
Setelah merapihkan barang-barang yang untung memang tidak terlalu banyak, Zana kembali masuk ke dalam dapur, mempersiapkan makanan untuk sang suami saat pulang dari kampus. Bahan makan yang tersedia sangat banyak sekali karena, Zana mengambil banyak sekali bahan makanan saat mereka berbelanja kemaren dan itu bisa untuk mencukupi kebutuhan mereka selama 1 minggu.
Setelah memasak berbagai makanan, Zana menatanya di atas meja. Jarum Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, tapi Kenzo belum juga pulang dari kampusnya. Zana mencoba menghubungi suaminya tapi nomernya belum saja aktif semenjak tadi pagi.
Kecemasan Zana langsung hilang saat mendengar bel pintu berbunyi. Dia berlari cepat ke arah pintu dan membukakan pintunya. Zana langsung melempar senyum manisnya pada Kenzo. Melihat istrinya yang tersenyum cantik Kenzo masuk dan langsung mencium bibir manis istrinya.
“Kok, baru pulang?” tanya Zana yang masih memeluk tubuh suaminya.
“Tadi, Aku dapet hukuman sayang, jadi harus lebih lama diem di kampus,” Jawab Kenzo. Zana pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya, sebelum keduanya menikmati makan malam bersama.
💃💃💃💃
Pagi hari yang sibuk, karena Zana mulai hari ini sudah masuk kuliah. Setelah memasak sarapan, dia bergegas menyiapkan barang-barang yang harus di bawanya. Entah kenapa hatinya berdebar sejak tadi. Mungkin karena ini hari pertama dia sekolah di negeri orang. Zana menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya.
Melihat sang istri, Kenzo mengkerutkan keningnya dan menghampiri Zana yang sedang uduk di sofa.
“Sayang, kamu sakit? Kalau sakit mending jangan dulu masuk kuliah. Kamu lebih baik istirahat dulu,” cemas Kenzo.
Zana menarik tangan Kenzo sampai dirinya duduk di sampingnya.
“... Sayang kok tangan kamu dingin?” dengan sigap Kenzo memegang kening istrinya. Zana menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh suaminya.
“Aku, grogi yank. Gimana nanti Aku ga ada temen disana?” Kenzo yang mendengarnya tertawa, dia menarik tubuh istrinya dari pelukannya sampai menghadap padanya.
“... Ih Abang kok ngetawain sih?” seketika Kenzo menghentikan tawanya. Dia kaget dengan apa yang di ucapkan istrinya. Karena, seumur hidupnya Zana tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Abang.
“Sayang, kamu tadi manggil apa?”
“Ga ada siaran ulang, Ayo kita berangkat! Nanti kesiangan,” Zana bangun dari duduknya. Kenzo tersenyum dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Sekali lagi donk, panggil Aku Abang?”
“Ga...” Zana tersenyum di balik pelukan Kenzo.
“Yank, Please...!” Kenzo terus memohon. Sambil berjalan dan mengambil barang-barang nya, Kenzo terus mengikuti langkah istrinya. Zana pun membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Perlahan dia mengecup bibir suaminya dan tersenyum.
“Abangku sayang, berangkat yu...!” Kenzo tersenyum lebar, dia menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukannya dan menggendong dan berputar.
“Abang, stop! Kita bisa terlambat kalau seperti ini terus,” Kenzo pun berhenti dan menurunkan tubuh istrinya.
“Sayang, Aku seneng kamu panggil Aku, Abang. Dan untuk sekarang kamu ga perlu khawatir, pasti nanti kamu bakal banyak temen. Siapa sih ga tertarik berteman dengan istri Abang.” Zana mengangguk tersenyum. Entah kenapa hatinya sedikit lebih tenang setelah mendengar perkataan dari suaminya. Sebelum berangkat keduanya pun menikmati sarapan yang sudah di siapkan oleh Zana.
Sebelum keduanya berpisah, Zana dan Kenzo terlebih dahulu melihat gambar peta yang ada di dekat kampus. Karena, Zana ingin mengetahui dimana dia harus menyerahkan berkas-berkas pindahannya. Setelah menemukannya, tubuh Zana merasa lemas. Karena, Faktanya fakultas dia dan Kenzo sangatlah jauh dan itu artinya mereka akan sangat jarang sekali bertemu.
Kenzo yang merasa gemas melihat wajah cemberut sang istri langsung mencubit kedua pipinya.
“Aw... Sakit Bang,” keluh Zana.
“Gemes tau ga? Abang pengen banget makan kamu, untung ini tempat umum,” ucapnya sambil tertawa.
“Ih, dasar nyebelin. Ya udah, kita berpisah disini. Ingat ya! Abang ga boleh deket-deket sama cewek, apalagi tersenyum. Jaga mata, jaga hati oke,” Kenzo tersenyum dan membelai rambut sang istri.
“Iya sayang. Yang ada juga Abang yang khawatir sama kamu, secara kan sejak dulu kamu yang banyak penggemarnya di banding Abang. Hati-hati ya! selalu kabarin Abang,” Zana mengangguk. Dia pun berjalan masuk ke dalam sambil melambaikan tangannya.
Zana perlahan melangkahkan kakinya sambil melihat peta yang sebelumnya sudah dia foto. Dia melihat sekeliling Kampus, ada macam-macam wajah yang berbeda dari berbagai negara. Langkah Zana terhenti di tempat yang dia tuju. Diapun masuk dan menyerahkan persyaratan yang sebelumnya sudah di berikan oleh pihak kampus padanya.
Akhirnya setelah 1 jam dia mengurus surat kepindahannya, Zana pun sekarang resmi menjadi mahasiswa Nanyang Technological University. Zana melihat jam yang ada di tangannya, karena sekitar 1 jam lagi dia akan memasuki kelas.
Zana berjalan dan melihat sekitarnya. Dia mencari kelas yang akan di tempatinya.
“Zana...!” mendengarnya, Zana langsung membalikan badannya. Seketika dia tersenyum dan langsung menghampiri Alex.
“Hai...Beruntung banget Gue ketemu sama lo. Gue lagi cari kelas nih,”
“Ya udah kita bareng yu. Gue juga di kelas yang sama kok sama lo. Oiya Zan, kenalin ini Mikha dia asal dari Indonesia juga,” Zana pun mengulurkan tangannya.
Zana bersyukur bisa mempunyai teman yang sama dari Indonesia. Ketiganya pun berjalan menuju kelas, sambil Alex memperkenalkan tempat-tempat yang ada di kampus.
.
.
.
.
~*Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote yaaa😘*