
Sudah dua bulan ini Kenzo dan Zana jarang mempunyai waktu berdua, karena kesibukan mereka masing-masing. Ditambah lagi persiapan ulangan semester yang tinggal menghitung hari.
"Ma, Pa, Zana pergi ya! dah Rei." katanya sambil mengambil Roti yang ada di meja dan kunci mobilnya yang di gantung di tempat kunci, lalu mencium kedua pipi papanya. Tristan yang melihat tingkah anak perempuannya menggelengkan kepalanya.
"Kakak, mana Pa?" tanya Putri yang baru datang dari dapur.
"Udah pergi buru-buru tadi,"jawab Tristan.
"Ga sarapan?"
"Bawa roti," jawabnya lagi sambil membaca koran pagi ini.
Putri melanjutkan menyiapkan semua kebutuhan suaminya dan anak laki-lakinya.
"Pagi Pa, Ma, Rei," sapa Kenzo yang baru saja datang.
"Pagi, bang." jawab semuanya.
"Abang, ngapain ke sini?" tanya Rei heran.
"Jemput calon istri abang dong, terus siapa lagi?" jawabnya dengan santai.
"Sayangnya dia udah pergi sepuluh menit yang lalu bawa mobil sendiri." kata Putri. Kenzo heran dengan tingkah laku Zana akhir-akhir ini. Kenzo melihat jam yang ada ditangannya.
"Masih pagi gini? Zana emang ga baca pesan aku ya kalau mau di jemput?"
"Kalian berantem, Bang?" tanya Putri sambil mengalaskan roti selai coklat untuk calon menantunya.
"Ga kok Ma, makasih ya, Ma." katanya sambil mengambil piring yang disodorkan Putri. Kenzo terlebih dahulu menelpon Zana sebelum memakan sarapan yang sudah disiapkan.
"Halo, yank dimana?"
"Dijalan kenapa?"
"Aku di rumah jemput kamu, emang kamu ga baca pesan aku?"
"Sorry Ken, aku buru-buru jadi ga liat ponsel,"
"Emang mau kemana? ini 'kan masih pagi" tanyanya heran.
"Janjian sama kak Restu mau ambil soal kemaren aku kelupaan. Ya udah, sampe ketemu di sekolah ya." Zana mematikan ponselnya. Kenzo menghabiskan sarapannya dan pamit pergi ke sekolah.
Restu?? mendengar namanya saja sudah membuat Kenzo kesal. Siapa sih dia? sampe kamu semangat banget pergi sepagi ini. Kenzo terus ngedumel sambil menjalankan motornya.
Entah sejak kapan Zana begitu sekat dengan Restu, yang jelas Zana nyaman bercerita apapun bersama guru lesnya itu. Zana banyak menanyakan semua hal menyangkut kedokteran, karena dari kecil dia sangat ingin menjadi Dokter. Sampai di depan mini market tempat janjian keduanya, Zana memakirkan mobilnya dan menghampiri Restu yang sejak tadi menunggunya di kursi depan mini market.
"Hai ...." sapa Zana yang menghampirinya.
"Hai ...." sapanya balik, Zana pun ikut duduk bersamanya.
"Kebiasaan pasti ketinggalan sesuatu, atau sengaja ya biar ketemu aku?" canda Restu.
"Ciiih ... kegeeran banget si kak, serius aku lupa, habis kemaren Kenzo nyuruh aku buru-buru turun, btw makasih ya kak jadi ngerepotin pagi-pagi." katanya tersenyum.
Kenzo tidak sengaja melihat mobil Zana yang sedang terparkir di depan mini market membuatnya penasaran dan melihat dari kejauhan.
"Hati-hati ya nyetirnya," ucap Restu di Jendela sebelah kiri yang terbuka.
"Iya kak, makasih ya. Bye." ucapnya dan melajukan mobilnya menuju sekolah. Kenzo melihat dekat orang yang bernama Restu itu. Oh jadi dia orangnya, ucapnya dan kembali menancapkan gas motornya.
Zana memarkirkan mobilnya, Kenzo yang sudah sampai dari tadi, karena tidak terjebak macet langsung menghampirinya dan masuk ke dalam mobil.
"Oh Tuhan, Kenzo? kaget tau." Zana memegang dadanya yang kaget Kenzo tiba-tiba masuk ke dalam mobil.
"Kamu punya hubungan apa sama Restu?"
"Ga ada apa-apa, dia cuma guru les aku." ucapnya hendak turun dari mobil, tapi Kenzo menahannya membuat mereka masih berada di sana.
"Hanya itu?"
