
Sehari sebelum hari kepergian anak sulungnya, Tristan meminta izin pada calon mantunya agar Zana tidur dengannya malam ini. Karena, memang sesekali keluarga kecil itu, suka tidur bersama pada saat di hari libur. Kenzo dengan terpaksa menyetujuinya keinginan mertuanya karena, dia tidak tega melihat istrinya yang memohon padanya.
“Yank, aku sendiri donk,” ucap manja Kenzo sambil memeluk tubuh istrinya.
“Semalem doank yank, besok kan kita udah pergi. Lagipula aku memang ingin sekali tidur bersama Papa, Mama dan Rei.” ucapnya.
Cup ... satu kecupan untuk istrinya sebelum dirinya turun kebawah.
Cup ... kecupan kedua, sambil memeluk tubuh istrinya.
“Kalau gini terus kapan aku perginya?” Kali ini bukan kecupan tapi ciuman yang cukup lama. Kenzo berjalan mengarah ke kasur sampai keduanya berada di atas kasur. Zana heran dengan ciumannya malam itu karena, tidak sepeti biasanya Kenzo menciumnya dengan sedikit kasar. Zana mendorong tubuh suaminya menghentikan serangan suaminya.
“Sampai disini dulu ya sayang, kalau di terusin aku ga akan jadi tidur sama papa. Bye sayang.” Pamitnya meninggalkan suaminya. Kenzo masih terdiam di atas kasurnya menatapi punggung Zana yang perlahan hilang dari tatapannya. Beneran tega banget sih kamu, ucap sedih Kenzo.
Zana pun turun dari kamarnya, menuju ke kamar kedua orang tuanya. Terlihat Rey yang sudah berada di sana, tidur di antara kedua orang tuanya sambil memainkan ponselnya.
“Kakak datang!!” Ucapnya langsung menyusup masuk di tengah-tengah mereka. Untungnya Kasur kedua orang tuanya berukuran big size. Jadi, muat untuk 4 tubuh orang dewasa.
Sudah sangat lama hal ini tidak terjadi. Kalau di ingat-ingat, terakhir kali mereka tidur bersama saat Zana berada di bangku SMA. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk keluarga kecil itu. Mereka berbagi cerita dan mengingat kenangan-kenangan bahagia yang sudah mereka lalui selama ini. Sedangkan Kenzo, dia bagaikan seorang tamu yang sedang menginap di rumah kerabatnya. Kenzo hanya meratapi nasibnya dengan mengisi malam kesepiannya memainkan game kesukaannya.
**♥️♥️**
Barang-barang semuanya sudah beres di kemas. Tapi, keduanya hanya membawa dua buah koper dan sisanya akan menyusul melalui jasa paket pengiriman. Semua keluarga dan para orang tua angkat keduanya sudah berkumpul di kediaman Tristan. Mereka akan mengantarkan kepergian dari kedua anak kebanggaan mereka. Setelah semuanya siap mereka pun berangkat menuju bandara.
Suasana bandara kala itu sangat ramai dengan keluarga Zana dan Kenzo. Tidak lepas mata orang yang melihat kericuhan keluarga besar ini. Bagaimana tidak? Suara keluarga besar ini hampir mengalahkan suara pengumuman yang ada di Bandara.
Satu jam lagi keberangkatan keduanya. Suasana yang tadinya penuh tawa dan ceria seketika berubah menjadi sangat haru biru. Satu-persatu dari mereka di peluk oleh keduanya. Air mata Zana terus mengalir saat menerima pelukan yang bergiliran mulai dari yang termuda hingga tertua. Kenzo menerima banyak amanat dari semua orang tua karena, dia adalah seorang yang sudah menjadi suami dan dia harus melindungi dan selalu membuat istrinya bahagia.
Langkah Zana terhenti pada keluarga intinya. Putri dan kedua nenek dari Zana memeluk tubuhnya sambil berderai air mata. Suasana menjadi sangat sedih saat ke-empat wanita itu saling berpelukan.
“Bang, inget pesen Granpa!!” bisik Rio pada cucu mantunya. Kenzo mengangguk dan mengacungi kedua jempolnya.
“Granpa, Opa...!” Zana langsung memeluk kedua kakek kesayangannya. Kedua kakeknya banyak memberikan nasehat-nasehat untuk cucu perempuan mereka. Zana yang mendengarnya hanya mengangguk dalam tangisnya.
Orang terakhir di peluk Zana adalah Papa kesayangannya. Zana memeluk erat tubuh Tristan dan tangisnya pun semakin menjadi.
“Inget, pesan Papa, ya! Jadilah istri yang baik untuk suamimu” Bisik Tristan. Tidak ada jawaban dari anaknya melainkan hanya tangisan yang semakin menjadi. Kenzo merangkul Zana hingga membuat pelukannya keduanya terlepas.
“Sayang, kita harus segera masuk!” ucapnya.
Zana pun mengikuti suaminya. Sambil berjalan masuk, Zana sesekali melihat kembali ke arah belakang di mana seluruh keluarganya berdiri memperhatikan keduanya. Air matanya terus mengalir di kedua pipi kecilnya. Kenzo menyemangati istrinya agar tidak larut dalam kesedihannya.
***♥️♥️***
Mata Zana sebab karena, sejak tadi air matanya terus mengalir. Kenzo terus menggengam tangan istrinya sampai mereka berada dalam pesawat.
“Udah donk sayang!!” bujuk nya agar Zana berhenti dalam tangisnya. Kenzo mengelap air mata yang membasahi pipi istrinya. Zana terus diam sampai tidak terasa dirinya pun tertidur pulas.
Setelah perjalanan satu setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di negara singa itu. Saat turun dari pesawat keduanya langsung mengambil koper dan mencegat taxi yang ada di depan bandara. Kurang lebih satu jam perjalanan untuk sampai ke Apartemen yang akan di tempati keduanya.
Sesampai di Apartemen, Zana yang masih merasa sedih memilih langsung merebahkan tubuhnya. Kenzo tersenyum menggelengkan kepalanya, melihat sang istri yang masih saja merasa sedih.
Dasar wanita sangat susah untuk move on, ucapnya pelan.
Kenzo memilih untuk merapihkan baju-baju mereka untuk di masukan ke dalam lemari. Tidak banyak yang perlu di bereskan karena, kebanyakan dari barang-barang mereka akan di kirimkan besok dari Indonesia.
Setelah membereskan baju, Kenzo menghampiri istrinya. Zana duduk menyender di atas kasur, sambil serius menatap lurus ponselnya.
“Sayang, lagi apa?” tanya Kenzo yang duduk di samping istrinya.
“Aku, habis mengirimkan pesan ke Papa,” jawabnya.
Kenzo menarik bahu istrinya sampai menghadap padanya.
“Sayang, aku janji akan menjaga kamu selama disini. Dan aku tidak akan membiarkan kamu sedih dan sendirian.” ucapnya dan mencium kening istrinya. Zana mengangguk tersenyum, menandakan dia percaya dengan omongan suaminya. Dia pun memeluk erat tubuh suaminya sehingga merasakan kehangatan darinya.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih atas waktunya..
Jangan lupa Vote, Like dan Comment yaaa....😘😘😘
CU