Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Hari H



Semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Zana sejak subuh sudah bangun dan bisa dipastikan kalau dia hanya tidur sekitar tiga jam. Jantungnya berdetak kencang, karena sebentar lagi dia akan merubah statusnya menjadi seorang istri. Sedangkan Kenzo dia lebih santai dan masih terlelap dalam tidurnya.


Setelah pergi membersihkan diri, para tim makeup sudah berkumpul dan menunggunya keluar dari kamar mandi. Sentuhan halus dari aneka alat makeup di wajah Zana sudah gunakan. Jari jemari para tim dimainkan di atas lembutnya kulit sang pengantin. Disisi lain Kenzo yang baru saja bangun dari tidurnya langsung menelepon bagian WO tentang persiapan keseluruhan di Gedung pernikahan yang cukup besar dan mewah di kota Jakarta.


Karena kali ini Granpa Rio yang mengatur acara pernikahan mereka, maka walaupun mendadak tamu yang di undang pun tidak tanggung-tanggung hampir 1500 undangan. Bak pernikahan anak presiden semua kalangan di undang dari artis ibu kota, anggota DPR yang menjadi rekan bisnis dari Rio, juga walikota Jakarta pun turut di undang.


Bintang tamunya juga para artis papan atas. Sebenarnya Kenzo sudah mengatur semuanya dengan sederhana, tapi terkesan mewah. Tapi, tiga hari sebelum hari H, Rio mengubah semuanya dan menyusunnya dari awal, pihak WO pun mau tidak mau harus menuruti perintah dari sang kakek, karena katanya kalau tidak sesuai dengan yang dia inginkan jangan harap pernikahan akan terlaksana.


Walaupun perubahan rencana yang mendadak, memang dasar tim WO yang sudah cukup profesional, semua berjalan dengan mulus dan lancar. Keinginan dari Rio dipenuhi oleh mereka, karena memang Rio berani mengeluarkan kocek yang cukup banyak untuk acara cucu pertamanya.


Hampir seluruh gedung di hiasi bunga hidup sesuai permintaan sang kakek, dan dekorasi yang mewah dengan banyak lampu-lampu ditiap pojok gedung itu. Pihak keluarga Kenzo yang pagi ini datang ke gedung untuk melihat persiapannya pun terpana kagum dengan mewahnya dekorasi gedung itu.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, itu berarti satu jam lagi prosesi sakral akan di mulai. Zana sudah siap dengan gaun pengantin panjang berwarna putih dengan desain modern mewah, rambut yang di gelung membentuk bunga dengan aksesoris mahkota kecil yang mengkilap, membuat dirinya benar-benar terlihat seperti seorang ratu kerajaan.


Seluruh keluarga Zana sudah bersiap dan berangkat ke gedung tempat di laksanakannya pernikahan mereka. Enam mobil mewah berjejer di belakang mobil patroli yang mengiring mereka. Sesampai di gedung semua yg melihatnya terpana termasuk Zana sendiri. Dia tidak menyangka kalau pernikahannya akan semewah ini. Zana pun dituntun oleh tim makeupnya untuk masuk ke dalam ruangan tunggu pengantin yang sudah disiapkan pihak WO.


Para sahabat Zana yang lebih dulu tiba di sana, langsung menghampiri dirinya di ruangan. Semuanya terpana melihat kecantikan dari sahabatnya itu. Aji yang melihatnya pun bergetar hatinya, andai aku bisa menariknya kabur keluar dari sini ucapnya dalam hati, karena memang sampai saat ini Aji masih sangat mencintai Zana.


"Mingkem woy, nanti iler lo ngalir." canda Keysa pada sahabat lelakinya itu, semua yang melihatnya menertawakan mereka.


"Sial lo malu-maluin aja," ucap Aji yang kesal.


"Ya, habis lo ngelihatin Zana gitu banget kaya kucing yang lihat ikan asin tau ga,"


"Siapa sih yang ga terpana liat seorang putri cantik?" goda Aji membuat kedua pipinya merah merona.


Mereka pun mengisi waktu-waktu sebelum prosesi pernikahan dimulai, dengan candaan yang membuat Zana sedikit hilang rasa gugupnya. Pihak panitia WO memasuki ruangan dan meminta Zana untuk segera bersiap. Kia dan Nia yang bertugas menuntun Zana keluar, ikut bersiap berdiri di samping dirinya.


"Zana fighting." ucap Icha dan Keysa, Zana mengepalkan tangannya tersenyum. Kia memegang tangan sebelah kanan dan Nia tangan sebelah kiri berjalan perlahan keluar. Sudah ada beberapa tamu yang datang dan juga para keluarga yang berkumpul untuk menyaksikan prosesi sakral pernikahan keduanya.


Kenzo berdiri menyambut Zana menatapnya sambil tersenyum lebar. Sayang betapa cantiknya kamu hari ini, ucapnya dalam hati. Kia menyerahkan tangan Zana pada Kenzo dan keduanya duduk menghadap penghulu dan para saksi. Kenzo perlahan menyebutkan ijab Kabul, dan setelah selesai semua berteriak SAH. Zana mencium punggung tangan lelaki yang kini jadi sah jadi suaminya.


Setelah mengganti pakaian yang berwarna biru silver, keduanya berjalan ke atas pelaminan. Semua mata tertuju pada pasangan muda itu sambil bertepuk tangan meramaikan suasana. Para undangan pun mulai berbaris untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Suasana kembali ramai saat Keysa naik ke atas panggung menyumbangkan suara emasnya. Para teman-teman satu SMA-nya dulu bersorak dan ikut sesekali bernyanyi.


Semua orang sedang menikmati sajian makanan yang sudah tersedia, begitupun kedua mempelai. Keduanya istirahat ditempat yang sudah disiapkan panitia WO untuk menyantap makan siang.


"Yank, pegel ga kakinya?" tanya Kenzo yang merasa khawatir dengan sang istri, karena dia berdiri lama menggunakan hills.


"Iya sayang, banget." keluh Zana. Kenzo megangkat kaki Zana di atas pangkuan kakinya dan memijitnya perlahan. Zana sedikit kaget dan ingin menurunkan kakinya, tapi Kenzo menahannya.


"Sayang, malu kalau ada yang lihat," ucap Zana sambil melirik sekitar.


"Ga akan sayang, 'kan ketutup meja, udah sini sama aku di pijitin biar kakinya ga terlalu pegel." Kenzo melanjutkan memijit kakinya, dan Zana pun menikmatinya, karena memang tidak di pungkiri kalau dirinya merasa pegal.


Acara kembali berlanjut, kini kedua mempelai berdansa di tengah-tengah para undangan. Tidak sedikit dari mereka pun ikut berdansa, termasuk para orang tua dan kakek nenek keduanya. Benar-benar hari yang sangat membahagiakan untuk semua orang. Kenzo bersyukur kalau acara pernikahannya membawa kebahagiaan untuk semua orang.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


terimakasih


jangan lupa like dan komen 😘