Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Berita Duka



Seperti biasa pasangan muda ini berpisah di depan gerbang kampus. Keduanya pun berjalan ke arah yang berbeda. Bak seperti kekasih yang akan berpisah lama, keduanya berjalan mundur dan terus melambaikan tangan. Keduanya saling melempar senyuman saat langkah mereka memisahkan keduanya.


Hari ini entah kenapa perasaan Zana sangat tidak enak. Dia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Terkadang hatinya sakit menusuk tidak menentu. Zana menyembunyikan apa yang dirasanya pada suaminya, karena takut suaminya akan merasa sangat cemas. Memang Kenzo sangat berlebihan dengan apa yang terjadi dengan istrinya. Apapun itu, dia akan sangat panik dan merasa tidak becus menjadi suami. Hal itulah yang tidak ingin Zana lihat hari ini.


Selama kelas tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam otaknya. Dia merasa sangat khawatir, tapi entah apa yang dia khawatirkan. Kelas pun selesai, Zana langsung meraih ponsel yang ada di dalam tasnya dan memencet nomer suaminya.


“Ya sayang, ada apa? Aku masih di dalam kelas, nanti aku telepon kamu balik ya ... Love you.” bisik Kenzo dan langsung menutup ponselnya.


Sambil menarik nafas dalam, Zana berjalan menuju taman kampus tempat dirinya dan Kenzo bertemu. Sambil menunggunya, Zana memainkan ponselnya.


Mama : “Sayang, apa Mama bisa meneleponmu?”


Mendapat pesan singkat dari mamanya, Zana dengan cepat menelepon duluan. Putri langsung mengangkat telepon anakerdengar suara sangat ramai di seberang sana dan itu membuat Zana merasa khawatir.


Zana :“Halo Mam, ada apa?” bukan jawaban yang dia dapat dari Mamanya melainkan suara isak tangis yang seketika membuat jantung Zana berdebar dengan sangat kencang.


*Zana :“Mama, ada apa? Kenapa Mama menangis?”


Putri :“Sayang, bisakah hari ini kamu dan Kenzo pulang ke Indonesia? Granpa dan Granma ....”


Zana :“Ada apa dengan mereka, Ma*?” tangis Putri semakin menjadi. Melihat istrinya yang masih menangis, Tristan dengan cepat mengambil alih ponselnya.


Tristan :“Sayang, mereka mengalami kecelakaan dan sekarang keadaan mereka sedang kritis. Pulanglah! kami menunggumu.” Tristan mematikan ponselnya karena tiba-tiba tubuh istrinya jatuh dan tidak sadarkan diri.


Mendengar berita duka dari kedua orang tuanya, Zana langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia secara online. Dia langsung berlari pulang ke apartemennya untuk menyiapkan segala keperluan dirinya juga suaminya. Zana lupa memberi tahu suaminya. Setelah siap semuanya baru dia sadar kalau Kenzo belum mengetahui beritanya.


Penerbangan pesawat mereka masih 3 jam lagi. Zana segera memberikan kabar pada suaminya. Kenzo yang mendapat kabar dari sang istri, segera meminta izin pada dosen yang ada di kelasnya dan berlari menuju apartemennya. Melihat suaminya, entah kenapa air mata Zana langsung mengalir. Kenzo memeluk tubuh istrinya, menepuk pundaknya.


“Sabar sayang, Mereka pasti akan baik-baik saja,” Zana mengangguk, pelukannya semakin erat.


**♥️♥️**


Tristan sangat khawatir dengan kondisi kedua mertuanya. Terlebih lagi istrinya yang sejak tadi jatuh pingsan saat pertama mengetahui keadaan kedua orang tuanya. Para sahabat Putri dan kedua mertuanya sudah berkumpul di Rumah Sakit, untuk mengetahui kabar dari orang tuanya.


Kedua orang tua Putri mengalami kecelakaan beruntun di Tol dalam kota. Keduanya baru pulang dari Bandara menuju kediaman mereka. Tidak disangka mobil bis mini dengan kecepatan tinggi yang hilang kendali, karena remnya yang blong menabrak mobil keduanya. Alhasil mobil mereka terseret hingga beberapa meter dengan kondisi mobil yang sangat parah. Kedua terjepit di dalam mobil dan Supirnya yang baru saja bekerja di keluarga Agatha meninggal dunia di tempat kejadian.


