Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 109



Setelah kesadaran pulih dan benar-benar terjaga, Zein mencari-cari Luna yang sedari tadi tak kunjung kembali. Ternyata Luna sedang berada di dapur.


"Sayang, kenapa malam-malam disini? Kupikir kau juga tidur tadi?"


"Aku memang tidur tadi, tapi aku terbangun lalu merasa pusing dan mual, biasanya aku butuh minum kopi kalau kepalaku terasa pusing...."


"Kau sakit? Apa kita perlu pergi ke dokter?"


"Tidak hanya sakit kepala sedikit, biasanya kalau minum kopi aku akan merasa lebih baik..."


"Baiklah, kau duduk saja, biar aku saja yang buatkan kopi untukmu..."


Zein mengambil air yang sudah mendidih, dan menyeduh kopi di cangkir, lalu menghidangkannya untuk Luna. Tapi saat baru saja menghirup aroma kopi, tiba-tiba Luna merasa mual dan segera berlari ke kamar mandi.


Karena merasa khawatir, Zein menyusulnya dan melihat Luna seperti ingin muntah di kloset, tapi tak ada apapun yang keluar.


"Ada apa?"


"Tidak apa, aku merasa ingin muntah, tapi tidak ada yang keluar..."


"Sebaiknya kita kedokter saja..."


"Baiklah, besok kalau aku belum baikan kita pergi kedokter, tapi sekarang aku ingin tidur lagi, mungkin dengan beristirahat aku akan merasa lebih baik..."


"Baiklah, ayo kita ke kamar lagi..."


Luna minum segelas air putih, lalu kembali ke kamar dengan Zein menggandeng tangannya. Di tempat tidur, Zein memijat punggung Luna sampai istrinya itu tertidur.


Keesokan paginya Zein bangun lebih dulu dan membiarkan Luna tetap tidur. Padahal biasanya Luna akan selalu bangun pagi untuk melayani keperluan Zein, meskipun setelah itu Luna akan kembali tidur. Saat Zein dan Pamela akan berangkat, barulah Luna bangun dan keluar dari kamar.


"Maaf, aku bangun kesiangan..."


Kata Luna saat melihat Zein sudah mengenakan pakaian lengkap.


"Tidak apa, kau kan sedang sakit sayang...bagaimana, apa kita pergi ke dokter sekarang, aku bosa mengantarmu dulu sebelum pergi ke kantor?"


"Sepertinya tidak perlu, aku merasa baik-baik saja pagi ini...mungkin karena aku tidur nyenyak semalaman..."


"Hati-hati di jalan, tenang saja, aku akan baik-baik saja..."


"Istirahat dulu Mommy, sebaiknya dirumah saja dan jangan bekerja yang berat-berat..."


Pesan Pamela sebelum bersalaman dengan Mommy, lalu berangkat bersama Daddy.


Karena merasa khawatir, Zein mampir ke rumah Nenek Zubaedah sebentar. Disana Zein menceritakan kondisi Luna dan menitipkan Luna pada Ibunya, seandainya terjadi sesuatu mungkin Nenek dan Kakek akan lebih dekat.


Tapi entah mengapa mendengar ceritanya, Nenek malah tertawa.


"Jangan terlalu khawatir, mungkin ini pertanda kalau kalian akan dapat rezeki..."


"Apa hubungannya Luna sakit dengan rezeki?"


"Cobalah beli alat tes kehamilan, dan jangan lupa kabari kami bagaimana hasilnya..."


Sepanjang perjalanan Zein terus memikirkan saran Nenek, hingga akhirnya setelah mengantarkan Pamela, Zein benar-benar mampir ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Dan saat pulang dari kantor Zein tidak sabar untuk segera memberikannya pada Luna.


"Apa ini?"


"Itu alat tes kehamilan, cobalah..."


"Iya aku tahu, apa kau benar-benar ingin punya anak lagi? Bagaimana kalau aku tidak hamil, nanti kamu akan kecewa..."


"Tidak, coba saja dulu...aku tidak akan kecewa apapun hasilnya, kan kita sudah punya Pamela..."


Luna menurut lalu pergi ke kamar mandi. Luna sampai terkejut sendiri dengan hasil yang dilihatnya. Garis dua. Terbersit sekilas tentang masa lalunya, saat dia menggunakan alat yang sama saat hamil Pamela. Dulu, perasaaannya lebih dominan takut dan sedih. Tapi kini Luna sangat bahagia dan bersyukur dengan kehamilan keduanya meski di usia yang tak muda lagi.


"Bagaimana?"


Tanya Zein dengan tidak sabar.


Luna tersenyum malu-malu sambil menunjukkan alat tes itu.