
Merasa lelah karena baru saja pulang dari rumah sakit sekaligus berbelanja, akhirnya Kenzo mengantarkan Zana untuk beristirahat di kamar. Kenzo juga sempat memijit pundak Zana, sebelum akhirnya Zana membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kenzo mencium istrinya itu pada bagian belakang leher hingga Zana berada di titik gairah yang memuncak. Dan itu membuat rasa gemas Kenzo menjadi kian tak terlukiskan. Ciuman pada bibir yang cukup lama, sampai bermainkan lidah dengan lembut kini membuat Kenzo mengalir pada fantasi yang lebih tinggi.
“Sayang, tadi kata dokter abang harus sering-sering tengok dede utunnya,” bisik Kenzo di telinga Zana yang membuat bulu kuduk Zana berdiri, karena hembusan nafasnya.
“Cih ... itunya maunya abang,”
“Lah, emang iya 'kan? Jangan pura-pura lupa ya! Lagi pula semenjak abang pulang dari Singapura, abang belum dapet jatah dari kamu loh, yank,” ucapnya manja dan membuat Zana gemas melihatnya. Kembali Zana mendekat dan mencium lembut suaminya.
Mendapat serangan dari sang istri, jiwa raga Kenzo semakin terbakar, rasa rindunya sudah kian memuncak. Kenzo membalas kecupan manis istrinya dengan ciuman yang sangat nakal. Awalnya Zana melayani setiap gerakan dari mulut kenzo, tapi lama-kelamaan dia sudah tidak bisa melanjutkannya.
“Abang, pelan-pelan dong! Aku ga bisa nafas,” ucap Zana pelan.
“Maafin abang, sayang!” kali ini dia menciumnya dengan sangat lembut.
Kedua insan yang sedang beradu rindu yang kian lama sudah terpendam. Detak jantung yang semakin cepat berdetak menggambarkan keduanya yang meluapkan perasaan mereka. Tetesan keringat yang menetes di wajah Zana membuat suasana kian memanas. Suara detik jam pun ikut menemani peleburan dimalam yang syahdu.
Kecupan demi kecupan dilayangkan Kenzo pada istrinya yang kian menggoda. Desahaan suara merdu Zana membakar semangat Kenzo terus terpacu. Malam yang indah ditemani rintikan hujan yang menjadi irama kedua insan saling mencinta. Keduanya pun akhirnya mencapai kenikmatan bersama.
Melihat istrinya yang sedang mengatur nafasnya, karena perutnya yang sudah besar membuat dirinya sedikit ada rasa bersalah. Kenzo memeluk tubuhnya dan mencium kening istrinya.
“Sayang, apakah kamu merasa ada yang sakit?” cemasnya.
“Ga kok, nafas aku sedikit berat aja, mungkin karena perut aku yang sudah sangat besar," jelas Zana sambil mengusap wajah panik suaminya.
“... kamu ga usah khawatir, sayang! Aku menikmatinya malam ini,” lanjutnya dan membuat Kenzo tersenyum lebar.
“Makasih ya, sayang. Malam ini adalah malam yang sangat indah.” keduanya saling melempar senyuman.
“Udah ngantuk belum?” tanya Zana, dan Kenzo pun hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
“... nonton yuk!”
“Ga suka nonton Yank, paling juga kamu mau ngajak aku nonton the word of the merried. Terakhir kamu nonton itu malah banyak menghujat si pelakor ketimbang nontonnya.”
“Habisnya aku kesel banget deh yang sama karakter pelakor gilaa itu, pengen aku jambak-jambak malahan mah.”
“Nah itu dia masalahnya, cantik kamu hilang kalau lagi kesel.”
“Lah kok ditinggal, mau kemana Yank? Aku tuh ga mau ditinggal-tinggal.”
“Bentaran doang, cuma buat susu untuk kamu aja kok ke dapur, tunggu ya!”
“Oia, cepet tapi yank! jangan sampai buat aku jadi kangen.”
“Cih ... baru tadi melepas kangen udah mau kangen lagi,” ucap Kenzo sambil mencubit hidung mancung istrinya. Kenzo pun melangkahkan kakinya keluar kamar.
“Yank, sekalian bikini pop mie ya,” ucap Zana sedikir teriak.
Denger ga sih? kok ga nyahut nih abang? batin Zana.
Sesampainya di dapur, dengan cekatan Kenzo membuat susu dan tak lupa juga menyeduh pop mie sesuai request dari istrinya. Tak lama Rei mendakat lalu bertanya.
“Bang, kak Zana dimana?” tanya Rei.
“Ada tuh di kamar,” jawab Kenzo. Tak membuang waktu lama Rei langsung melangkahkan kaki untuk menghampiri kamar kakaknya. Rei membuka pintu yang tidak di kunci itu lalu mendekati Zana yang sedang sandaran.
“Kata dokter, kapan Kak lahirannya?” tanya Rei.
“Dalam bulan ini Rei, tapi ga tau kapannya, ya siap-siap aja,” jawab Zana.
“Aku ga sabar kak nunggu dede bayi lahir, tapi aku juga takut kakak kenapa-kenapa saat persalinan,” ujar Rei menatap lekat-lekat mata kakaknya.
