
Sejak kemarin, Sarah merasakan pinggangnya yang sakit. Tapi, Sarah tidak memberitahukan pada suaminya, karena dia tahu kalau suaminya akan panik melihatnya kesakitan. Sarah yakin kalau dia akan segera melahirkan hari ini. Dia sudah menyiapkan segala kebutuhan dia dan calon bayinya nanti.
Sarah belajar dari pengalaman dia pertama saat melahirkan Kenzo. Rangga sangat panik bahkan sampai pingsan, saat melihat dirinya kesakitan. Rangga sampai sekarang belum tahu kalau istrinya akan melahirkan. Setelah semua persiapan siap, Sarah baru menelepon suaminya untuk segera pulang dari kantor. Mendengar titah dari sang istri, detik itu juga Rangga pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah, Rangga kaget melihat istrinya yang duduk di ruang tamu dengan koper yang ada di sisinya.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanyanya dengan wajah yang binggung.
“Ke rumah sakit yu! Kayanya anak kita sudah mau keluar.” baru mendengar itu Rangga sudah merasa panik. Untungnya Sarah sudah menyiapkan semuanya, karena dia tahu kalau hal ini akan terjadi lagi.
Sarah sudah menelepon supir panggilan keluarganya, yang biasa dipanggil saat-saat penting seperti saat ini. Mereka pun segera menuju rumah sakit. Sarah berusaha menahan rasa mules di perutnya agar tidak terlalu menampakan di depan suaminya. Rangga dari tadi memegangi tangan istrinya. Keringatnya sudah bercucuran membuat Sarah tertawa melihatnya.
“Kenapa ketawa sih, Bun?”
“Kamu lucu. Aku yang sakit, tapi kamu yang banyak keringat,” ucapnya sambil tertawa.
“Ga lucu Bun. Ayah benar-benar sangat gugup saat ini,”
“Kamu 'kan sudah pernah mengalaminya sembilan belas tahun yang lalu, seharusnya kamu sudah tidak gugup lagi, sayang,”
“Sembilan belas tahun itu lama, sayang,”
“Aw ....” Sarah memegang pinggangnya. Dia sangat merasakan sakit dan tidak bisa lagi menahannya. Melihat itu membuat Rangga semakin panik.
“Pak, cepetan Pak!” ucap Rangga sedikit berteriak pada supirnya.
“Siap, Tuan.”
Mobil melaju cukup kencang. Sampai di rumah sakit, sopir segera turun dan mengambil kursi roda untuk nyonya-nya. Rangga perlahan membantu Sarah turun dari mobil. Sarah terus-menerus meringis kesakitan. Tim medis pun membantu mendorong kursi roda, membawanya ke dalam ruang tindakan.
“Sayang, sabar ya.” ucap Rangga sambil mengusap rambutnya.
Para sahabat yang mengetahui kondisi Sarah dari Rangga langsung menuju ke rumah sakit. Putri dan Tristan masih dalam perjalanan menuju ke Indonesia bersama anak dan menantunya. Awalnya Kenzo tidak akan ikut bersama mereka, tapi saat mendengar bundanya yang akan melahirkan, Kenzo pun memutuskan untuk ikut pulang bersama istri dan keluarganya.
Rangga memilih untuk menunggu istrinya di luar, karena dia takut akan jatuh pingsan lagi seperti dulu, kalau dia menemani istrinya melahirkan.
“Bro, gimana keadaan Sarah?” tanya Romi yang baru saja tiba bersama istri dan juga sahabat yang lainnya.
“Masih proses melahirkan. Gue ga nyangka, sampe sekarang gue belum bisa move-on dari namanya melahirkan,” ucap Rangga mengundang tawa semuanya.
Dokter keluar dari ruangan mempersilahkan suami dari Sarah untuk masuk ke dalam. Dengan cepat Rangga menghampiri istrinya. Air mata Rangga keluar saat melihat sang anak yang berada di atas dada istrinya. Rangga menghampiri istrinya mencium keningnya.
“Sayang, terimakasih.” Rangga menangis ketika mengendong sang buah hati. Dia tidak menyangka akan kembali menjadi seorang ayah dari bayi laki-laki mungil.
“Anak kita ganteng seperti kamu, sayang,” ucap Sarah dengan nada yang masih lemas.
“Maafkan aku sayang! aku tidak menemanimu disaat kamu melahirkan,”
“Ga apa-apa. Lagi pula kalau kamu disini, aku yang bakal khawatir kamu pingsan seperti dulu lagi.” ucap Sarah sambil tertawa mengingat dulu, saat dia melahirkan Kenzo.
Setelah di pindahkan ke dalan ruangan, para sahabat langsung menjenguk Sarah. Satu-persatu dari mereka melihat bayi mungil yang ada di box bayi sedang tertidur pulas.
“Waah ... kalau ini Kenzo kecil,” ucap Satya.
“Iya ... sangat mirip sekali dengan kakaknya.” sahut Bela.
“Kalian ga ganti cetakan nih?” canda Romi mengundang tawa.
“Lo kira anak gue kue, pake cetakan segala.” tawa kembali pecah.
Disisi lain Kenzo sudah tidak sabar ingin melihat adiknya. Dia belum mengetahui kalau dirinya mendapatkan seorang adik laki-laki.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya...