Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Menyalahkan Diri



Saat emosi Kia sudah tenang, Bela dan Satya membawa anaknya ke ruangan tempat Gian dirawat.


“Apapun yang terjadi, kamu harus kuat ya, Nak!” bisik Satya sambil merangkul tubuh lemas anaknya. Kia menguatkan dirinya mengangguk.


Saat sampai di depan ruangan, semua mata tertuju pada Kia. Rani yang sedang duduk pun langsung berdiri dan menghampiri calon menantunya. Keduanya saling berpelukan, sekuat tenang Kia menahan air matanya, karena dia ingin menjadi kuat. Kalau dia menangis, maka dia akan membuat semua orang menangis.


“Bunda, Gian pasti akan baik-baik saja,” bisiknya sambil menepuk pundak calon mertuanya.


“Iya, Sayang. Gian akan baik-baik saja. Apa kamu ingin melihat keadaanya?” tanya Rani sambil melepaskan pelukannya. Kia tersenyum mengangguk.


“... masuklah!” titah Rani. Kia pun perlahan memasuki ruangan.


“Apa dia kuat masuk sendiri?” tanya Raffa pada istrinya.


“Biarkan dia sendiri, Sayang. Aku tahu kalau di gadis yang kuat,” ucap Rani.


Kia sudah memakai atribut medis, dan masuk ke ruangan dimana Giansih terbaring tanpa daya. Langkahnya terhenti saat melihat banyak alat yang menempel pada tubuhnya. Nafasnya yang dibantu oleh alat membuat Kia tanpa terasa meneteskan air matanya.


Dia berjalan perlahan dengan tubuh yang gemetar karena, menahan tangisnya. Dia terus menatap wajah Gian, meluapkan rasa rindunya. Kini air mata sudah tidak bisa terbendung lagi. Air yang terus menetes menggambarkan betapa kecewanya Kia pada dirinya sendiri.


Sejak tadi dia mengutuk dan menyalahkan dirinya dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya. Sambil menggenggam tangan Gian, Kia terus menangis dan sesekali mencium tangannya.


“Sayang, maafkan aku!” kata itulah yang terus menerus terlontar dalam mulutnya. Kia benar-benar merasa bersalah.


'Andai aku tidak memarahinya. Andai aku tidak memaksakan hubungan kita lebih lanjut lagi. Andai aku mengerti apa yang selama ini dia rasakan, mungkin semua ini tidak akan terjadi.'


Kia terus menerus menyalakan dirinya sendiri.


“Sayang, aku janji tidak akan memaksamu untuk menikah. Aku mohon kamu bangun!” ucapnya masih dalam tangisnya.


Kia berfikir kalau Gian merasa berat dengan keinginan Kia yang ingin segera menikah seperti teman-temannya. Padahal sebenarnya Gian sudah siap untuk semua itu, tapi dia belum sempat mengatakannya pada kekasihnya.


Terus menatap wajah kekasihnya membuat Kia menjadi semakin bersalah. Dia merasa, kalau dirinya membawakan sial pada hidup Gian. Sekali lagi Kia mencium tangannya dan kening kekasihnya, “Sayang, maafkan aku. Aku pamit pulang ya!” ucapnya dan melangkah pergi keluar.


“Mami, Papi, aku mau pulang!” ucapnya saat keluar dari ruangan. Tanpa pamit pada semua orang dia melangkah pergi keluar. Semua orang tampak heran dengan sikap Kia. Bella dan Satya pun pamit pada semuanya dan menyusul anak kesayangan mereka.


Selama di mobil Kia hanya diam dan menatap kosong ke arah jendela. Kedua orang tuanya tidak berani menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Sampai di rumah, Kia langsung turun dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia meninggalkan kedua orang tuanya.


“Mi, ada apa dengan anak kita?” tanya Satya.


“Mami juga ga tahu, Pi. Biarkan dia sendiri. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya.”


Saat masuk ke kamar, Kia langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya. Tidak kuat sejak tadi menahan tangis, akhirnya dia menangis sejadi-jadinya di bawah bantal. Hatinya sakit terasa menusuk.


“Ini salah gue, semua karena gue!” ucapnya dalam tangisnya.


