Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Persalinan



Sudah dua hari ini Zana merasakan bayi yang berada di dalam kandungannya tidak aktif seperti biasanya. Dia juga merasakan pinggangnya yang semakin sakit setiap kali dirinya melakukan aktifitasnya. Tapi, apa yang sedang dirasakannya tidak dia ceritakan pada suaminya, karena dia tidak mau membuat suaminya merasa sangat khawatir. Terlebih pikiran semua orang masih tertuju pada Gian yang sampai detik ini belum juga sadarkan diri.


Malam ini, giliran Kenzo untuk menjaga sahabatnya di rumah sakit. Kenzo terus mewanti-wanti sang istri untuk selalu menghubungi dirinya apabila dirinya merasakan sesuatu.


“Pokoknya kabari aku ya, Sayang! Apapun yang kamu rasakan.” sekali lagi Kenzo mengatakan kalimat yang sama berulang kali pada istrinya sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Zana hanya tersenyum mengangguk.


Setelah suaminya pergi, Zana dengan perlahan melangkahkan kakinya menuju sofa di kamarnya sambil memegangi pinggangnya. Entah kenapa pinggangnya sakit dan terasa sangat panas.


“Ada apa ini?” ucapnya pelan


Perutnya terasa semakin kencang, dan dia merasakan sakit yang luar biasa. Zana berusaha menahan rasa sakitnya dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia mulai mencari tahu bagaimana tanda-tanda akan melahirkan.


Setelah membaca artikel yang ada di google, Zana semakin yakin kalau dirinya akan mendekati waktu persalinan. Mengetahui hal itu, Zana tidak merasa panik. Dia berusaha setenang mungkin untuk menghadapinya. Dia tidak ingin membuat semua orang merasa gekisah dnegan keadaannya.


Kini sakit di perutnya semakin terasa. Dan yang membuat Zana semakin yakin adalah saat dia merasakan ada sesuatu yang keluar. Zana berjalan perlahan menuju kamar mandi. Dan benar saja, ada bercak darah pada celananya. Itu salah satu tanda-tanda yang dia baca di artikel tadi.


Zana pun menyiapkan tas perlengkapan bersalinnya. Hari sudah sangat larut, dan semua orang yang ada di rumahnya sudah tertidur lelap. Zana berjalan ke ruang tamu sambil membawa tas perlengkapannya.


Seperti yang dia baca diartikel, bahwa pembukaan orang yang akan melahirkan membutuhkan waktu yg lumayan lama. Dia bulak-balik berjalan mengelilingi rumah, sambil melihat jam yang ada di tangannya.


Kini, rasa sakit yang dirasakannya sudah lima menit sekali. Sesuai keterangan dalam artikel, apabila sudah merasakan mules perlima menit maka sebaiknya segera ke dokter.


Tok ... tok ... tok


“Ma, Pa!” ucap Zana sambil menahan rasa sakitnya yang sudah tidak tertahankan. Mendengar suara ketokan pintu, Putri langsung bangun dan membuka pintu kamarnya.


Betapa kagetnya dia saat melihat anak sulunganya merunduk sambil memegangi perutnya.


“Sayang! Apa yang kamu rasakan?” tanya Putri dengan nada yang kaget.


“Ma, ayo kita ke rumah sakit. Aku sudah tidak kuat,” kata Zana dengan nada yg terdengar kesakitan.


“Pa ... papa, cepetan, Pa!” teriak Putri seketika membuat Tristan bangun dari tidurnya dan menghampiri mereka.


“Ada apa, Ma?” tanya Tristan dengan masih setengah sadar.


“Zana akan melahirkan, ayo kita segera ke rumah sakit!” mendengar itu, tanpa pikir panjang, Tristan langsung berlari ke garasi mobil untuk menyiapkan mobil buat anaknya.


Saking paniknya, kedua orang tua Zana tidak mengadari kalau mereka pergi masih menggunakan piyama. Selama perjalanan Zana terjs merintih kesakitan. Perutnya semakin sakit dan kini maju tiap tiga menit sekali.


Karena menghawatirkan sang anak, mereka pun lupa untuk memberitahukan kepada Kenzo bahwa istrinya akan segera melahirkan. Sampai di rumah sakit, mereka pun segera membawa Zana ke UGD.


