
Akhirnya malam itu jadi juga Vanessa menginap di rumah Pamela demi menghibur sahabatnya yang sedang gundah gulana. Sejujurnya, belakangan hubungan mereka sedikit renggang dan banyak cerita yang belum sempat dibagi. Beberapa hari Pamela harus absen dari sekolah karena kecelakan, sebenarnya dua kali Vanessa menyempatkan untuk menjenguk di rumah sakit. Tapi keberadaan Mommy Pamela yang setia menunggui Pamela membuat Vanessa tidak enak kalau harus berlama-lama. Vanessa tahu kalau Pamela membutuhkan quality time dengan Mommy-nya yang biasanya selalu sibuk. Dan karena itu pula Vanessa hanya mendengar cerita sekilas saja tentang kecelakaan yang menimpa sahabatnya karena kecanggungan dan keterbatasan waktu.
Jadi di sinilah mereka sekarang. Meringkuk di balik selimut hello kitty sambil saling melempar ejekan, lalu tertawa sampai keluar air mata, menertawakan masalah hidup dan nasib malang yang menimpa. Hidup akan terasa lebih berwarna saat kau punya sahabat untuk berbagi tangis dan tawa. Itulah yang dirasakan Pamela. Perasaan sedihnya banyak terkikis meski masalahnya tak berarti selesai.
Di meja belajar Pamela di penuhi empat cup latte dari gerai kopi ternama, dua kantong popcorn caramel, dua buah burger ukuran xl, juga berbagai macam keripik. Bekal mereka berdua untuk melewati malam panjang.
"Jadi gimana cerita sebenernya sampai lo bisa kecelakaan?"
Tanya Vanessa dengan penasaran.
Pamela lalu menceritakan detail kronologi kejadian sebelum kecelakaan hingga kemudian dirinya tak sadarkan diri.
"Kalau gitu harusnya Kak Rayhan donk yang salah karena secara nggak sengaja udah bikin lo celaka..."
"Kalau soal itu sih dia udah minta maaf berkali-kali waktu nungguin gue dirumah sakit, tapi masalah daddy-daddy an wajarlah kalau sebagai pacar gue dia cemburu, meskipun sebenernya yang gue lakuin lebih ke ngerugiin diri gue sendiri..."
"Iya juga sih, tapi apa sikapnya sama lo nggak berlebihan? Apalagi kalau sampai balas dendam sama cewek lain segala, kayak nggak gentle banget jadi cowok!"
"Kalau soal cewek itu gue belum konfirmasi sih, males gue mikirinnya, bikin sakit hati..."
"Bukan lo yang harus konfirmasi tapi DIA, kalau dia masih ngenggap lo sebagai pacar harusnya dia merasa bersalah jalan sama cewek lain!"
"Iya juga sih..."
"Please deh Mel, lo harus tegas, bucin boleh bego jangan!"
Bentakan Vanessa dengan kata-kata sadisnya bagaikan tamparan keras bagi Pamela. Tidak, Pamela bukannya tersinggung, tapi seperti baru tersadar dari sesuatu. Benarkah dirinya sudah dibutakan cinta?
"Please deh Mel, hidup lo bakal baik-baik aja meski tanpa dia...Mulai sekarang dari pada heboh mikirin cinta, mending kita belajar yang rajin, fokus mengejar cita-cita, lalu sukses jadi orang kaya...dijamin deh setelah itu cinta datang dengan sendirinya..."
"Nggak semudah itu Nes, uang nggak akan bisa membeli kebahagian dan orang-orang yang kita sayang...."
"Ya tapi paling enggak kalau punya uang banyak kita nggak perlu mikirin besok mau makan apa atau nggak perlu pusing mikirin gimana caranya membeli kebutuhan dan membayar berbagai macam tagihan yang sering harganya bisa baik tiba-tiba dan nggak kira-kira!"
Pamela tertegun mendengar omelan Vanessa.
"Lo curhat ya Nes?"
"Ya kali..."
Ucapan Vanessa bisa jadi adalah jeritan hati ratusan ribu rakyat indonesia yang rata-rata penghasilannya di bawah UMR.
"Sorry gue nggak bermaksud menyinggung lo!"
"Bukan salah lo dan gue juga nggak merasa tersinggung kok!"
Pamela dan Vanessa adalah sahabat yang mempunyai masalah yang berbeda, dan karena itu pula mereka punya cara pandang yang berbeda tentang hidup yang terkadang menyulut perdebatan. Vanessa meskipun Ayahnya meninggal cepat, tapi banyak kenangan manis bersama sang ayah di waktu kecilnya. Ayahnya sosok yang penuh perhatian dan kasih sayang meski tak bisa memanjakannya dengan materi. Sedangkan kemudian, hidup hanya berdua dengan sang Ibu membuat hubungan Vanessa dengan Ibunya sangat erat, berjuang bersama, saling menyayangi dan saling menjaga. Seolah mereka tak akan bisa kehilangan satu sama lain. Masalah hidup yang dialami Vanessa tak jauh-jauh dari kekurangan materi untuk bertahan hidup. Bahkan pelecehan yang dialaminya jika diruntut penyebabnya lagi-lagi karena dirinya orang tak punya yang bisa dengan mudah direndahkan.
Berbeda dengan Pamela yang mempunyai trauma akan penolakan sejak kecil. Dirinya jelas tak punya Ayah dan besar kemungkinan Ayah biologisnya memang tidak menginginkannya. Segala identitas tentang dirinya hanya merujuk pada Mommy. Sedang sedikit ingatan masa kecilnya masih menyimpan memori bahwa Mommy sering mengabaikannya dan juga terpaksa menerima kehadirannya di dunia. Ditambah lagi sesekali jika mendengar Nenek dan Mommy sedang bertengkar, dirinya sering diseret-seret menjadi alasan. Hal yang sebenarnya terasa amat menyakitkan. Tapi Pamela berusaha untuk memahami dan menerima semua keadaan keluarganya yang tak sempurna. Dia tahu Mommy juga selalu bekerja keras dan berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu dengan lebih menyayanginya. Pamela bisa merasakan itu. Dan Nenek juga orang yang luar biasa berjasa dan tulus menyayanginya. Jadi Pamela juga akan berusaha jadi anak yang manis yang membanggakan keluarga.
Tapi tak bisa dipungkiri, Pamela jadi haus akan kasih sayang. Seperti ada lubang di dalam hatinya yang menuntut untuk diisi. Mungkin dengan kehadiran seorang kekasih hati. Tapi benarkah Kak Rayhan adalah orang yang tepat?