Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Cuti Kuliah



Kedua orang tua Yuri dan Zacky langsung menuju ke rumah sakit saat mendengar kabar dari Galen. Saat sampai di sana, mereka langsung menuju ruangan VVIP, tempat Yuri dirawat.


“Yuri, kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Citra pada menantunya.


“Baik, Mami.” jawabnya tersenyum.


“Kenapa bisa seperti ini Zacky? Kamu ga urus istrimu dengan baik?” tanya Romi sedikit emosi.


“Bukan gitu Pi, Zacky menyayangiku dan mengurusku dengan sangat baik kok. Aku seperti ini karena baby yang ada di perutku.” mendengar perkataan Yuri, keempat orang tua kaget dengan apa yang diucapkan anak mereka.


“Maksud kamu, kamu hamil, sayang?” tanya Ratna ibunda dari Yuri. Keduanya saling pandang dan mengangguk tersenyum pada keempat orang tua.


Keempatnya tersenyum lebar. Terlihat kebahagiaan yang terpancar pada wajah mereka. Ratna dan Citra pun saling berpelukan, karena rasa bahagia mereka, bukan hanya para ibu saja tapi parah lelaki pun saling berpelukan.


“Hebat juga anak papi langsung gol,” ucap Romi sambil merangkul anaknya. Wajah Romi seketika merah karena ucapan papinya.


Kehamilan Yuri menjadi kebangaan keluarga besar Zacky dan Yuri. Terlebih keluarga Zacky, karena itu akan menjadi cicit pertama keluarga Juliando. Para sahabat dari keduanya juga ikut bahagia saat mendengar kehamilan Yuri.


**♥️♥️**


Tidak bisa dipungkiri, kalau Kenzo sangat merindukan istri dan adiknya Keenan. Dia ingin sekali segera berkumpul bersama dengan keluarganya. Vidio call setiap hari yang dilakukan istrinya tidak membuat rasa rindu Kenzo terobati. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan kerinduannya. Kenzo pun memutuskan untuk mengambil cuti kuliah tanpa sepengetahuan istri, dan orang tuanya.


Semua persyaratan sudah disiapkan oleh Kenzo untuk mendapatkan cuti kuliahnya. Kenzo pun sudah memesan tiket penerbangan ke Indonesia. Karena semua tiket di siang hari full booking, Kenzo pun mendapatkan penerbangan pada malam hari.


Seharian ini Zana merasa galau, karena tidak mendapat kabar dari suaminya. Biasanya sudah beberapa kali Kenzo menelepon dirinya. Tapi hari ini Kenzo hanya menelponnya di pagi hari saja, itu pun hanya sebentar. Melihat wajah anaknya yang masam, Putri menghampiri Zana yang sedang asik duduk di sofa ruang TV.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Putri dan duduk di samping anaknya.


“Abang ga aktif Ma teleponnya. Zana merasa khawatir,”


“Mungkin dia ada kelas sayang, atau ada tugas sama temen-temennya,” Putri membelai rambut anaknya, berusaha membuat mood anaknya tenang.


“Tapi, ga biasanya dia kaya gini Ma. Tuh Ma, lihat! bayi dikandungan Zana juga kangen sama daddy-nya.” Zana menunjukan perutnya yang gerak karena tendangan bayi yang ada di dalam perut. Putri tertawa melihatnya dan mengusap perut anaknya.


“Hei jagoan, kangen daddy ya? sabar ya sayang, daddy sebentar lagi akan pulang ke Indonesia,” Zana tertawa melihat kelakuan mamanya.


“Gitu dong ketawa, 'kan enak ngeliatnya.” keduanya saling melempar senyuman.


Sampai matahari sudah tenggelam bersama dengan sinarnya, Zana masih menatap ponsel yang sejak tadi dipegangnya. Dia berharap suaminya akan menelepon dirinya, tapi nyatanya tidak. Zana berusaha terus menghubungi Kenzo, tapi yang dia lakukan sia-sia. Rasa cemas Zana semakin besar pada suaminya.


“Sayang, sudah malam kamu tidurlah!” ucap Papanya, Tristan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


“Pa, Kenzo sama sekali ga ada kabar. Aku khawatir terjadi apa-apa padanya,” Ucapnya sambil memeluk pinggang papanya.


“Mungkin dia lelah kak. Mending sekarang kamu istirahat aja ya, sayang. Kasian bayi kamu juga butuh istirahat.” Zana mengangguk. Dia menidurkan perlahan tubuhnya. Tristan menyelimuti anaknya, dan mencium keningnya.


**♥️♥️**


Selama perjalanan menuju rumah, Kenzo mengambil ponsel yang ada di saku dan menelepon adik iparnya. Dia tahu kalau jam segini, cuma Rei yang belum tidur. Mendapat panggilan dari sang kakak dengan cepat Rei mengangkat telepon darinya, karena Rei tau kalau Zana seharian ini galau karena dirinya.


Rei : “Halo Bang,”


Kenzo : “Rei, sebentar lagi abang sampai ke rumah, tolong bukakan pintu buat abang ya,”


Rei :“Abang di Indonesia? kenapa ga bilang Bang? 'kan Rei bisa jemput Abang,”


Kenzo : “Abang mau bikin kejutan buat kakak kamu, pokoknya bukain pintu buat abang. Lima belas menit lagi abang sampai,”


Rei :“Kak Zana pasti senang, soalnya seharian ini dia galau mikirin abang. Ya udah, Rei tunggu ya Bang, bye.” keduanya langsung menutup ponsel masing-masing.


Mendengar perkataan dari Rei, Kenzo merasa bersalah karena membuat istrinya gelisah. Sudah tidak sabar rasanya ingin memeluk dan mencium wanginya tubuh Zana. Walaupun hanya satu bulan, tapi itu membuat Kenzo merasa sangat tersiksa.


Mobil taxi pun berhenti di depan rumah mewah Zana. Security yang menjaga pos pun kaget melihat tuan mudanya datang. Tanpa harus mengetok pintu, Kenzo bisa masuk kedalam, karena sejak tadi Rei duduk di luar menunggu kakak iparnya datang.


Melihat Kenzo, Rei langsung berdiri. Keduanya saling berpelukan melepas rasa rindu.


“Zana udah bobo?” tanya Kenzo pelan.


“Semua orang udah tidur, Bang. Ya udah masuk yu Bang! Abang pasti capek.” Kenzo tersenyum mengangguk. Rei membantu kakak iparnya membawa koper dan masuk ke dalam.


“Rei, makasih ya. Abang langsung tidur ya, soalnya cape ga kuat mau rebahan,”


“Siap Bang.” jawab Rei tersenyum.


Saat masuk ke dalam kamar, Kenzo melihat tubuh istrinya yang terlelap tidur. Dia menghampiri istrinya, duduk di pinggir kasur, dan menatap wajah Manis Zan.


“Sayang, aku pulang.” ucapnya sambil berbisik dan mencium kening Zana.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaaa ....♥️♥️♥️