
Zana berjalan dengan lambat hingga dengan mudah Kenzo menyusulnya kemudian mengekor sambil bermanja-manja seperti pengantin baru, namun meski begitu bukanlah kesalahan Kenzo jika dia bersikap kekanak-kanakan, sebab apa salahnya, Zana juga tambah cantik saja semenjak hamil, mana bisa Kenzo bersikap cuek.
Sesampainya mereka berdua di meja makan, ternyata Tristan dan Putri sudah lebih dulu berada disana, dan tak lama Rei yang baru saja pulang sekolah juga mengisi kursinya kemudian masing-masing dari mereka menyuapkan nasi kecuali Zana.
“Kakak kenapa ga makan?” tanya Putri.
“Ga nafsu Ma, kepala kakak mendadak pusing, perut juga rasanya mual,” jawab Zana.
“Yaudah Kakak istirahat aja gih dikamar gih,” suruh Putri.
“Tadi juga udah baring aja Ma, lagian aku mau memastikan kalau abang makannya banyak. Awas lo Bang, kalau makannya dikit nanti aku jewer,” ujar Zana.
“Siap ibu negara,” jawab Kenzo dan membuat orang yang ada di sana menggelengkan kepala sambil tersenyum.
**♥️♥️**
Sudah empat hari pasca keluarnya Yuri dari rumah sakit dan keadaannya mulai membaik dan ditambah kabar gembira tentang kehamilan membuat Zacky seharian ini menjadi sangat senang. Ada juga rasa gugup, karena bagi mereka berdua yang minim akan pengalaman, tentu bukan hal yang mudah untuk melewatinya, tetapi dengan selalu bersama dan tetap mesra semua kesulitan akan mendewasakan keduanya.
Seharian ini mereka berdua hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV. Memang bahagia saat ini tak tertampik, akan tapi tetap acara TV yang monoton hanya menyuguhkan rasa bosan, apalagi filmnya hanya itu-itu saja, tentang seorang istri yang dizalimi, lantas kemudian sang suami terkena karma, usahanya bangkrut dan menjadi gembel.
“Sayang, ke timezone yuk!” pinta Yuri memecah bosan akibat acara di TV.
“Serius, emang badan udah enakan?” tanya Zacky.
“Ya dari kemarin-kemarin juga aku udah biasa aja yang, ga sehat juga 'kan ga kena sinar matahari,” jawab Yuri.
“Tapi, kenapa harus ke timezone, Yank?” tanya Zacky penasaran.
“Aku mau main lempar bola basket, Yank,” Pinta Yuri dengan memasang wajah memelas.
“Lah ... kamu 'kan tau Yank, kalau aku tuh jago banget main basket dari SMA, mau main juga kamu ga akan bisa menang,” ejek Zacky sambil menunjukan gayanya menembak bola yang sudah seperti Micheal Jordan saja.
“Lagian siapa juga yang mau menang, aku itu mau ngajarin baby kita main basket supaya nanti kalau udah lahir bisa jago kayak bapaknya gitu lo Yang,” jawab Yuri.
Ga logis banget sih, wanita hamil memang penuh misteri, batin Zacky.
“Yaudah ayo berangkat! nanti kesorean, Yank.” ajak Zacky.
Akhirnya mereka berdua berangkat meski Zacky dari tadi terus mengomel karena Yuri lambat sekali naik ke mobil.
“ 'Kan kita bisa makan atau cari minum di luar Yank, kenapa harus repot-repot bawa sih,” ujar Zacky kesal.
“Iya Yank iya, jangan marah-marah gitu, kamu itu jelek minta ampun kalau marah,” jawab Yuri cengengesan.
Sesampainya di timezone Zacky mengisi saldo dan segera menuju ke tempat permainan basket. Giliran pertama menembak adalah milik Yuri yang sudah sedari tadi bersiap, segera setalah kartu digesek pada swiper bola pun turun, hampir semua bola yang dilempar oleh Yuri masuk kedalam kerenjang. Anggapan Zacky yang mengira bahwa harus jago bermain basket terlebih dahulu untuk bisa menguasai permainan ini menjadi terbantah, kini Zacky tidak lagi meremehkan Yuri yang menunjukkan fakta bahwa cukup banyak bola yang masuk.
Giliran Zacky kini telah tiba, dari awal lemparannya sering gagal, hingga situasi ini menajadikan Zacky panik bukan kepalang, permainan yang sebernya menguntungkan Zacky malah berbalik menyerangnya dan menyudutkan pada ambang kekalahan, saat itu akurasi malah menjadi akselerasi, hingga sampai waktunya habis tak ada satu bola pun yang masuk kedalam keranjang.
