Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Raka Hikaru



**Flashback On**


Raka Hikaru adalah adik satu-satunya yang di miliki oleh Tristan. Semenjak lulus SMA dia kuliah di negara tetangga, Malaysia. Di sana sambil kuliah dia juga membantu perusahaan Daddy Rio yang baru saja berdiri. Sama halnya seperti Tristan, Raka sangat cerdas sehingga dia mudah mempelajari bagaimana jalannya sistem perusahaan.


Di sana, dia tinggal di apartemen yang sangat mewah. Awalnya Raka menolak tapi, Rio memaksanya untuk tinggal di apartemen yang di belikan khusus untuknya sebagai bayaran karena dia mau membantu perusahaan mertua dari kakaknya.


Perusaahan dibidang Teknologi itu pun melaju sangat pesat. Itu membuat Raka sangat jarang pulang ke Indonesia. Bunda dan Ayahnya lah yang menghampiri anak bungsu mereka. Kadang sesekali Tristan dan keluarganya berlibur ke sana sambil melihat keadaan Raka.


Karena dia tergolong pintar di kampusnya, Raka menyelesaikan sekolahnya pas di 3 tahun ia kuliah dengan nilai cumlaude dan peserta didik termuda tahun itu. Kedua orangtuanya merasa sangat bangga dengan prestasi anak mereka.


Melihat adik ipar dari anaknya sangat berpotensi, Rio langsung memberi jabatan dia di perusahaan sebagai Direktur. Rio mempercayakan penuh perusahaanya pada Raka. Dengan begitu, dia tidak perlu bolak-balik Malaysia dan Indonesia untuk mengurus perusahaan.


Tidak di ragukan memang bakat dari Raka. Dalam 1 tahun masa jabatannya, Raka mampu menaikkan profit perusahaan hampir 90%. Dan ini berhasil membuat orang iri padanya. Bagaimana tidak? diusianya yang masih sangat muda, dia bisa mengurus perusahaan yang tergolong besar di sana.


Tidak terasa waktu berlalu. Raka akhirnya menemukan pujaan hatinya. Ya, dia adalah sekertaris pribadinya. Bukan cinlok, tapi keduanya memang sudah bertemu semasa kuliah. Karin adalah teman satu angkatan dengan dirinya. Saat pertama kali Karin melamar di perusahaan, Raka langsung menerimanya tanpa harus melalui tahap selanjutnya.


Itu membuat orang berpikiran bahwa Karin memakai orang dalam untuk bekerja di sana. Raka memang sangat menyukai Karin sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi Raka lebih mementingkan kuliah dan kerjaan sampai dia mengenyampingkan perasaannya.


Selama bekerja, Raka selalu membuat Karin lembur kerjanya. Itu dilakukan Raka dengan sengaja. Dia ingin lebih dekat lagi dengan Karin, ditambah dia mempunyai alasan untuk mengantarkan Karin pulang kerumahnya.


Karin wanita manis asal Malaysia. Tapi, dia juga mempunyai keturunan Indonesia, karena kakeknya adalah orang asli Jakarta. Awalnya Karin sangat membenci Raka, karena membuat dirinya selalu saja pulang larut malam. Sampai suatu waktu, saat Raka mengantarkan dirinya pulang, Karin menanyakan kenapa dia harus mengikuti jam pulangnya?


Raka tidak bisa lagi berkutik. Dia tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan gadis pujaannya. Malam itu pun Raka mengutarakan perasaannya. Dia jujur kalau selama ini dia sangat menyukainya. Karin yang mendengar pengakuan Direkturnya sangat terkejut. Dia tidak menyangka gadis biasa seperti dia bisa membuat hati direktur sebuah perusahaan besar menyukainya.


Malam itu Karin langsung menolak mentah-mentah pernyataan Raka. Dan itu membuat Raka sangat frustasi. Dia sampai tidak masuk kerjanya karena saking malunya dia akan bertemu dengan Karin. Sebenarnya Karin menolak Raka bukan karena dia tidak menyukainya, tapi lebih karena dia tidak enak dengan karyawan yang lainnya. Dia takut orang-orang berpikiran negatif tentang dirinya. Secara Raka adalah incaran para gadis di perusahaannya. Seorang pria muda yang sukses memimpin perusahaan besar, siapa yang tidak mau?


