Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Menyudahi Rindu



Sepertinya Zana benar-benar tidur nyenyak, Kenzo yang tidak tega membangunkan istrinya langsung berbaring disisinya sambil mengusap-usap rambut Zana yang wangi. Belum fajar, Kenzo sudah bangun dan mandi, rasa rindu membuatnya ingin memanjakan istrinya yang masih terlelap itu.


Kenzo membuatkan segelas penuh susu hangat dangan gelas tinggi tak bertangan yang dibawanya dengan nampan bundar, dan saat Kenzo masuk ke dalam kamar dilihatnya Zana yang mengerjap sadar sambil mengusap matanya.


“Abang kapan pulang?” tanya Zana tersenyum haru.


“Selamat pagi, Sayang. Last night I dreamt that you were mine, but then I woke up to you by my side and realized that it was not a dream. You are already mine as my wife,” balas Kenzo.


[Tadi malam aku bermimpi bahwa kamu adalah milikku, tetapi kemudian aku bangun kamu ada disisiku, dan menyadari bahwa itu bukan mimpi. Kamu sudah menjadi milik aku sebagai istriku.]


“Emmmmm ... So sweet, mau peluk!” pinta Zana.


“Minum susu dulu, Sayang!” Kenzo membantu Zana yang masih berat untuk duduk sandaran.


Zana meminum susu yang disuguhkan padanya dengan satu tegukan yang panjang hingga menghabiskan setengah gelas.


“Abang mau biscuit,” pinta Zana


“Yah tadi sudah dicari di dalam kulkas ga ada, apa abang belanja dulu aja ya?” tanya Kenzo.


“Emmm ... ga usah Bang, lagian subuh gini mana ada toko yang buka,” jawab Zana sambil mengerutkan dahi.


“Ada lo Sayang, toko Cina, 'kan orang Cina udah buka toko pagi-pagi gini,” balas Kenzo.


“Ya kali mau belanja ke toko Cina, emangnya mau beli ciki-ciki untuk warung, Abang di sini aja peluk!” pinta Zana manja.


Akhirnya mereka berpelukan sejenak, Kenzo naik ke atas kasur lalu duduk pada sandaran Kasur, sedangkan Zana yang masih berat menidurkan kepalanya di atas paha Kenzo. Mereka bertatap-tatapan menyudahi rindu yang menjadi candu, dan berakhir dengan usapan lembut jemarinya yang mendarat di pipi Zana.


Penghabisan waktu yang mendebarkan itu terasa begitu cepat berlalu hingga cahaya metahari temaram muncul di ufuk timur dengan cakrawala merah muda yang mempesona.


Pukul 07.00 pagi sarapan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga, di meja makan itu ada nasi goreng, roti tawar, dan beberapa jenis buah yang segar. Kecuali Rei, semua anggota keluarga yang sudah bersiap untuk bersantap itu terkejut melihat Zana keluar bersama Kenzo.


“Abang kapan sampainya? Tahu-tahu sudah nempel aja sama kakak macam prangko,” tanya Tristan.


“Abang sampai tengah malam Pa,” sahut Rei.


“Selamat pagi Pa, Ma. Maaf abang gak sempat kasih kabar, ya niatnya dari awal memang mau kasih kejutan juga,” jawab Kenzo.


“Kasih kejutan ya kejutan bang, tapi 'kan bahaya juga tengah malam naik taxi,” keluh Zana sambil menarik kursi makan kesisi luar untuk suaminya.


“Sudah-sudah yang penting sekarang keluarga kita sudah kumpul semua, ayo sekarang makan dulu,” ujar Putri.


“Tetap saja aku kesal Ma, udah seharian ga ada kabar, eh tiba-tiba leading tengah malam. Bukannya minta jemput malah naik taxi, kadang-kadang kakak ga ngerti sama jalan pikirannya abang nih,” kesal Zana.


“Noh lihat kakakmu Rei, di sini ngomel-ngomel mulu, padahal dikamar tadi manjanya kebangetan dah,” balas Kenzo sambil tertawa.


“Ish abang ah,” timpal Zana sambil mengembungkan pipi.


“Hahaha. Iya, yaudah maaf, makan yuk! ayok Ma. Pa!” ujar Kenzo.


Akhirnya sarapan pagi yang menghangatkan itu berlangsung dengan singkat tak lupa canda tawa ikut menghiasi di dalamnya, hingga di meja makan hanya menyisahkan Zana dan Kenzo saja yang masih berbincang-bincang.