Zana mulai tidak tahan ingin mengeluarkan anaknya. Tim menis menyuruh Zana untuk menahannya, karena mereka sama sekali belum ada persiapan. Dokter mulai sibuk memakai perlengkapan untuk menghadapi persalinan.


Semua terlihat panik pada saat ketuban yang sudah pecah. Para suster pun membawa Zana masuk ke ruang persalinan. Putri tampak cemas, dia terus menangis melihat anaknya yang menahan rasa sakitnya.


“Tenang, Ma! Semua akan baik-baik saja,” ucap Tristan sambil merangkul istrinya.


“Pa! Kenzo.” Putri yang langsung ingat pada menantunya langsung menghubungi Kenzo. Beruntungnya mereka berada di rumah sakit yang sama.


“Bang, segera ke tempat bersalin, Zana mau melahirkan.” mendengar itu, Kenzo dengan cepat berlari ke tempat bersalin yang berada di gedung sebelah tempat dia berada.


Jantungnya berdetak dengan cepat saat mendengar istrinya akan melahirkan. 'Sayang tunggu aku!' sambil berlari dia terus saja mengatakan hal itu.


Zana sudah mulai tidak bisa menahan tekanan dari anaknya yang ingin segera keluar. “Dok, aku sudah tidak kuat,” ucapnya.


“Sabar, sebentar lagi. Tinggal tiga pembukaan lagi. Tahan ya!” ucap dokter. Karena memang pada saat itu Zana masih memasuki pembukaan tujuh.


“Ga kuat, Dok!” Zana terus saja berusaha ingin mengeluarkan anaknya. Dokter pun terpaksa ambil tindakan. Zana terus mendorong sang anak untuk keluar.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Kenzo akhirnya sampai ke tempat persalinan. Melihat kedua mertuanya Kenzo pun langsung menghampiri mereka.


“Ma, Pa! Dimana Zana?” tanyanya dengan wajah yang sangat khawatir.


“Di dalam ruangan, Bang.” Kenzo segera mendekat ke ruangan tempat Zana melahirnya. Seketika langkah Kenzo terhenti di depan pintu saat mendengar tangisan bayi di dalam ruangan itu.


Seketika tubuhnya lemas, dia jatuh duduk di lantai. Dengan cepat Putri dan Tristan menghampiri dirinya.


“Bang, ada apa?” tanya Putri. Tristan dan Putri mengangkat tubuh Kenzo dan memapahnya untuk duduk di bangku depan ruangan.


Keduanya ikut kaget saat mendengar suara bayi yang ada di dalam.


“Pa, cucu kita ....” ucap Putri langsung memeluk suaminya. Keduanya tidak bisa menahan air mata kebahagiaan saat mendengar tangisan bayi yang ada di dalam. Bukan hanya kedua orang tua Zana, Kenzo yang duduk lemas pun meneteskan air matanya. Ada penyesalan dalam dirinya. Dia tidak bisa menemani sang istri untuk mengeluarkan buah hatinya.


“Bang, anakmu sudah lahir,” ucap putri kegirangan. Kenzo tertunduk dalam duduknya. Dia tidak bisa berkata-kata saat itu. Impian dia untuk menemani istrinya melahirkan pupus sudah. Walaupun begitu dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


“Selamat Nyonya, anak anda laki-laki,” bisik suster. Tubuhnya lemas dan penuh dengan keringat. Zana seketika meneteskan air matanya saat melihat bayi mungil yang sedang tisur diatas dadanya.


...'Terimakasih, Tuhan.' gumamnya....


Setelah proses persalinan beres, Zana pun dipindahkan ke dalam ruangan. Kenzo terus menatap sang istrinya yang sedang tertidur pulas karena kelelahan. Memang setelah persalinan, Zana merasa tubuhnya sangat lemas, matanya yang berat memaksa dia untuk memejamkan matanya. Bagaimana tidak? Zana semalaman tidak tidur menahan rasa sakitnya.


“Sayang, maafkan aku! Aku tidak bisa menemani kamu. Maafkan aku!” terus menerus Kenzo mengatakan itu, sambil menggenggam tangan Zana dia menangis tertunduk.


.


.


.


.


~Bersambung~


Ditunggu Like, Komen dan aku sangat berterimakasih kalau kalian bersedia untuk vote novel ini...


AKU PADAMU SEMUANYA♥️♥️♥️