“Kenapa harus lo, kenapa?” Kembali dia menyalahkan dirinya sendiri.


...********♥️♥️********...


Bella sudah menyerah menjelaskan ke anaknya kalau ini bukan salahnya. Bukan hanya Bella, tapi kedua orang tua Gian pun sudah berulang kali menjelaskan kalau semua ini terjadi bukan karenanya. Tapi, semua itu nihil. Tidak ada yang berhasil membuat Kia menyalahkan dirinya sendiri.


Untuk makan, Kia juga menolak. Beruntungnya ada Zana yang mau membujuk sahabatnya untuk makan walaupun hanya sedikit. Zana mengancam sahabatnya kalau dirinya juga tidak akan memakan apapun. Kia yang memikirkan bayi yang ada di perut sahabatnya pun luluh. Dia mau makan kalau Zana makan.


Hampir setiap hari Zana menghampirinya. Demi sahabatnya Zana rela melakukan apapun itu. Zana juga merasakan apa yang Kia rasakan. Dia selalu memberikan semangat untuk sahabatnya itu. Walaupun sebenarnya Zana seperti bicara dengan tembok, karena sejak kecelakaan Gian, Kia sama sekali tidak pernah mengeluarkan suaranya.


Kia benar-benar menutup rapat mulutnya. Tidak ada yang bisa mengajaknya bicara walaupun sama sahabatnya sendiri. Tapi itu tidak membuat Zana patah semangat. Setiap hari dia selalu mengajak ngobrol Kia, menceritakan pergerakan bayi yang ada di dalam perutnya dan apapun itu.


Zana akan pulang saat Kia sudah memasukan makanan ke dalam tubuhnya, walaupun itu hanya sedikit saja. Setelah itu, Zana pasti menangis karena melihat sahabatnya jadi seperti itu. Dia pura-pura bahagia dan ceria di depan Kia agar dia menjadi semangat. Tapi, di balik itu, Zana pasti menangis. Hatinya sakit melihatnya. Ingin rasanya dia marah di depan Kia dan bilang kalau itu bukan salahnya. Tapi, Zana memilih memendamnya dan memberikan semangat padanya.


“Udah dong, Yank. Jangan nangis aja! Kasian bayi kita,” ucap Kenzo pada istrinya yang masih menangis saat pulang dari rumah Kia.


“Aku harus bagaimana lagi, Yank. Aku ga bisa harus pura-pura ceria di depan Kia. Hatiku juga sakit melihat mereka seperti ini.” Zana terus menangis dan Kenzo hanya bisa menenangkan istrinya.


“Sayang, kita mampir ke rumah sakit dulu, yuk! Sudah dua hari kita belum melihat keadaan Gian,” ajak Kenzo, dan Zana hanya mengangguk.


Sampai di rumah sakit, Zana dan Kenzo bertemu dengan Rani yang sedang membersihkan Gian dengan lap basah. Gian masih sama seperti awal, tertidur pulas dengan berbagai alat yang ada di tubuhnya.


“Bunda!” tegur Zana. Melihat Zana, Rani tersenyum dan langsung memeluk dirinya.


“Hai, Sayang. Bagaimana keadaan cucu Bunda?” tanyanya sambil mengusap lembut perut besar Zana.


“Baik, Bunda. Bun, Gian bagaimana?” Rani hanya tersenyum dan melirik ke arah sang anak.


“Dia sangat baik. Mungkin sekarang dia sedang lelah, dan ingin tidur sementara. Oh iya ... bagaimana keadaan Kia?” tanya Rani, karena dia tahu kalau keduanya pasti baru pulang dari rumahnya.


“Masih sama,” jawab Zana dengan wajah yang masam.


Kembali Rani memeluk tubuh Zana dan berkata, “Semua akan baik-baik saja dan akan kembali ke sedia kala. Kita sekarang hanya bisa berdoa, dan biar waktu yang menjawab semuanya. Jangan patah semangat untuk terus mendukung Kia ya! Bunda serahkan semua padamu, Sayang.” Zana hanya mengangguk.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen dan Vote seikhlasnya yaaa...


AKU PADAMU SEMUANYA....