Zana heran lagi-lagi lagu Isabella yang sudah sejak tadi subuh didengarnya kembali dinyanyikan oleh Kenzo dengan nada yang samar, dan pada setiap lirik yang sepertinya dia lupa Kenzo hanya menggantinya dengan suara na-na-na-na-na, nananana. Kenzo terus saja bernyanyi sambil mengupas kulit jeruk yang kemudian jeruk itu akan disuapkannya kepada Zana.


“Isabella adalah kisah cinta dua dunia, mengapa kita berjumpa namun akhirnya berpisah,” senandung Kenzo.


“Abang 'kan baru pulang dari Singapura ya, lagu Isabella 'kan lagu orang Malaysia lah bang. Sejak kapan pula abang pandai nyanyi lagu itu, macam tak betul ni abang,” ujar Zana dengan logat Malaysia.


“Lah iya juga ya, abang tadi malam denger lagu itu di taxi, tau tuh sampai sekarang pengen nyanyi aja rasanya, lah kamu sejak kapan bisa Bahasa Malaysia, yank?”tanya Kenzo heran.


“Sejak nonton Upin dan Ipan bang, hehe. Tapi sebentar bang, abang 'kan kayak terhipnotis tuh tiba-tiba nyanyi aja terus, jangan-jangan!” ucap Zana yanh membuat Kenzo penasaran.


“Jangan-jangan sopirnya Master Romi Rafael bang, bisa aja 'kan bang, Nothing is imposible gitu,”ujar Zana sambil mengunyah jeruk yang disuapkan dari tangan suaminya itu.


“Halah kamu yank ... yank, canda ini mah canda … abang udah serius juga,” balas Kenzo sambil mengerenyitkan mata sebelah kirinya.


Tidak lama setelah perbicangan panjang antara suami istri itu tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.


Tok ... Tok ...Tok ....


“Bang, bang, sepertinya itu instruktur yoga yang aku panggil tadi malam,” ujar Zana sambil berjalan kedepan pintu diikuti oleh Kenzo.


“Ya sebentar,”jawab Zana sambil membukakan pintu.


“Selamat pagi mbak Zan, bisa kita mulai yoganya?” tanya instruktur yoga itu.


“Iya bisa mbak, kalau boleh sih di sini aja, sekalian menghirup udara segar,” jawab Zana.


“Ini lo bang, di usia kehamilanku sekarang penting untuk melakukan yoga dengan gerakan-gerakan ibu hamil,” ujar Zana pada suaminya.


“Ya udah, kamu yoga aja dulu yang, aku kedalam dulu ya,” balas Kenzo mencoba ingin kabur.


Melihat gelagat itu Zana langsung menggamit lengan Kenzo, lalu menariknya keluar sampai keteras rumah. Kenzo mengikuti tarikan itu dengan uring-uringan.


“Jadi kamu tega bang ninggalin aku yoga sendirian?” cetus Zana.


“Sayang, bukan gitu, masa iya aku ikut yoga untuk ibu hamil yank,” keluh Kenzo.


“Ga papa kok Mas, gerakannya simple kok, manfaatnya ada banyak, selain mempersiapkan pinggul untuk proses melahirakan, gerakannya juga bagus untuk mengurangi sakit pinggang,”ujar instruktur yoga itu.


“Tuh 'kan bang bagus, ayo sekarang abang duduk disitu,” sahut Zana sambil menunjuk sisi kirinya yang sudah tersedia matras.


Mengingat usia kehamilan yang sudah berada di fase-fase akhir, sihingga gerakan yang dipandu juga hanyalah berupa latihan dasar panggul yang dimana gerakan itu hanya memfokuskan pada persiapan kelahiran saja. Namun meski begitu latihan pernafasan dan relaksasi tetap dilakukan agar Zana tetap relaks menghadapi hari kelahiran. Hingga sesi latihan dengan durasi 60 menit akhirnya selesai.


“Bang, aku mandi dulu ya! abang temenin papa gih, papa juga kagen tau, ajak main catur atau apa gitu,”ujar Zana.


“Iya sayang, tapi aku keluar beli biscuit dulu ya,”jawab Kenzo.


“Ih ... suamiku ini masih inget aja, abang itu best husband di kota ini,” ujar Zana gemas.


“Iya donk siapa dulu … calon papa, 'kan untuk baby kita juga yank,” jawab Kenzo menyeringai.


“Ya udah berangkat gih! hati-hati dijalan, cepet pulang ya.”


Kenzo segera mengeluarkan mobil lalu melaju menuju toserba terdekat.


“Huftt, ampun ni istriku, harus buru-buru nih nanti dia ngomel-ngomel lagi.” gumam Kenzo.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya 🤤♥️