
Zana dan Kenzo akhirnya menginjakkan kaki mereka di Indonesia. Tidak ada ucapan sambutan selamat datang untuk kepulangan mereka kali ini, Karena semua orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman dari kedua orang tua dari Putri. Kenzo mencegat taxi yang ada di depan bandara dan mereka pun langsung menuju ke Rumah kakek dan neneknya Zana.
Selama perjalanan hati Zana semakin tidak tenang. Keluarga belum memberitahukan kalau mereka telah meninggal dunia. Kenzo berusaha menenangkan istrinya, dia merangkul Zana dan sesekali mencium keningnya.
Sampai di kediaman Agatha. Kaki Zana seketika merasa gemetaran, saat melihat bendera kuning yang berada di depan rumah kakek dan neneknya. Dia tidak percaya, Zana pun berlari masuk ke dalam. Saat sampai di depan pintu, kaki Zana seketika melemas, untung saja suaminya dengan sigap menahan tubuh istrinya.
Tristan membantu Kenzo menuntun Zana untuk masuk ke dalam. Zana masih terlihat kaget. Tidak ada satupun air mata yang keluar dari matanya. Dia hanya diam terpaku melihat jenazah kedua orang sangat dia sayangi berada di depannya. Kenzo mengambil teh manis hangat untuk sang istri, tapi Zana tidak memperdulikan siapapun yang mengajak bicara dirinya.
Putri sendiri masih berada di dalam kamar bersama anak lelakinya. Rei berusaha menenangkan sang Mama yang masih saja menangis. Putri sama sekali tidak mau keluar dari kamar kedua orang tuanya. Dia tidak mau melihat kedua jenazahnya, karena itu membuat hatinya teriris dan semakin sakit.
Semua orang mulai berdatangan. Mulai dari tetangga, para relasi dan juga sanak saudara yang jauh. Kenzo sejak tadi berusaha membujuk istrinya untuk masuk dan istirahat sejenak di dalam kamar sekalian untuk bertemu dengan Mamanya. Tapi, sejak tadi dia tidak memperdulikan siapapun yang bicara padanya.
Tatapan Zana terus menatap kedua jenazah yang ada di depannya. Kini air matanya mulai mengalir di atas pipi merahnya. Kia dan Nia memeluk tubuh Zana untuk memberikan semangat padanya. Setelah 30 menit dia mengeluarkan air matanya, akhirnya Zana mau membuka mulutnya.
“Bang, aku mau ketemu sama Mama,” ucapnya pelan. Kenzo pun membantunya berdiri dan berjalan menuju kamar.
Melihat sang anak, Putri langsung bangun dari tidurnya. Kedua anak dan ibu itu saling berpelukan. Suara tangis pecah kala itu. Keduanya berpelukan dalam tangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rei juga merasa sedih, dia ikut memeluk dua wanita pertama yang ia sayangi.
Kenzo tidak bisa menahan rasa harunya. Air matanya pun ikut jatuh, tapi dengan cepet dia mengusapnya. Kenzo tidak mau istrinya melihat dirinya yang menangis. Kalau itu terjadi, Zana akan semakin bersedih.
Pemakaman akan dilakukan hari itu juga. Hari sudah mulai sore. Matahari pun sudah lelah dan perlahan menenggelamkan dirinya. Dua buah ambulans pun mulai membunyikan sirine-nya. Kenzo memeluk istrinya begitupun dengan mertuanya, Tristan memeluk tubuh istrinya, karena Putrilah orang yang paling bersedih diantara mereka.
Para sahabat Putri beserta anak-anaknya yang lelaki membantu membawa dua buah keranda menuju kuburan yang sudah siap. Tangis Putri semakin menjadi melihat dua liang lahat yang berdampingan. Citra, Rani dan Bela menenangkan sahabatnya yang mulai kembali mengamuk. Sarah tidak ikut pergi ke pemakaman, karena kondisi dirinya yang sedang mabok dikehamilan trisemester pertama.
Kenzo, Tristan dan Raka (adik Tristan yang baru saja tiba dari Malaysia) masuk ke dalam liang lahat untuk menyambut jenazah Kirana sedangkan Rafa, Rangga dan Arta mereka menyambut jenazah dari Rio.
Kedua jenazah perlahan mulai masuk ke dalam liang lahat. Zana yang berada di dalam pelukan Karin (istri dari pamannya Raka) menangis seperti halnya Mamanya. Setelah tanah menutupi keduanya semua orang satu persatu pergi. Tinggal keluarga inti saja yang berada di sana.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaaa...