
Kia masih penasaran siapa wanita tadi yang menyatakan cintanya pada Gian. Dia mengambil ponsel Gian yang ada di meja. Kebetulan Gian sedang pulang ke rumahnya untuk mengganti pakaian.
"Desi?? kok aku baru tau kamu ya?" katanya saat menemukan chat antara dia dan Gian. Dia pun menyalin nomernya dan diletakkan kembali ponsel Gian di meja, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Kia mencoba mencari Desi di Instagram, setelah menemukannya dia melihat satu persatu foto yang ada di sana. Betapa kagetnya Kia melihat beberapa fotonya bersama Gian.
"Sebenarnya kamu siapa sampai bisa sedekat ini sama Gian, kenapa aku tidak pernah mengetahuinya?" ucapnya masih melihat ponsel yang ada di tangannya.
Tok ... tok ... tok
"Yank, aku masuk ya!" ucap Gian. Kia langsung menyimpan ponselnya dan mengambil buku yang ada di meja dekat kasurnya.
"Masuk aja,"
"Lagi apa? tumben langsung masuk ke kamar?"
"Hah ... ini lagi baca buku aja," jawabnya singkat dan matanya kembali melihat buku.
"Hari ini kamu terlihat aneh, ada apa?" karena biasanya Kia akan selalu cerita apapun yang dia lakukan di sekolah, tapi hari ini Kia sangat berbeda dia lebih banyak diam sejak pulang sekolah, mungkin karena dia melihat Desi dan Gian tadi.
"Aku ga apa-apa kok." Kia berharap kalau Gian menceritakan apa yang terjadi tadi, tapi sampai sekarang dia tetap diam seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Gian ikut duduk di sofa melihat Kia yang sedang asik membaca bukunya.
"Yank, serius banget sih ampe aku di cuekin." Kia menyimpan bukunya menghadap Gian dengan wajah yang serius.
"Gian, aku melihat semuanya," Kia tidak bisa menahannya lagi, dia berharap Gian akan menceritakannya, tapi ternyata tidak.
"Maksud kamu apa, yank?" entah dia pura-pura tidak tahu atau memang Gian tidak mengerti apa maksud Kia.
"Desi siapa?" Gian kaget Kia bisa mengetahui cewek yang menyatakan cinta padanya.
"Maksud kamu liat semuanya itu tadi? sumpah yank aku ga ada hubungan apa-apa sama dia." Gian memegang tangan Kia menatap tajam matanya, Gian takut Kia salah paham padanya.
Kia menunjukan foto yang diambilnya dari IG Desi. Foto mereka berdua yang selfi dengan wajah yang menempel juga foto Gian yang sedang merangkul Desi. Gian kaget melihat foto-foto itu.
"Kamu dapet ini dari mana?"
"Dia siapa? mantan? atau mungkin pacar kamu juga? kok aku baru tau kamu punya teman wanita sedekat ini!!" kata Kia dengan sedikit kesal.
"Aku ga ada hubungan apapun dengannya yank. Sumpah! dia cuma teman ga lebih,"
"Terus foto ini?"
"Itu waktu kita wisata dari sekolah dia minta untuk berfoto denganku, tapi ga lebih kok hanya sekedar foto aja,"
"Terus, kenapa kamu ga pernah cerita tentang dia?" dia bukan orang yang spesial yang harus aku ceritain.
"Gian, aku selalu menceritakan apapun yang terjadi padaku, walaupun itu bukan sesuatu yang penting dan aku berharap kamu juga begitu, atau memang kamu mau jadikan dia yang kedua ya?"
"Sumpah ga pernah sama sekali aku berniat seperti itu, maafin aku, Kia! aku memilih diam karena aku tidak pingin kamu mempunyai pikiran yang macam-macam tentang aku dan dia," Gian memohon dan masih menggenggam tangannya.
"Tapi, dengan kamu seperti ini membuat aku sudah berpikiran negatif padamu, aku capek mau istirahat." Kia menarik tangannya dan menyuruh Gian untuk keluar dari kamarnya. Gian pasrah diapun keluar dengan terus menatap Kia, tapi dia tidak sama sekali melihat Gian.
**♥️♥️**
Kenzo berdiri di depan kelas Zana menunggunya keluar dari kelas.
"Ken, ngapain ke sini?" tanya Zana.
"Nungguin kamu lah, mau anter kamu sampe parkiran." katanya langsung menggenggam tangan Zana dan berjalan, Aji dan Keysa berjalan di belakang mereka.
"Kak, nitip Zana ya." ucap Kenzo pada Aji dan Keysa.
"Ya udah, kalau gitu aku anter." Kenzo menganggapnya serius membuat ketiganya tertawa melihatnya.
"Hahaha lebay banget sih, Ken," ucap Keysa masih tertawa.
"Iya ... iya jangan anggap serius donk," kata Aji menepuk bahunya dan masuk kedalam mobil.
"Aku pergi dulu ya!" pamit Zana.
"Nanti aku jemput di tempat les ya, dan ingat jangan terlalu dekat dengannya." Kenzo melirik ke arah Aji.
"Iya sayang, kamu ini masih aja cemburu sama Aji, kamu juga sama jangan deket-deket sama cewek." Kenzo menaikkan kedua jempolnya.
"Ya udah, aku pergi ya bye." pamit Zana sambil melambaikan tangannya, Kenzo menahan tangan Zana membuatnya membalikkan badannya.
"Kenapa?"
"Cium perpisahannya mana?" canda Kenzo, Zana melepaskan tangannya, memegang tubuhnya yang merasa merinding dengan ucapan Kenzo. Kenzo tertawa puas melihat Zana.
Sesampai di tempat les, mereka mendaftar dan langsung masuk kelas.
"Siang menjelang sore, kenalin nama saya Restu sebenarnya saya bukan mengambil jurusan untuk menjadi guru. Saya masih kuliah di tingkat tiga jurusan kedokteran, tapi sebisa mungkin saya bisa membantu kalian untuk belajar." ucapnya memperkenalkan diri. Zana senang, karena dia bisa belajar lebih pada Restu, karena jurusannya sama dengan yang dia inginkan.
Selesai semua memperkenalkan diri satu persatu mereka memulai pelajaran. Suasana tampak santai dan asik, sesekali Restu mengisinya dengan candaan membuat lima orang yang ada di kelas itu merasa nyaman.
"Oke, sampai disini dulu materi hari ini, sampai jumpa besok ya selamat sore semua." para siswa satu persatu keluar dari ruangan, tapi tidak dengan Zana dia masih berada di dalam ruangan itu.
"Hai, Kak," sapa Zana.
"Hai, kamu ...."
"Zana, kak,"
" oh iya Zana ada yang bisa saya bantu?"
"Kebetulan saya mau masuk jurusan yang sama dengan kakak, boleh donk sekalian aku minta tips nya untuk ujian kedokteran,"
"Boleh banget, kamu bisa catet nomer kakak." katanya, mereka berdua pun saling menukar nomor ponsel.
"Kalau gitu Zana pamit ya kak, makasih untuk hari ini." katanya tersenyum dan meninggalkan ruangan. Restu terus memandang Zana sampai punggungnya sudah tidak terlihat lagi.
"Gadis cantik dan manis." ucapnya yang masih melihat ke arah pintu.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH SEMUANYA
DITUNGGU LIKE, KOMEN DAN VOTE YA
jangan lupa juga membaca novel Author yang berjudul RINDU...