
Sampai di Indonesia, keluarga Agatha ini langsung menuju rumah sakit. Supir keluarga mereka sudah menunggu kedatangan mereka di depan Bandara. Kenzo melihat foto adiknya yang dikirim oleh ayahnya, semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya. Zana yang melihat raut bahagia suaminya, ikut merasakan kebahagiaannya.
Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan VIP yang ada di lantai dua. Saat masuk ke dalam ruangan, Kenzo langsung menghampiri box bayi. Tidak terasa air mata bahagia Kenzo mengalir. Dia langsung menghampiri sang bunda dan mencium keningnya.
“Bun, makasih ya udah memberikan Kenzo adik.” Sarah terharu dan langsung menarik tubuh anaknya dalam pelukannya.
“Bunda yang terimakasih ke kamu, karena mau menerima adik kamu disaat kamu juga akan mendapatkan seorang anak.” keduanya saling tersenyum dalam pelukan. Semua orang yang melihatnya pun ikut terharu.
Suara tangis bayi mungil itu pecah, Zana ingin sekali menggendongnya, tapi dia tidak tahu caranya. Putri pun mengambil bayi mungil itu dan disimpan di dalam gendongan Zana.
“Kak, kamu harus belajar! sebentar lagi 'kan anak kamu lahir,” ucap Tristan pada anaknya.
“Iya Pa, ini 'kan kakak mau belajar.” semua tersenyum melihat Zana.
**♥️♥️**
Hanya satu hari pasca melahirkan, Sarah dan buah hatinya bisa kembali ke rumah. Selama suaminya di Indonesia, Zana tinggal bersama mertuanya. Zana membantu sang bunda untuk mengurus adik iparnya yang sudah diberi nama Keenan Al-Farizi.
Zana mulai perlahan belajar mengurus anak dari adik iparnya. Sarah mengajari menantunya bagaimana cara mengendong, memandikan dan mengganti popok bayi. Awalnya sangat sulit untuk Zana, karena dia belajar langsung dari bayi yang baru lahir. Tapi, lama-kelamaan Zana mulai terbiasa dengan semua itu.
Kenzo sengaja meminta izin selama satu minggu pada pihak kampus. Sebenarnya dia ingin sekali cuti kuliah hingga istrinya melahirkan. Tapi, Zana dan mertuanya tidak mengizinkannya. Akhirnya Kenzo hanya meminta izin selama satu minggu saja.
“Bang, dia mirip sekali denganmu,” ucap Zana sambil melihat Keenan yang ada di dalam gendongannya.
“Anak kita bakal seperti aku juga ga ya? aku ga sabar untuk melihat jagoan kita.” ucapnya sambil mengelus perut Zana yang besar.
Seperti hasil USG Zana di Singapura, kalau anak mereka kemungkinan besar berjenis kelamin laki-laki. Kenzo merasa sangat senang, karena memang dia mengharapkan anak pertamanya adalah seorang laki-laki, supaya kelak dia biasa menjaga adik-adiknya.
“Pastinya dia cakep kaya Keenan. Sayang, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?”
“Sudah dong, aku menyiapkan sepasang nama untuk anak kita, kalau-kalau nanti yang keluar adalah perempuan.” Zana tersenyum.
Kaeduanya kembali melihat bayi mungil yang sedang asik tertidur dalam pelukan Zana. Sarah dan Rangga yang melihat anak mereka merasa sangat bahagia. Mereka tidak menyangka kalau keduanya akan menerima Keenan, disaat keduanya sebentar lagi juga akan memiliki seorang anak.
Hampir setiap malam Zana membawa sang bayi untuk tidur bersamanya dan Kenzo. Itu membuat Keduanya semakin tidak sadar menantikan buah hati mereka, yang tiga bulan lagi akan lahir. Zana akan mengembalikan Keenan pada mertuanya, apabila bayi mungil itu menangis meminta ASI.
**♥️♥️**
Tidak terasa waktu terus berjalan. Sudah satu minggu Kenzo berada di Indonesia, dan itu artinya dia harus kembali ke Singapura. Berat hati Kenzo akan berpisah dengan istrinya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan sekolahnya disana.
Sejak pagi Zana terus menempel pada Kenzo, karena hari ini dia terakhir di Indonesia. Kenzo yang melihat sikap manja istrinya membuat dirinya semakin berat untuk kembali ke Singapura.
“Apa aku ambil cuti sampai kamu lahiran aja, yank?”
Zana yang sedang memeluk tubuh suaminya langsung melepaskannya dan menatap tajam dirinya.
“Kalau kayak gitu, nanti lama lagi dong lulusnya? Aku pengen kamu cepet lulus dan kita kembali ke Indonesia,”
“Iya sayang, aku akan berusaha untuk cepat lulus ya.” Kenzo mencium kening istrinya.
Sampai di bandara, Kenzo menurunkan kopernya dan mereka pun berjalan masuk ke dalam. Kenzo berulang kali mencium kening istrinya yang masih manja berada di dalam pelukannya. Tristan dan Putri yang melihatnya merasa haru bahagia.
“Kalau kamu manja seperti ini, aku semakin berat meninggalkan kamu,”
“Ish ... bentaran doang Bang,” Kenzo tersenyum dan kembali mencium keningnya.
Penggumuman keberangkatan sudah diumumkan, Kenzo melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya yang sudah mulai berkaca-kaca ingin menangis.
“Jangan nangis dong!”
“Iya, Kak. Abang 'kan bakalan ke Indonesia lagi nanti,” ucap Putri sambil merangkul anaknya.
“Ma, Pa, titip Zana ya. Kenzo berangkat dulu,” ucapnya sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.
“Iya, Bang. Hati-hati kamu disana ya!” sahut Tristan. Kenzo hanya mengangguk tersenyum.
“Sayang, jangan lupa setiap hati VC ya, terus kabari aku kemanapun kamu pergi,”
“Iya, sayang. Aku berangkat ya.” terakhir sebelum dirinya berangkat, Kenzo mencium kening istrinya.
“Oia ... Daddy lupa, hai Baby, daddy pergi dulu ya. Kamu jangan nakal sama Mommy. Jagain mommy dan baik-baik di dalam perut. Nanti Daddy akan balik lagi kok.” ucapnya sambil berjongkok menghadap perut istrinya, mengusap dan menciumnya.
Sambil mendorong kopernya, Kenzo berjalan masuk ke dalam. Sesekali dia membalikan badannya dan melambaikan tangan pada istri dan mertuanya. Melihat kepergian suaminya Zana mulai meneteskan air matanya, sambil mengusap perut besarnya.
“Ma, baby aja sedih papanya pergi. Dia dari tadi nendang-nendang mulu,”
“Pasti dong, sayang. Ya udah kita pulang yu! udah malem.” Zana mengangguk. Sambil berjalan dia melihat ke arah pintu masuk bandara berharap suaminya keluar lagi dari sana. Berat hati Zana sebenarnya, tapi dia berusaha untuk tegar. Toh ini hanya dua bulan, ucapnya dalam hati.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaa...
Maaf akhir-akhir ini Author jarang update, karena bulan Ramadhan, Author mau fokus dulu beribadah dan mohon pengertiannya yaa...
Terimakasih semuanya...
Aku Padamu 😘😘😘😘