Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Rasa Bersalah



Sesampai di rumah, Zana langsung menyiapkan pakaian untuk Kenzo. Selama perjalanan Zana merasa sangat cemas. Apa Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Kenzo? Itulah yang terus dia pikirkannya sejak tadi.


Setelah Kenzo membersihkan dirinya, dia langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa ruang TV. Kenzo berfikir Zana masih mengingat perkataannya yang ingin mempunyai seorang anak, memikirkannya membuat Kenzo merasa bersalah. Dia duduk di samping istrinya dan merangkul tubuhnya.


Zana melihat wajah suaminya dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kenzo. Kenzo tersenyum dan mencium kepala istrinya.


“Sayang, kamu jangan pernah memikirkan keinginanku...! Mendapatkan cinta tulus darimu, Aku sudah sangat bersyukur. Jadi, jangan cemberut kaya gini lagi ya,” ucap Kenzo sambil mencubit kecil hidungnya.


Rasa bersalah Zana semakin besar. Tidak terasa air matanya mengalir dan itu membuat Kenzo merasa heran. Kenzo melepaskan rangkulannya, menarik tubuh Zana sampai menghadap padanya.


“Sayang, kamu kenapa?” Zana tertunduk di dalam tangisnya.


“... Kalau Aku salah, Aku minta maaf sayang. Jadi, please jangan seperti ini. Aku sudah berjanji pada mama, papa, granpa dan keluar besar kita untuk tidak membuatmu menangis,” Kenzo menarik tubuhnya masuk dalam pelukannya.


Tangis Zana semakin menjadi. Kenzo menepuk punggungnya untuk menenangkan emosi istrinya. Zana melepaskan pelukannya, kini dia sudah membulatkan tekad untuk bicara yang sebenarnya pada Kenzo. Zana berdiri berjalan ke kamar untuk mengambil pil KB yang selama ini di minumnya.


Zana menyerahkan obat itu pada Kenzo dan membuatnya heran tidak mengerti.


“Ini apa?” katanya sambil melihat obat yang ada di tangannya.


“Maafin Aku Bang, selama 7 bulan ini aku meminum obat itu,”


“Kamu sakit apa? Mending kita cek dulu ke Dokter sayang,” ucap Kenzo cemas.


“Bukan sakit Bang, tapi Aku minum obat KB,” ucapnya tertunduk merasa bersalah. Kenzo yang mendengarnya langsung lemas dan menjatuhkan obat yang di pegang nya.


Zana terus meminta maaf pada suaminya. Kenzo masih belum bisa mencerna apa yang di katakan Zana padanya. Dia hanya diam, sambil menunduk. Tangis Zana semakin menjadi, tak henti-hentinya dia mengucap kata penyesalan pada suaminya.


“Bang, jangan marah, please...!” ucapnya terisak dalam tangis.


“Kenapa?” Satu kata tanya yang mempunyai sejuta jawaban.


“Aku takut kalau kamu belum mau menginginkan seorang anak, aku takut, aku tidak bisa mengurusnya sendiri, aku ... ” Kenzo langsung memeluk tubuh istrinya. Mendapat pelukan dari sang suami Zana tersenyum dalam tangisnya dan menyambut pelukan suaminya.


Kenzo terus memeluk tubuhnya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Dia memasukan wajahnya ke dalam leher Zana. Zana tau saat ini pasti suaminya sangat terpukul dengan kecerobohan keputusan yang telah di ambilnya. Dan dia pun berusaha menenangkan Kenzo menepuk punggungnya.


“Sayang, aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Dan setelah aku menikahimu, aku sudah siap dengan apa yang terjadi sekarang atau di masa depan, termasuk mempunyai anak darimu. Aku tau, umurku masih sangat muda, tapi aku bisa jamin kamu dan anakku kelak akan bahagia bersamaku. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan ini ya...”


Zana kembali meneteskan air matanya. Bukan cacian yang di berikan suaminya dan itu membuat Zana semakin merasa bersalah dengan kebodohannya. Kenzo melepaskan pelukannya, mengelap air mata yang jatuh di pipi istrinya. Kenzo melemparkan senyumannya. Terlihat mata sembabnya dan susah bisa di pastikan Kenzo juga mengeluarkan air matanya.


“Maaf Bang, Maafin aku!”


“Sudah sayang, jangan menangis! Kita mulai dari awal lagi ya,” Zana pun mengangguk.


**♥️♥️**


Sudah beberapa hari ini, Kia tidak mau bertemu dengan Gian. Dirinya kesal dengan kekasihnya itu yang selalu mengekang pergaulannya bersama teman-teman. Kia selalu saja menghindar di sekolah maupun di rumah.


Kedua orang tua hanya bisa menasehati Nia agar tidak bersikap egois. Tapi, apa yang di katakan gadis cantik itu? Katanya, Gian lebih egois dari dirinya. Bela hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap keras kepala anaknya. Tapi, Gian tidak mau menyerah, setiap hari dia selalu menjemput Kia sebelum berangkat sekolah walaupun pada akhirnya Nia hanya mau di antar oleh ayahnya.


Saat di sekolah, Gian selalu menghampiri kelasnya, tapi tidak sama sekali di hiraukan oleh Kia. Dia hanya menatap sinis pada Gian dan berjalan bersama teman-teman, melewati Gian yang sudah sejak tadi menunggunya di depan kelasnya.


Yuri, Zacky dan Galen yang melihatnya pun merasa sedih. Sudah berapa kali mereka coba membantu Gian untuk mendekati Kia tapi, selalu saja gagal. Gian benar-benar merasa bersalah dengan sikap posesif dia selama ini. Itu di karenakan Gian tidak menyukai Kia dekat dengan pria lain selain dirinya.


Seperti Zana, kini Kia menjadi idola di sekolahnya. Banyak sekali pria yang menyatakan cinta padanya, tapi Kia menolak mereka semua karena cintanya pada Gian. Tapi, apa balasan dari Gian padanya? Dia membatasi pergaulan Kia walaupun itu sesama wanita. Untuk awal-awal oke, Kia bisa menerimanya karena mungkin Gian menunjukan rasa sayang dan cintanya padanya.


Lama-kelamaan Kia tidak tahan dengan sikap Gian. Setiap hari posesifnya semakin bertambah. Kia sama sekali tidak boleh berteman dengan siapapun dan itu membuat dirinya merasa terkekang. Sudah 1 minggu ini Kia memohon pada Gian untuk menjauhinya dan saling introspeksi diri masing-masing. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, Kia hanya ingin memberi pelajaran pada Gian, bahwa hidup itu harus bersosialisasi dan mempunyai banyak teman.


Sedih memang dengan apa yang di lakukannya. Kia selalu menangis di dalam mobil saat melihat usaha Gian yang menjemputnya tapi, tidak di hiraukan olehnya. Satya yang melihat sang anak hanya bisa menyemangati anaknya dan berharap masalah mereka cepat selesai.


Setiap malam Gian selalu mengirimkan pesan singkat untuk Kia, mengungkapkan rasa bersalahnya dan permohonan maafnya. Kia yang membacanya menangis, sebenarnya dia juga tidak ingin melakukan ini, tapi kalau tidak seperti ini, Gian tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Dan Kia berharap Gian akan berubah dengan sikapnya seperti ini.


.


.


.


.


.


~*Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaa...


Terimakasih 😘😘*