
"Maaf, aku tidak tahu kalau sedang ada orang. Apa aku menganggu?"
Tanya Zein berbasa-basi.
Luna membuang muka, sementara Pamela bingung harus bersikap bagaimana di depan Daddy Zein sedangkan ada Mommy di depannya. Beberapa saat suasana menjadi canggung.
"Pamela, tadi pagi aku buatkan pasta kesukaanmu! Ini...makanan dari rumah sakit pasti membuatmu kurang berselera..."
"Terimakasih Daddy...."
Luna terkejut mendengar Pamela memanggil 'Daddy'.
"Pamela, siapa dia? Dan dimana kamu mengenalnya?"
"Maaf Mommy, tadi aku belum sempat meneruskan ceritaku, ini Daddy Zein, sugar Daddy-ku, tapi Mommy jangan khawatir, kami tidak melakukan apapun...bahkan Daddy Zein sangat baik padaku, sepertinya dia hanya kesepian sama sepertiku..."
"Pamela! Jangan bodoh! Tidak ada laki-laki baik kalau tidak ada maksudnya!"
Pamela kaget mendengar Mommy berteriak. Sepertinya memang dia yang salah.
"Maaf Mommy, aku tahu aku salah, aku hanya ingin Mommy tahu meskipun aku melakukan kesalahan, tapi Tuhan masih melindungiku, dan Daddy Zein yang baik tidak melakukan apapun padaku seperti yang orang-orang pikirkan...Dan, bukankah Mommy juga mengenal Daddy Zein. Aku lihat kalian bertegur sapa kemarin?"
"Tentu saja Pamela, aku kenal Mommy mu, siapa yang tidak kenal aktris sekelas Luna Husein?"
Kali ini Zein yang menjawab sambil tersenyum menggoda ke arah Luna. Luna hanya bisa melotot kesal.
"Luna, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, bisa kita keluar sebentar? Pamela, tidak apa-apa kan kalau kami tinggal sebentar?"
"Ya Daddy, aku sudah merasa lebih baik, tidak apa ditinggal kalau kalian perlu bicara..."
"Tidak perlu! Kita tidak ada urusan, waktuku sangat terbatas dan aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk bersama Pamela. Jadi lebih baik kamu pergi saja dari sini!"
"Ternyata kau masih saja keras kepala! Tolonglah Luna, sebentar saja! Atau kamu mau kita bicara di depan Pamela?"
Sepertinya Zein harus sedikit mengancam Luna. Luna terlihat berfikir sambil menatap Pamela. "Tidak apa-apa Mommy, pergilah..."
"Baiklah ayo!"
Luna langsung melangkahkan kakinya keluar dan Zein mengikutinya di belakang.
"Kita bicara di caffe bawah!"
Sampai di sebuah caffe kecil yang berada di bagian bawah gedung rumah sakit, Luna memilih tempat duduk yang agak tersembunyi lalu langsung memesaan double espresso dan vanilla latte. Luna tidak ingin berbasa-basi dan membuang waktu.
"Ternyata kau masih hafal seleraku, terimakasih banyak...."
Luna tersenyum sinis.
"Tutup mulut manismu! Aku bukan gadis yang akan tergila-gila padamu!"
"Tentu saja bukan, atau aku yang malah tergila-gila padamu? Haha!"
"Jangan melantur, langsung saja, apa yang ingin kau bicarakan?"
Tapi kemudian pelayan datang mengantarkan minuman untuk keduanya.
"Jangan tergesa-gesa, ayo kita minum dulu, sudah lama sekali rasanya aku tidak minum kopi denganmu seperti ini..."
Luna yang kesal akhirnya memilih untuk meminum latte-nya sedikit. Manis. Lumayan untuk memperbaiki suasana hatinya yang kacau.
"Baiklah kalau kamu tak mau bicara biar aku yang mulai bicara. Apa maksudmu bertemu Pamela dengan cara seperti itu?"
"Oh, sepertinya kamu salah paham. Cara seperti apa? Seharusnya aku yang bertanya padamu? Bagaimana mungkin Pamela sampai melakukan hal itu? Dan bagaimana jadinya kalau bukan aku yang menemukannya?"
Kali ini nada suara Zein balik meninggi.
"Jadi apa saja yang telah kamu lakukan padanya?"
"Kamu gila! Kamu pikir aku Ayah macam apa? Aku tidak melakukan apapun pada anakku, tanya saja padanya!"
"Jadi sekarang apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin minta izinmu untuk memberitahu Pamela yang sebenarnya, bahwa dia adalah darah dagingku!"
"Memberi tahu kalau kamu tidak mengakuinya dan menelantarkannya selama ini? Hah?"
"Luna! Kau? ****!"
Zein hanya bisa berteriak putus asa. Berhadapan dengan Luna selalu saja membuatnya mati kutu.