Saat pertama kali mendengar kabar kedua orang tuanya kecelakaan, Putri langsung pingsan. Dan itu terjadi setelah beberapa kali dia sadarkan diri. Wajar saja, keluarga Putri hanya mereka berdua dan dia tidak siap untuk kehilangan kedua orang yang paling sayangi.


Tristan masih menunggu istrinya sadar di ruang UGD, sedangkan yang lainnya berkumpul di depan ruangan Rio juga Kirana. Tim Dokter keluar dari ruangan mereka, Arta dan Lesti segera berdiri dan menanyakan kabar besan mereka. Dokter meminta maaf karena nyawa keduanya tidak bisa tertolong. Kini Lesti yang jatuh pingsan mendengar berita yang disampaikan oleh dokter. Dengan cepat Raffa dan juga Romi mengangkat Ibu dari Tristan dan membawanya ke ruang UGD.


Tristan merasa kaget melihat Bundanya yang juga jatuh pingsan. Setelah mendengar kabar dari para sahabatnya, Tristan sebagai menantunya merasa sangat terpukul. Dia jongkok dan menangis, kedua sahabatnya menghampirinya dan memberikan semangat padanya.


“Bro, Lo harus kuat!” ucap Rafa merangkul bahunya.


Arta mengurus semua surat-surat pengurusan jenazah. Walaupun dia juga cukup terpukul, tapi dia mencoba tegar untuk menantu juga istrinya. Putri pun mulai sadarkan dirinya. Tristan, Raka dan Romi menghampiri dirinya. Putri merasa heran kenapa dia bisa berada di sini. Dia juga semakin penasaran melihat Bunda yang juga berada di sebelahnya tidak sadarkan diri.


“Bunda, kenapa?” tanya Putri pada suaminya. Tristan tidak bisa menahan kesedihannya. Dia tertunduk dan menangis, kedua sahabatnya merangkul Tristan agar dia menjadi kuat.


“ ... Ada apa ini? Daddy dan Momy baik-baik aja kan?” Putri mulai menjatuhkan air matanya. Dia berharap pikirannya tentang kedua orang tuanya itu benar. Rafa menghampiri sahabat kecilnya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


“Put, Lo harus kuat ya! mereka sudah meninggal dunia,” tangis Putri semakin menjadi.


“Lo bohong Fa, ga mungkin ... ini ga mungkin!!” Putri memukul dada Rafa, tidak percaya apa yang di ucapkan sahabatnya. Suasana di sana penuh dengan tangis. Lesti pun sadar dari pingsannya. Tristan segera menghampiri Bundanya dan memeluknya.


**♥️♥️♥️**


Semuanya sudah siap untuk membawa jenazah pulang ke rumah duka. Dua buah ambulans siap mengangkut jenazah kedua orang tua Putri. Sejak Tadi Putri tak henti-hentinya menangis di pelukan suaminya.


“Yank, aku sendiri. Sekarang aku benar-benar sendiri.” ucapnya dalam tangisnya.


“Sayang, kamu ada aku, ada Bunda dan Ayah dan juga ada anak-anak dan menantu kita. Sahabat-sahabat kamu juga selalu ada di sisi kamu. Sayang, semua ini sudah kehendak Tuhan. Ini adalah jalan yang sudah di atur oleh-Nya. Manusia hanya bisa pasrah. Kamu kuat sayang dan pastinya ada aku yang selalu disisi kamu.” Putri mempererat pelukannya dan Tristan mencium kening istrinya.


Tristan tau apa yang dirasakan oleh istrinya, karena dia pun merasakan hal yang sama. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga untuk tegar di hadapan istrinya.


Sayang, aku tahu kamu wanita yang kuat. Aku janji akan selalu ada di samping kamu selamanya hingga maut memisahkan kita.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya...


Bagi yang ingin memberikan tip buat Author juga boleh bangeet..


Terimakasih semuanya.....