Sudah 2 hari Raka tidak masuk untuk kerja. Bukan karena penolakan dari Karin, melainkan dirinya yang memang sedang tidak enak badan. Karin merasa sangat khawatir dengan keadaan Direkturnya, mengingat dia hanya tinggal sendiri di Malaysia.


Karin pun memutuskan untuk pergi ke apartemennya. Selain untuk membawa berkas yang harus segera di tandatangani oleh Raka, Dia juga sangat ingin bertemu dengan Raka. Dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia sangat merindukan lelaki yang sudah membuat hatinya terbakar asmara.


Sesampai di Apartemen, Karin memencet bel kamarnya. Raka tau kalau Karin akan ke apartemennya untuk membawa berkas penting padanya. Dia membukakan pintunya dan menyuruh Karin untuk masuk ke dalam.


Karin sangat kagum melihat interior apartemennya yang sangat mewah. Dengan melihat ini pun, Karin merasa dirinya memang tidak pantas untuk Raka. Keluarga Karin dari keluarga yang biasa-biasa saja dan menurutnya mustahil dirinya akan menjadi kekasih dari direkturnya.


“Maaf, berantakan. Kamu mau minum apa? Biar aku ambilkan.” tanya raka padanya.


“Ga usah repot-repot Pak. Saya ke sini hanya ingin memberikan ini untuk Bapak tandatangani,” Karin menyodorkan berkas pada Raka dan dia menerimanya.


Wajah Raka terlihat sangat pucat dan itu membuat Karin merasa sangat khawatir.


“Pak, apa Bapak sudah makan sesuatu?” Raka menggelengkan kepalanya. Dan melihat itu hati Karin merasa sangat sakit sekali.


Dia langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur. Raka heran apa yang akan dilakukan sekertarisnya itu. Karin membuka kulkas dan yang dia lihat di depannya Zonk. Tidak ada satupun bahan makanan di dalamnya.


“Aku tidak pernah beli apa-apa untuk mengisinya,” ucap Raka.


“Kalau begitu, aku akan ke supermarket dulu ya Pak,” Karin mengambil tasnya, saat hendak keluar dengan cepat Raka menarik pergelangan tangannya.


“Tidak usah, aku sudah memesan makanan. Kamu tunggulah di sini dan temani aku makan malam,” Karin pun mengangguk dan keduanya duduk di ruang TV sambil menunggu pesanan makanan datang.


Keduanya duduk di bangku yang sama dengan jarak yang lumayan sangat jauh. Karin binggung apa yang harus dia bicarakan begitu pula dengan Raka. Keduanya hanya diam mematung sambil melihat ke arah TV yang entah acara apa yang mereka tonton.


Tidak lama, pesanan makanan pun telah tiba. Karin membantu Raka untuk menyiapkan makan malam untuknya. Setelah makanan tertata rapih di atas meja makan, keduanya pun menikmati makanan itu bersama. Raka terus menatap wajah manis Karin yang berada di depannya dan itu berhasil membuat Karin menjadi salah tingkah.


Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Karin pun pamit pada Raka untuk pulang. Raka berniat untuk mengantarkan dirinya, tapi Karin menolak dengan alasan karena dirinya masih sakit dan terlihat sangat pucat. Raka pun memutuskan mengantarkannya sampai ke depan apartemen.


“Kamu yakin ga aku antar?” Raka merasa sangat khawatir pada gadis pujaan hatinya.


“Yakin Pak. Bapak, jangan lupa minum obat dan jangan telat makan. Besok saya akan kembali ke sini lagi,” pamitnya dan langsung naik ke dalam taxi. Raka masih mematung di tempat. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan sekertarisnya di akhir kalimat. Raka pun berjalan masuk ke dalam sambil tersenyum bahagia.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaa...