Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Buah Cinta



Akhir-akhir ini entah kenapa badan Yuri tidak bersahabat. Dia mudah lelah dan juga sering sekali pusing. Zacky yang melihat keadaan istrinya merasa sangat khawatir, dan meminta istrinya untuk sementara tidak berangkat kuliah. Tapi, Yuri merasa jenuh kalau seharian sendiri di rumah, diapun memutuskan untuk berangkat ke kampus.


“Sayang, yakin ga mau istirahat aja di rumah?” tanya Zacky mengusap rambutnya sambil memegang kemudi.


“Aku kalau di rumah tambah kesel yank. Apalagi ga ada kamu. Aku sekarang ga apa-apa kok udah rada mendingan,”


“Benar ya!” Yuri tersenyum mengangguk.


Sesampai di kampus, Zacky terlebih dahulu mengantarkan istrinya ke kelasnya. Bertemu dengan Galen, Zacky langsung menitipkan istrinya padanya sebelum dia kembali ke kelasnya.


“Bro, titip ya!”


“Ish ... kamu kira aku barang pake di titipin segala.” keluh Yuri. Zacky hanya tersenyum manis pada istrinya. Sebelum meninggalkan istrinya, dia mencium kening Yuri tanpa ada rasa malu sedikitpun. Orang-orang yang melihatnya, menyoraki keduanya. Yuri tertunduk malu dengan wajah yang memerah, sedangkan Zacky hanya tersenyum nakal dan meninggalkan istrinya.


“Nyebelin, bikin orang malu langsung maen pergi,” gerutu Yuri.


“Manis juga brondong lo, Yur,” ucap Galen dan langsung mendapat cubitan di perutnya oleh Yuri.


“Aw ... sakit,”


“Dia bukan brondong gue, tapi laki gue. Sembarangan aja sih kalau ngomong.” ucapnya langsung masuk ke dalam kelas meninggalkan Galen yang masih berdiri memegangi perutnya yg terasa nyut-nyutan.


Hampir seluruh kampus mengetahui pernikahan Yuri dan Zacky. Karena mereka salah satu pasangan hits di sana. Tidak sedikit yang patah hati karena Zacky. Karena, memang banyak wanita di jurusannya yang sangat menyukai Zacky. Hal ini juga yang selalu menjadi perdebatan antara keduanya, karena Yuri selalu saja cemburu kalau melihat ada wanita yang mendekati lelakinya.


Selama kelas, Yuri berusaha menahan rasa pusingnya. Kali ini kepalanya benar-benar terasa sangat berat. Galen yang melihatnya pun menyadari kalau sepupunya itu sedang tidak enak badan.


“Yur, lo kenapa?” tanya Galen yang melihat wajah pusatnya.


“Len, gue ga kuat. Tolong hubungi Zacky dong!”


Dengan cepat Galen mengambil ponsel di saku celananya. Tapi, belum sempat Galen mengirim pesan pada iparnya, tubuh Yuri sudah jatuh terlebih dahulu. Kelas menjadi ricuh saat melihat Yuri yang jatuh pingsan. Dosen yang ada di kelas, menyuruh Galen dan beberapa orang didekatnya untuk membawa Yuri ke UKK (unit kesehatan kampus). Dengan cepat Galen dan dua orang temannya membawanya.


Sampai di tempat, Yuri langsung diperiksa oleh dokter kampus, untuk mengetahui keadaannya. Karena panik, Galen melupakan untuk memberitahukan keadaan Yuri pada suaminya.


“Dia hanya kecapean, apa dia punya alergi obat?” tanya dokter pada Galen.


“Setau saya ga sih, Dok. Tapi saya juga ga tahu,”


“Ya udah, kita biarkan dia istirahat dulu, tunggu sampai dia siuman ya,”


“Baik Dok. Terima kasih.” Dokter cantik itu hanya tersenyum dan kembali ke mejanya.


Saat kelas berakhir, Zacky langsung menghampiri kelas istrinya. Entah kenapa sejak tadi perasaannya tidak karuan. Sampai di kelas, dia tidak sama sekali melihat sosok istrinya.


“Bro, Yuri tadi pingsan dan sekarang ada di UKK,” ucap salah satu teman Yuri. mendengar itu hati Zacky semakin sakit.


“Thanks bro.” Zacky segera berlari menghampiri istrinya.


Zacky langsung masuk ruangan saat sampai di tempat. Dia masih melihat istrinya yang belum siuman di temani Galen disampingnya.


“Bantu gue bawa Yuri ke mobil. Gue mau bawa ke rumah sakit.” Galen mengangguk dan keduanya perlahan mengangkat tubuh Yuri.


Selama perjalanan Zacky membelai rambut istrinya, merasa sangat khawatir. sedangkan Galen memegang kemudi.


Sayang, kamu kenapa? please jangan buat aku merasa khawatir. Cepat sembuh ya sayang....


Sampai di rumah sakit, Dengan cepat Galen memanggil tim medis untuk mengangkat tubuh Yuri yang ada di mobil. Tidak lupa Galen memberitahukan keluarga Yuri, karena pasti Zacky tidak memikirkan itu. Semua keluarga yang di beritahukan oleh Galen pun langsung menuju ke rumah sakit.


Yuri masih berada di ruang pemeriksaan. Zacky benar-benar merasa khawatir, karena menurut cerita dari Galen kalau Yuri sudah pingsan selama dua jam. Ada rasa bersalah di hatinya, karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


“Keluarga dari Yuri,” panggil dari perawat yang keluar dari ruangan.


“Iya Suster, saya suaminya,”


“Oh iya Pak, silahkan masuk! dokter ingin bicara pada anda.”


Saat masuk ke dalam ruangan, dia melihat istrinya yang sudah siuman dan melemparkan senyuman padanya. Itu membuat Zacky merasa sangat senang, karena akhirnya istrinya bangun dari pingsannya. Zacky pun menghampiri istrinya yang sedang di periksa oleh dokter.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”


“Selamat ya, istri anda sedang mengandung. Tapi, karena badannya masih belum fit, saya sarankan istri anda untuk di rawat beberapa hari.” mendengar perkataan Dokter, jantung Zacky sangat berdegup kencang. Yuri tersenyum melihat reaksi suaminya dan langsung memegang tangannya.


“Dok, anak saya baik-baik aja 'kan?”


“Tenang aja, dia sehat. Sekarang usia kandungannya sudah masuk lima minggu. Tapi harus bedrest untuk beberapa hari,”


“Iya Dok, terimakasih,”


Perawat pun mempersiapkan ruangan untuk Yuri. Keduanya saling memandang dan melempar senyuman. Zacky terus mencium tangan istrinya. Dan tidak terasa air matanya menetes. Untuk pertama kalinya Yuri melihat suaminya meneteskan air matanya.


“Yank, kamu kenapa?” tanyanya heran. Zacky menatap perut Yuri sambil mengusapnya perlahan.


“Aku bahagia sayang. Aku tidak menyangka didalam sini ada buah cinta kita. Sayang, aku janji bakal jadi ayah dan suami yang baik untuk kalian berdua.” Yuri tersenyum, dia sangat bersyukur bisa memiliki suami seperti Zacky. Dan dia tidak pernah menyesali pernikahan yang terbilang sangat muda di usianya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya ya...