarang?"


Pamela tersenyum.


"Nah gitu dong, patah hati boleh tapi jangan lama-lama, life must goes on..."


"Kata siapa aku patah hati Mom?"


"Ya udah kalau nggak mau ngaku..."


"Ah Mommy... mau ngomongin apa Mom?"


"Mommy ada kabar gembira untuk kamu..."


"Kabar gembira apa Mom?"


"Sebelumnya Mommy ingin tanya dulu sama kamu. Apa kamu masih ingin tahu tentang Ayah kandungmu?"


"Aku sudah tidak berharap lagi Mom, untuk apa Mommy menanyakan itu?"


"Ayahmu ingin bertemu denganmu Pamela, mungkin pekan depan setelah Mommy pulang dari tour, kita akan menemui Ayah kandungmu..."


Pamela sangat terkejut, hingga tak bisa mencerna sempurna apa yang dikatakan Mommy.


"Apa maksud Mommy?"


"Ayahmu, ayah kandungmu ingin bertemu Pamela..."


"Jadi...aku masih punya A..Ayah?"


Pamela tergeragap tak percaya.