
Zana dan Kenzo mulai terbiasa dengan orang dan cuaca yang ada di Singapura. Keduanya berniat akan pulang ke Indonesia nanti pada saat libur tahun baru. Zana sudah sangat merindukan semua orang yang dia sayangi.
Sudah 7 bulan ini Zana merasa sangat bosan. Karena, selama disini yang dia lakukan dengan Kenzo hanya kuliah dan diam di Apartemen saat waktu libur kuliah. Dan itu membuat dia merasa Jenuh. Sebenarnya Zana ingin sekali mempunyai seorang anak untuk menemaninya di saat-saat seperti ini. Tapi, Zana takut kalau Kenzo belum siap mempunyai anak, maka dari itu Zana memilih meminum pil KB tanpa sepengetahuan suaminya.
Entah kenapa hari ini dirinya sangat malas untuk bangun dari tidurnya, begitupun dengan Kenzo. Keduanya masih berada di atas tempat tidur walau matahari sudah mulai menampakan sinarnya. Zana menatap dan membelai lembut wajah sang suami yang masih tertidur lelap.
“Bang, bosen,” ucapnya manja. bukannya membuka matanya, Kenzo malah menarik tubuh Zana sampai masuk dalam pelukannya.
“... Bang, jalan yu!”
“Emmm, mau kemana?”
“Semenjak kita di sini, kita ga pernah ngedate jalan keluar. Ayo donk Bang...!” Kenzo pun akhirnya membuka matanya, mencium kening istrinya.
“Oke, kita sekarang keluar,” Zana bangun dari tidurnya dan bergegas berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri saking bahagianya. Kenzo yang melihat kelakuan sang istri hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Setelah keduanya siap, mereka pun berangkat. Mereka memutuskan untuk pergi ke taman bermain di Universal Studios. Sesampai di sana keduanya pun langsung memesan tiket masuk. Suasana kala itu sangat ramai, karena memang ini adalah hari libur.
Sejak tadi mata Kenzo selalu melihat sepasang suami istri dan anak-anaknya yang lewat di depannya. Sebenarnya dia ingin sekali segera mempunyai anak dari istrinya. Tapi, mungkin ini belum rezeki pikirnya, dia pun tidak pernah menanyakan pada istrinya karena, takut istrinya tersinggung dan bersedih.
“Bang, main itu yu!” ajak Zana dan Kenzo hanya tersenyum mengangguk.
Sudah banyak permainan yang sudah di coba keduanya. Zana merasa bahagia karena memang sejak dulu dia ingin sekali bermain di sini. Kenzo yang melihat senyuman dari istrinya merasa senang. Dengan begitu keinginan dirinya mempunyai anak seketika hilang saat melihat senyum bahagia dari sang istri.
Keduanya pun istirahat di cafe yang ada di sana sambil memesan makanan untuk makan siang.
“Sorry...” ucap bocah laki-laki kecil, ya ... kira-kira berusia 4 tahun, mengambil bolanya yang berada di kaki Kenzo.
“it's okay, where are your parents?” Tanya Kenzo padanya. Anak kecil itu langsung melihat sekitar, dia terlihat binggung dan seketika anak kecil itu menangis.
“Hey, what is wrong with you?” Kenzo langsung mengendong bocah kecil itu.
“Mami, Daddy,” ucapnya. Mendengar itu sudah bisa di pastikan kalau bocah kecil ini kehilangan kedua orangtuanya.
Keduanya pun membawa bocah kecil itu dan menanyakan pada pihak cafe. Tapi nihil, mereka tidak tahu dengan siapa anak itu datang kesini. Karena, saat di lihat dari CCTV anak itu masuk sendirian mengejar bolanya yang jatuh menggelinding ke dalam cafe.
Kenzo menenangkan bocah kecil itu sampai dia berhenti menangis. Melihat Kenzo menenangkan anak kecil itu, Zana tersenyum dan merasa sangat ingin memiliki anak.
“What is your name?”
“Christian,” jawabnya.
“Okay, i will call you by name Chris,” bocah kecil itu tersenyum mengangguk.
“Sayang, kita harus bagaimana?” tanya Zana cemas.
“Mendingan sekarang kita ke pusat informasi aja sayang, siapa tahu di sana ada kedua orang tua Chris.” Zana mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.
Mereka pun mencari pusat informasi dengan menanyakan pada petugas yang ada di taman bermain. Benar saja, saat sampai disana ada sepasang suami istri yang terlihat cemas. Sang istri yang menangis di pelukan suaminya dan sudah bisa di pastikan kalau mereka sedang mencari seorang anak.
“Chris,” teriak wanita bule yang terlihat masih muda. Bocah kecil itu turun dari gendongan Kenzo dan langsung berlari memeluk sang ibu.
“Mommy,” ucapnya dalam pelukan.
“Thank you for taking care of my child,” Ucap Ayah dari anak itu.
“You're welcome,” jawab Kenzo sambil tersenyum. Sang ibu melepaskan pelukan anaknya dan langsung memeluk tubuh Zana. Zana kaget dengan pelukan sang ibu, tapi Zana pun menyambutnya dan menepuk bahu sang ibu, agar merasa sedikit tenang.
“Thank you, Thank you,” ucapnya berkali-kali karena bersyukur anaknya di pertemukan dengan orang baik seperti Zana dan Kenzo.
“You're welcome,” jawab Zana.
Akhirnya Chris pun kembali pada kedua orang tuanya. Bocah kecil itu melambaikan tangannya pada Kenzo dan Zana saat mereka berpisah. Kenzo terus menatap mereka sambil tersenyum.
“Bang...” panggil Zana dan membuat Kenzo melirik padanya.
“Ya sayang,”
“Kamu, ingin punya anak ga?” tiba-tiba Zana ingin sekali mendengar jawaban dari suaminya.
“Siapa sih sayang yang tidak menginginkan seorang anak. Tentu saja Abang ingin memiliki anak darimu,”
Deg, mendengar itu tubuh Zana seketika merasa sangat lemas. Tuhan, apa yang aku lakukan? Selama ini ternyata Kenzo sangat ingin mempunyai anak dariku.
“Sayang, kamu kenapa?” Kenzo merasa aneh melihat istrinya yang mendadak diam. Kenzo pun menarik tubuh Zana, masuk ke dalam pelukannya.
“... Sayang, Abang tidak pernah memaksa ingin segera mempunyai anak. Mungkin, Tuhan belum memberikan kita keturunan. Tapi, Abang akan selalu berusaha untuk kita agar segera memilikinya.”
Mendengar itu Zana menjadi merasa sangat bersalah. Bagaimana tidak? Dialah yang menunda untuk mereka mempunyai anak. Selama ini pikiran Zana salah tentang suaminya, ternyata Kenzo sangat ingin mempunyai anak darinya. Zana meneteskan air matanya bersalah.
“Bang, maafin Zana,” ucapnya dalam tangisnya. Melihat Istrinya menangis Kenzo merasa bersalah. Dia pun mengelap air mata yang ada di pipi Zana.
“Ga ada yang perlu di maafkan sayang, kamu ga salah. Ya udah, kita pulang yu! Keliatannya kamu sudah lelah.” Zana hanya mengangguk dan mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
~*Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaaaa ♥️♥️♥️*