Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
episode 4



Dia lain sisi reina dan nando yang masih berselisih paham tentang hubungannya mereka yang sudah diujung tanduk .


“de tunggu mas sebentar”


“mau apa lagi mas? Mas mau marah sama aku gapapa lebih baik mas marah dari pada kita menikah tapi mengorbankan calon bayi yang gak bersalah itu”


“de kita tenang dulu gak usah gegabah kita selesaikan dulu masalah adik-adik kita ya habis itu kita baru urus masalah kita”


Reina yang sudah tidak tau harus apa hanya bisa menangis di pelukan nando.


“ayah maafin cia”


“pokoknya saya gak mau turut campur dalam pernikahan ini karna mulai detik ini cia bukan anak saya lagi”


“maaf bapak barra yang terhormat pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa disepelehkan begitu saja”


“pokoknya saja gak mau turut camput karna saya malu memiliki anak yang hamil diluar nikah”


“tapi bapak gak bisa langsung melepas unay seperti itu juga pak”


“ya pokoknya saya sudah gak mau ngurus anak yang tidak tau diri ini. Dia sudah buat saya kecewa”


“yah maafin cia “


“saya bukan ayah kamu lagi jadi jangan kamu berani-beraninya menyentuh saya paham kamu” ucap ayanya unay sambil mendorong pundak unay sampai terjatuh kebawah.


“pak barra anda jangan kasar pada unay bagaimana pun dia tetap putri anda”


“hiks….hiks… yah cia minta maaf “ucap unay yang masih berada dibawah karna terjatuh tadi sambil mersungku memegang kaki ayahnya tersebut.


Jey yang merasa bersalah tiba-tiba menangis melihat sahabatnya yang selalu ceria gembira harus menangis dihadapannya.


Andai dia tidak melakukan kesalah mungkin unay masih tertawa gembira.


“ayo kita pulang mah” ucap barra sambil menarik tangan istrinya.


“pah tunggu cia” ucap unay sambil berusaha menggapai kaki ayahnya karna kakinya kram jadi dia hanya bisa duduk.


“kamu itu tuli yak an saya sudah bilang kamu itu bukan anak saya laki paham dan mulai sekarang kamu saya usir dari rumah terserah kamu mau tinggal dimana” ucap barra sambil menghempaskan kakinya yang hamper mengenai muka unay.


Tampa memperdulikan keadaan unay barra langsung membawa mamanya unay pergih dari rumah itu.


Jey berlari memeluk tubuh ringkih unay dan memegang tangannya dengan erat.


Ia ikut menangis merasakan apa yang unay rasakan diusir oleh orang tua yang sudah merawatnya sejak lahir.


“jangan dipukul lagi ya…. Kasian anak kita “ ujar jey sambil memeluk tubuh unay.


“aku gak mau hamil” ucap unay sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan jey.


Jey yang hanya bisa menangis tetap memeluk tubuh unay walaupun banyak pukulan yang ia terima.


Bunda jey yang melihat kondisi kedua remaja itu tak kuasa menahan sesak didadanya. Ia kembali merasakan sakit dan jatuh pingsan lagi.


Bruk….


Ria kembali pingsan dengan perasaan kalut ayah menggendong bunda memasuki mobil untuk dibawa kerumah sakit.


“kak kamu suru jey bantu unay masuk ayah bawa bunda ke rumah sakit dan kalian gak perlu nyusul “


Reina menghampiri jey yang senantiasa memeluk tubuh unay. Ia berusaha menahan air mata didepan adiknya.


“de bantu unay masuk kakinya masih kram kan” ucap reina


Jey langsung menggendong unay.dan membawa masuk kedalam rumahnya.


Ia membawa ia masuk kekamar untuk istirahat dan menurunkannya dipinggir ranjang.


Unay memandang jey dengan pandangan yang sangat sulit terbaca “jey”


“hmmm”


“apa aku gugurin aja kandungan ini ya? Jadi kamu gak perlu nikahin aku terus ayah mau nemuin aku lagi” ucap unay sambil terbata-bata.


Jey langsung memeluk erat unay, ia langsung menaruh wajahnya dileher unay yang membuat unay kembali menangis.


“kamu jangan ngomong gitu kamu harus janji kita jaga bayi kita sampai lahir” ucap jey menenangkan unay.


“tapi gara-gara bayi ini aku diusir dan gak dianggap anak lagi sama orang tua ku jey.”


“bukan bayi ini yang salah tapi aku yang salah ini bukan salah kamu bukan juga salah bayi ini “jey berusaha memberi pengertian.