
Sarah sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang dirasakannya. Dia memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit. Rangga sebagai suami yang siaga pun mengantarkan istrinya. Sesampai di Rumah Sakit, Rangga mendaftarkan istrinya ke dokter umum. Setelah mendapat nomer antrian, keduanya pun duduk di depan ruang tunggu panggilan.
Sarah menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Dia merasakan kepalanya yang pusing sekali dan wajahnya terlihat sangat pucat. Tidak lama akhirnya namanya di panggil dan sepasang suami istri itu pun masuk. Pertama-tama Sarah menyebutkan gejala yang dirasakannya. Dokter pun menyuruhnya tidur untuk memeriksanya lebih lanjut lagi.
“Kapan Ibu terakhir datang bulan?” Tanya Dokter yang membuat jantung Sarah berdetak dengan kencang.
Sarah pun mengingat-ingat, karena dia pun tidak sadar kapan dirinya terakhir datang bulan.
“Saya juga ga ingat, Dok,” Dokter pun menyuruhnya bangun dan Sarah pun kembali duduk di samping suaminya.
“Jadi, gimana Dok?” tanya Rangga penasaran dengan kondisi istrinya.
“Sebentar, sebelumnya saya belum bisa pastikan, tapi kemungkinan istri Bapak hamil. Mungkin sekarang saya akan bikin surat rujukan ke Dokter Kandungan ya Pak, biar lebih jelas lagi.” Dokter pun menulis surat rujukan, sedangkan sepasang suami istri ini diam terpaku.
Mereka benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan mendapatkan anak lagi. Sungguh ini di luar rencana mereka. Sarah sangat takut, apakah bisa diusianya yang empat puluh tiga tahun bisa mengandung seorang anak lagi? Bagaimana dengan Kenzo? Pastinya dia akan sangat malu pada anaknya. Dimana yang harusnya dia mendapatkan seorang cucu, malah mendapat seorang anak lagi.
Dokter pun menyerahkan surat rujukan ke Dokter ahli kandungan. Keduanya langsung menuju Dokter kandung yang berada tidak jauh dari sana. Setelah menyerahkan surat rujukan ke tempat pendaftaran, keduanya pun duduk mengantri di antara ibu-ibu muda yang sedang mengandung.
Ada rasa malu dalam hati Sarah, karena hampir semua yang ada di sana terlihat masih berusia muda. Rangga tahu kecemasan sang istri, dia menggenggam tangan istrinya. Keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman.
Sejak mendengar diagnosis Dokter, keduanya sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Hati Sarah kini berdegup dengan kencang begitu juga yang di rasakan suaminya. Setalah emoat ouluh lima menit menunggu antrian, akhirnya keduanya pun masuk. Sarah melangkahkan kakinya yang sedikit gemetar. Keringat nya mulai bercucuran, dia merasakan sangat gugup, mengingat sudah delapan belas tahun Sarah tidak pernah menginjakkan kaki di Dokter Kandungan.
Rangga merangkul sang istrinya, dia tau kalau istrinya sangat gugup.
“Sore, Dok,” Sapa Rangga, Dokter pun menjawabnya dan menyuruh keduanya untuk duduk.
Dokter Rina, dia adalah Dokter kandungan yang akan memeriksa keadaan Sarah. Dr.Rina mulai memeriksa Sarah. Sejak tadi Sarah menggenggam tangan Rangga, karena merasa gugup. Dr.Rina punenyuruh Sarah tidur dan setelah itu Dia memberikan jel biru di atas perut Sarah dan dia mulai meletakan alat di atas perutnya.
Kekhawatiran Sarah pun benar-benar terjadi. Ternyata di perutnya sudah ada janin yang tumbuh. Sarah tidak terasa meneteskan air matanya, bukan karena bahagia, tapi dia memikirkan mana bisa di usia dia sekarang harus mengandung seorang anak?
Setelah selesai, Rangga membantu istrinya bangun dan mereka duduk kembali.
“Dok, apa bisa saya mengandung di usia saya yang sudah di atas kepala empat? saya takut dok,”
“Bisa aja bu, bahkan saya mempunyai pasien yang kepala lima masih ada yang mengandung. Masalah anak itu rezeki dari Tuhan Bu, selama Ibu dan janinnya sehat itu tidak akan masalah. Ibu harus rileks dan tidak stress maka, anak yang ada di perut Ibu akan baik-baik saja,”
Setelah konsultasi yang cukup lama, Dokter pun memberikan resep dan keduanya pun pamit. Rangga merasa bersalah melihat istrinya yang sejak tadi berjalan dengan tatapan yang kosong ke depan. Rendra merangkul istrinya, “Sayang, ingat kata Dokter, kalau kamu tidak boleh banyak pikirian,”
“Aku takut dan lagi Aku malu pada anak dan menantu kita,”
“Kenapa harus malu? Kenzo akan senang kalau tahu dia akan memiliki seorang adik. Kan memang sejak dulu Dia menginginkan itu,” ucap Rangga berusaha membuat istrinya semangat.
“Itu dulu Yah, sekarang Dia sudah menikah dan pasti yang Dia inginkan sekarang bukan seorang adik melainkan seorang anak. Yah, aku takut.” Sambil berjalan Sarah memeluk pinggang suaminya.
“Tenang aja Bun, aku yakin anak dan menantu kita akan senang mendengar berita ini.” Rangga menyambut pelukan istrinya dengan merangkul bahunya.
.
.
.
.
~Bersambung~
Maaf ga up kemarin-kemarin...
Sakitnya kumat lagi😭😭😭
ada yang punya saran ga cara cepat menghilangkan sakit gigi?🥺😃😃😃 hahaha cuzz komen, tapi jangan lupa like dan vote juga yaaa....