Sial kenapa aku bisa kalah, padahal diwaktu primaku waktu sma dulu aku bahkan disebut-sebut sebagai si pencipta three point, kalau saja dulu aku tidak bad boy dan fokus berlatih basket mungkin kekalahan seperti ini tidak akan terjadi dan aku bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang Sea Games, batin Zacky.
“Ah ... suamiku pasti mengalah demi aku, kamu memang romantis banget Sayang,” ujar Yuri sambil memeluk Zacky.
Syukurlah Yuri sepertinya salah paham, padahal kenyataanya aku memang tidak bisa memasukan bolanya, batin Zacky.
“Mengalah adalah bukti kepemimpinan seorang suami Yank,” jawab Zacky sambil menganggukan-anggukan kepala memanfaatkan kesalahpahaman itu.
“Uwu, jadi makin cinta deh,” ujar Yuri.
“Mana yang tumbler aku haus, minta dong” pinta Zacky.
“Aku ga marah kok Yank, tadi cuma emosi aja dikit. Yuk kita cari tempat duduk untuk makan bekalnya,” ajak Zacky.
Tak terasa malam pun tiba, hari bergulir dengan cepat, hampir tidak bisa dibayangkan bagaimana menderitanya kalau saja seharian Zacky dan Yuri hanya menghabiskan waktunya menonton acara tv yang menzalimi istri itu. Mungkin satu menit terasa satu tahun dan alih-alih di rumah saja agar tenang malah dapat memicu stress yang semakin menambah beban pikiran.
**♥️♥️**
Setelah Kenzo selesai bermain catur dengan Tristan, dia kembali kekamar untuk menagih janji Zana. Apalagi saat itu Kenzo sedang kesal, karena selalu terkena skak mat pada rajanya. Anak muda zaman sekarang memang banyak yang pintar, akan tetapi orang tua selalu memiliki perencanaan yang lebih matang dalam setiap pengambilan langkahnya. Kenzo sadar mungkin dalam permainan catur tak ada kesempatan baginya untuk menang, tetapi Kenzo sangat yakin kalau papanya tidak akan menang melawannya di permainan Uno.
Setelah masuk kamar dilihatnya Zana yang sedang menyisir rambut halusnya, salah satu kegemaran Kenzo adalah bermain dan membelai rambut itu. Uraian rambut yang hitam legam dan wangi itu selalu bisa membuat Kenzo seperti kucing yang anteng bermain gulungan benang wol.
“Yank, matikan lampu dong,” pinta Zana.
“Ah ... mantap jiwa nih, baik Yank,” jawab Kenzo yang memikirkan tentang janji plus-plus yang akan di berikan istrinya.
Setelah lampu mati Zana menghidupan laptop lalu memutar film The King: Eternal Monarch, lalu dikeluarkannya beberapa cemilan, berupa coklat, pocky dan beberapa varian ciki kentang.
“Sini dong Yank! kita nonton,” ujar Zana.
“Lah ... bukannya plus plus, Yank?” tanya Kenzo heran.
“Ya emang ini plus plus Yank, nonton film dengan plus aneka cemilan kesukaan kamu,” jawab Zana dengan wajah yang tanpa dosa.
“Tapi Yank, 'kan kangen lama ga ketemu,” ucap Kenzo marah.
“Ayo Sayangku sini! kita rebutan cemilan, aku mau nonton sambil peluk dan cium kamu,” ujar Zana manja.
Batin memang Kenzo tidak bisa menolak ajakan Zana, terutama ada aneka cemilan kesukaannya. Dia pun mendekati Zana dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu istrinya.
“Tapi habis ini aku mau yang itu ya ....” pinta Kenzo dengan suara manja. Zana tertawa puas melihat suaminya.
“Kok ketawa?” tanyanya binggung.
“Tergantung, kamu masih melek apa ga,” jawab Zana. Karena dia tahu kalau suaminya pasti akan tidur disaat mereka menonton film.
“Akan aku usahakan, demi jatahku, sayang.” Zana tertawa dan mencubit hidung suaminya, karena saking gemasnya dia dengan tingkah laku suaminya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, dan Vote sebanyak-banyaknya ♥️♥️♥️
Kolom komentar terbuka lebar untuk kalian yang mau berkomentar... Karena komentar kalian adalah mood booster buat Author...
CU Next Time... 😘😘😘
*Cerita ini hasil kolaborasi bersama dengan Author "Terpaksa Menikahi Pria Culun" Arip Riko. Jangan lupa untuk mampir ke karya dia ya ...