
Setelah liburan bersama, sepasang pengantin baru itu langsung menyiapkan barang-barang yang akan di bawa keduanya untuk tinggal di Singapura. Tinggal beberapa hari lagi keduanya berada di Indonesia. Dan itu membuat para orang tua dan para sahabat menikmati waktu-waktu kebersamaan mereka.
Berkas-berkas kuliah Zana pun sudah sudah lengkap, tinggal menunggu keberangkatan. Dua hari sebelum keberangkatan keduanya, mereka habiskan dengan kebersamaan bersama teman dan keluarga. Dan hari ini, adalah hari keduanya berkumpul bersama teman-temannya.
Sahabat Zana dan juga sahabat dari Kenzo sudah berkumpul di kediaman kedua orang tua Zana. Aji sengaja pulang ke Jakarta untuk berkumpul bersama para sahabatnya. Suasana kala itu ramai, mereka berkumpul di halaman belakang sambil menunggu pemeran utamanya datang. Karena, pengantin baru itu masih dalam perjalanan dari rumah kedua orang tua Kenzo.
“Duh, kemana aja sih kalian? sampai tamu lebih dulu dateng dari tuan rumah.” Sindir Keysa, saat keduanya datang menghampiri mereka.
“Lo, kaya ga tahu aja pengantin baru aja,” Canda Kenzo.
“Udah deh, jangan mulai kita yang jomblo kan baper.” ucap Kia, mengundang tawa.
Kania, Aji, Icha, Yuri, Galen dan tidak lupa ke-tiga serangkai adik angkat kedua meramaikan suasana. Sudah lama mereka tidak berkumpul dan tertawa lepas seperti itu. Tapi, sayangnya kebersamaan seperti ini akan sangat jarang sekali terjadi. Mereka benar-benar menikmati waktu bersama.
Setelah menyantap berbagai macam cemilan, para remaja itu tidak lupa mengabadikan momen-momen yang akan sangat jarang terjadi ini. Berbagai macam gaya sudah mereka lakukan. Seketika suasana hening saat Zana mulai tertunduk dan meneteskan air matanya.
Para wanita yang melihat Zana menangis, langsung menghampirinya dan memeluk tubuhnya. Kali ini bukan hanya Zana yang menangis tapi, semuanya pun ikut menangis, termasuk para lelaki mereka, tertunduk mencoba menahan air mata mereka.
“Jangan pernah lupain gue!” ucap Zana sela-sela tangisnya.
“Siapa yang berani lupain lo? dia harus bikin perhitungan sama gue!” lanjut Keysa, yang masih memeluk erat tubuh sahabat yang sudah hampir lima tahun ini selalu berada didekatnya. Mendengar perkataan Keysa membuat Zana tertawa dalam tangisnya.
“Udah donk, jangan sedih lagi! kita kan mau senang-senang sekarang,” lanjut Icha, sambil mengelap air mata Zana yang terus mengalir. Zana mengangguk tersenyum.
“Bro, ingat jangan pernah bikin Zana menangis, kalau itu terjadi, Gue siap jadi pembinor dalam rumah tangga lo," Ancam Aji pada Kenzo mencairkan suasana haru menjadi tawa. Kenzo yang mendengarnya mendelik kesal sedangkan yang lainnya tertawa puas.
“Langkahin dulu mayat gue!!” ucapnya dengan sangat Kesal, lagi-lagi mereka tertawa melihat Kenzo yang masih saja cemburu pada Aji. Sedangkan Aji, sangat puas selalu mengerjai suami dari sahabatnya itu.
Tidak terasa, waktu sudah larut. Dan itu artinya waktu mereka berkumpul pun selesai karena, mereka harus kembali ke rumah masing-masing. Satu-persatu dari mereka memberikan pelukan dan kata-kata perpisahan untuk keduanya. Lagi-lagi suasana ini menjadi suasana haru. Zana tidak bisa menahan air matanya yang terus memaksa untuk mengalir di pipinya.
“Bro, titip pujaan hati gue ya, jangan biarin doi kelaparan disana,” bisik Aji, dalam pelukannya bersama Kenzo. Dia yang mendengarnya langsung mendorong tubuhnya sampai tubuh Aji mundur beberapa langkah kebelakang. Semua heran melihat keduanya, sedangkan Aji tertawa puas melihat wajah serius Kenzo. Dia pun kembali menghampiri Kenzo dan memeluk kembali tubuhnya.
“Maafin gue, Bro. Gue berharap lo selalu bahagia bersama Zana.” Ucapnya sambil menepuk bahu Kenzo. Kenzo pun membalas pelukannya.
“Thanks Bro, gue juga doain lo agar cepat-cepat mendapatkan pasangan hidup.” Ucap Kenzo. Sahabat yang lainnya tersenyum haru melihat keduanya yang tiba-tiba menjadi akur kerena, biasanya kedua laki-laki itu selalu saja berdebat ketika bertemu.
Kali ini, giliran Aji yang berhadapan dengan Zana untuk mengucapkan kata-kata perpisahan.
“Cih, masih aja ya lo manas-manasin laki gue. Gue ga akan pernah lupa sama lo, makasih ya selama ini lo udah menjadi sahabat yang terbaik buat gue.” Aji tersenyum, dia pun mendekat pada Zana.
Sebelum pelukan terjadi, Kenzo dengan sigap berdiri di depan Zana dan Al-hasil tubuh Kenzo lah yang di peluk oleh Aji. Kenzo bisa membiarkan Aji untuk bicara sesuka hatinya tapi, dia tidak bisa membiarkan tubuh istrinya di peluk oleh laki-laki yang masih mengharap cinta dari istrinya.
Semua orang yang melihatnya tertawa puas melihat kelakukan dua laki-laki itu. Walaupun tubuh Kenzo yang di peluk oleh Aji, tidak membuat dirinya melepaskan pelukannya. Kenzo berusaha melepaskan pelukan itu tapi, tidak bisa karena, Aji semakin mempererat pelukannya.
“Gila, gue masih normal woy!!” teriak Kenzo.
“Lo sendiri yang mau di peluk sama gue, ya udah dengan senang hati gue peluk lo terus,” candanya, dan melepaskan pelukannya.
“Sesak nafas gue.” kesal Kenzo dan langsung merangkul istrinya karena, takut di serang oleh Aji. Tawa pecah kala itu dan mereka tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi hari ini.
“Semoga persahabatan kita akan terus berlanjut ya, seperti persahabatan orang tua gue dan Kenzo. Aku berharap kita selalu seperti ini selamanya dan tunggu aku dan Kenzo kumpul kembali di Indonesia empat tahun lagi ya.” Kata-kata Zana menjadi penutup pertemuan mereka. Kembali mereka pun saling berpelukan, kali ini sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir, melainkan senyuman lebar yang terukir di setiap wajah mereka.
.
.
.
.
.
Terimakasih semuanya yang setia menunggu up novel ini. Maaf yaa akhir-akhir ini Author lagi merevisi novel ini jadi, sedikit menghambat melanjutkan ceritanya...
.
.
.
Jangan lupa like dan komen ya...
Buat Readers yang tersayang, bantu Author donk dengan cara vote sebanyak-banyaknya. Semoga poin yang kalian berikan akan di balas berlipat ganda...