"Sayang jangan bilang kamu cemburu sama dia? udah ya sayang aku ga mau pagi-pagi kita berdebat." katanya dan langsung turun dari mobil, Kenzo pun ikut turun dan langsung memegang tangannya berjalan masuk ke dalam sekolah.
"Kamu ini kenapa sih Ken? aku cuma deket sama cowok sebagai temen aja marah, tapi giliran aku ngelarang kamu deket sama cewek kamunya ga mau denger pake alasan dia temen lah, anggota OSIS lah. Aku cukup sabar selama ini nurutin apa yang kamu mau." ucapnya melepaskan genggaman tangan Kenzo dan melangkah dengan cepat masuk ke kelas.
"Kok jadi kamu yang marah sih?" ucapnya, tapi dia tidak mengikuti langkah Zana, dia memilih pergi ke kelasnya.
Begitulah mereka semenjak keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, mereka lebih sering berdebat. Zana masuk ke dalam kelas dengan wajah yang cemberut. Dia melempar pelan tasnya ke atas meja. Aji dan Keysa saling menatap melihat Zana.
"Kenapa Zan pagi-pagi udah BT aja?" tanya Aji.
"Kesel gue sama Kenzo bawaannya cemburu mulu, giliran dia deket sama cewek gue ga boleh cemburu." kedua sahabatnya hanya tersenyum mendengar cerita Zana.
"Makanya mending lo sama gue aja, gue bisa jamin lo selalu bahagia disisi gue," canda Aji.
"Ga lucu Panji!!" ucap Zana yang masih kesal. Keysa dan Aji tertawa melihat wajah kesal Zana.
Akhir-akhir ini Zana tidak pernah fokus dalam pelajaran semua karena Kenzo. Selama ini dia selalu mencoba mengerti, tapi Kenzo tidak paham apa keinginannya. Semenjak dia menjadi ketua OSIS dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama anggota setelah sepulang sekolah. Zana selalu saja menunggunya, karena Kenzo tidak memperbolehkannya pulang sendiri.
Begitupun saat Les, Zana selalu menunggu Kenzo yang sering kali telat menjemputnya. Entah sudah berapa kali dia beralasan kalau dia harus rapat. Zana pun sudah tidak mendengarnya. Sejak saat Kenzo selalu telat menjemputnya. Zana memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri.
Tidak terasa bel berbunyi, semua siswa pun segera menuju kantin, karena memang perut yang sudah memanggil.
"Zan, ga ke kantin?" tanya Keysa.
"Kalian duluan aja, gue ga laper," ucapnya.
"Mau dibeliin sesuatu ga?" Zana hanya menggelengkan kepalanya. Akhirnya Keysa dan Aji pun segera ke kantin. Saat di perjalanan menuju kantin, mereka bertemu dengan Kenzo yang juga sedang berjalan ke arah yang sama, bersama teman-teman sambil bercanda.
"Kak, Zana mana?"tanya Kenzo saat dia melihat Aji dan Keysa.
"Dikelas, katanya ga mau makan ga laper." Kenzo yang mendengarnya pamit pada semuanya dan langsung menuju ke kelas kekasihnya.
Zana memilih tidur menelungkupkan wajahnya di atas meja. Saat sampai di kelas Kenzo langsung menghampirinya duduk di samping Zana dan ikut menelungkupkan wajahnya, kini keduanya saling berhadapan. Kenzo terus menatap wajah cantik kekasihnya itu. Dia mentoel hidung Zana dengan telunjuknya, membuat Zana membuka matanya. Dia kaget kenapa Kenzo berada di depannya?
"Ngapain disini?" tanyanya mengangkat wajahnya.
"Nemenin kamu lah, ga makan?"
"Ga nafsu makan." jawabnya singkat.
"Kamu marah?" tanya Kenzo membuat Zana semakin tambah kesal dengannya.
Ni orang ga peka banget sih! gumam Zana dalam hati.
"Maafin aku yank, aku bukan ngelarang kamu berteman dengan siapa pun, cuma aku kesel aja kalau melihat kamu deket sama cowok lain," jelas Kenzo.
"Sama." katanya dengan pelan.
"Apa? tadi kamu ngomong apa?"
"Ya sama, aku juga sama ga suka liat kamu deket sama cewek lain." karena memang banyak cewek yang selalu ingin dekat dengan Kenzo saat dirinya di ruang OSIS. Entah dia sadar atau ga tapi Zana selalu melihat itu.
"Emang kapan aku deket sama cewek?" Kenzo masih saja tidak menyadarinya membuat Zana semakin kesal.
"Tahu, ah." ucap Zana langsung meninggal Kenzo. .
.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMA KASIH SEMUANYA
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA 😘😘