“Kamu kok mendadak cengeng sih? Kayak bukan Rei yang biasanya gitu. Ya dido’akan saja ya adikku sayang, kakak juga takut kok, tapi mengingat si kecil akan lahir kayaknya mengalahkan rasa takutnya deh, lagian ada bang Kenzo yang selalu menjaga kakak, pasti semuanya akan baik-baik saja Rei.” Zana mengusap-usap rambut Rei seperti kebiasaannya.
Setelah selesai membuat susu dan pop mie, Kenzo segera kembali ke kamar mengingat istrinya yang begitu rewel. Kenzo berjalan dengan hati-hati membawa susu dan pop mie itu dengan nampan, kedatangan suami yang perhatian itu membuat keakraban antara kakak dan adik sejenak menjadi canggung.
“Hayo ngobrolin apa serius banget? Rapat aja ga seserius ini, malahan sambil tiduran.”
“Siapa bang yang rapat? Ga kok Bang, cuma ngobrolin kelahiran baby kita aja.”
“Udah ada Abang. Ya udah aku tinggal dulu ya Kak, takut ganggu romantisme.”
“Apaan sih Rei, geje banget deh,” balas Zana.
“Udah kok Bang tadi, ini mau lanjut buat PR.” ucap Rei dan melangkahkan kakinya keluar.
**♥️♥️**
Sore itu Zacky yang baru pulang menyempatkan untuk mampir ke apotik menembus obat istrinya. Kebetulan juga apotik itu bersebelahan dengan toserba, sehingga Zacky bisa sekalian membeli beberap cemilan. Sesampainya di rumah Zacky langsung disambut oleh Yuri yang sedang berada di teras.
“Loh, kenapa diluar, yank?” tanya Zacky.
“Mau ngelihat senja, habisnya bosen di dalem cuma nonton Tv.”
“Kumenangis melepaskan, betapa kejamnya dirimu atas diriku, harus selalu kau tahu akulah hati yang telah kau sakiti,” senandung Zacky.
“Lah lagu film yang aku tonton tadi itu mah.” Yuri mengerutkan dahi.
“Njirrrr, nonton spongebob aja Yank,” saran Zacky dan berhasil mendapat lirikan tajam dari istrinya.
Tidak lama kemudian Gian datang bertamu. Maksud kedatangannya sudah jelas untuk curhat masalah pernikahannya dengan Kia. Meski kedatangan Gian sebetulnya tidak tepat, karena tuan rumah baru saja ingin mandi, akan tetapi persahabatan yang begitu kental membuat Zacky dengan kebesaran hati lebih mementingkan kedatangan sahabatnya itu.
“Loh ada Gian, ayo masuk!” ujar Zacky.
“Makasih Ky,” jawab Gian kemudian duduk di sofa ruang tamu.
“Wah ... jadi gak enak nih, ganggu ga Ky?” tanya Gian.
“Halah kamu … kayak dengan siapa aja, emangnya kalau aku keganggu kamu mau pulang gitu?”
“Ya engga juga sih Ky, ganggu ga ganggu gue tetep ga mau pulang,” jawab Gian nyengir.
“Nah ya udah, langsung aja to the poin. Ada masalah apa?” tanya Zacky.
“Rencananya gue mau ngelamar Kia, gua minta saran dong, Ky.”
“Lo tau 'kan pernikahan gue sama Yuri itu bukan atas kemauan gue yang mau nikah muda. Ya awalnya canggung dan benar-benar gak nyaman sih, tapi setelah dijalani kok malah nyaman, mungkin setelah banyak keputusan salah yang gue ambil, rasanya menikah adalah keputusan terbaik yang pernah gue ambil dalam hidup,” ujar Zacky.
“Bulatkan tekad lo deh, menurut gue lo sudah di jalan yang benar mau memutuskan hubungan yang tidak jelas lalu mengikat ke janjang yang lebih serius. Lo pikir dengan menikah di usia yang lebih tua dan mapan bisa menciptakan hubungan yang ideal? Nyatanya ada juga pasangan Korea yang menikah di usia matang dan mapan, toh apa? Ujung-ujungnya pisah juga 'kan?” sambung Zacky.
“Pasangan Korea siapa, Ky?
“Lah, masa lo ga tau, itu sempat viral lo.”
“Peduli amat, lo 'kan tau gue ini wibu, mana tau yang gitu-gitu.”
“Minum kopi dulu Yank,” Yuri membawa secangkir kopi.
“Ini ada Gian Yank, kamu ajak ngobrol dulu deh aku buatkan minum untuk Gian,” ujar Zacky.
“Ga usah Yank biar aku aja, lanjut aja ngobrolnya,” ucap Yuri, dan berjalan masuk ke dalam.
“Makasih ya, Sayang,” jawab Zacky.
“Kamu benar Ky, enak ya nikah muda, ada yang ngurusin dan meratiin, mungkin seiring waktu juga akan saling mendewasakan,” ujar Gian.
.
.
.
.
.
~Bersambung
Jangan lupa Like, dan Vote sebanyak-banyaknya ♥️♥️♥️
Kolom komentar terbuka lebar untuk kalian yang mau berkomentar... Karena komentar kalian adalah mood booster buat Author...
CU Next Time... 😘😘😘
Cerita ini hasil kolaborasi bersama dengan Author "Terpaksa Menikahi Pria Culun" Arip Riko. Jangan lupa untuk mampir ke karya dia ya ...