
“Dok ... Dokter!” Teriak Rani ketika melihat jari-jemari Gian yang bergerak. Rasa haru dan senang membuat Rani tidak melepas pandangannya dari jari anaknya.
Raffa dengan cepat memanggil suster dan dokter jaga pada saat itu. Tim medis pun berlarian menuju ruangan. Mereka mengecek berbagai Alat yang terpasang pada tubuh Gian. Dokter membuka kedua mata Gian memeriksa keadaannya.
“Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan anak saya?” tanya Raffa penasaran. Tim madis pun membuka satu-persatu alat yang ada di tubuh Gian karena memang konsdisi tubuhnya yang sudah tidak memerlukam semua itu.
“Kondisinya stabil, Pak. Ada perkembangan yang bagus. Kita hanya menunggu dia sadar.” apa yang dikatakan dokter membuat kedua hati orang tuanya sangat senang. Mereka pun langsung menelepon Kia untuk memberitahukan kabar baik ini.
Mendapat telepon, Kia langsung pamit dan berlari ke gedung dimana kekasihnya di rawat. 'Terimakasih, sayang. Terimakasih, Tuhan.' Tidak henti-hentinya Kia mengucap syukur sambil melangkahkan kakinya ke ruangan Gian.
“Bunda!” Kia langsung menghampiri Rani yang duduk di pinggir kasur sambil menggenggam tangan Gian.
“... bagaimana keadaan Gian?” tanya Kia. Seketika dia kaget saat melihat alat-alat ditubuh Gian dilepas.
“Bun, ini ada apa?” Rani tersenyum, “Tadi jarinya Gian bergerak, dan dokter membuka semua Alat karena ada perkembangan dan katanya Gian sudah tidak membutuhkan alat-alat itu dipasang. Kita tingga menunggunya siuman, Sayang.” Kia menutup mulutnya saking kagetnya dia.
“Sayang, ini aku! Aku menunggu kamu, dan akan terus menunggu kamu. Bangun ya!” ucapnya sambil beberapa kali mencium tangannya.
Benar saja, perlahan jari Gian bergerak dalam genggaman Kia. Kia yang merasakannya dia langsung berdiri dari duduknya dan mendekat ke wajah kekasihnya.
“Sayang, Sayang! Kamu denger aku 'kan?” Melihat reaksi dari Kia, Rani dan Raffa yang sedang duduk santai pun langsung berdiri menghampiri mereka.
“Ada apa, Kia?”
“Bunda, Ayah, tadi Gian menggerakkan jarinya,” jawabnya dengan nada kegirangan.
“Gian, Nak! Kamu dengar Ayah?” tiba-tiba saja Gian mengangguk pelan. Ternyata Gian sudah sadar dari komanya, tapi sebenarnya dia masih sangat berat untuk membuka matanya.
Semua yang melihay reaksi Gian sangat bersyukur. Kabar baik ini oun langsun di share pada saudara dan kerabat mereka. Selagi Rani dan Raffa yang sibuk memberitahukan kabar gembira tentang perkembangan anak mereka, Kia teeus saja mengajak ngobrol Gian.
Tidak henti-hentinya mulut Kia bicara. Dia hanya ingin Gian terus sadar walaupun dia belum membuka matanya.
Perlahan Gian menggerakkan matanya. Kia pun memanggil Rani dan Raffa. Mereka bertiga mengelilingi tempat tidur Gian dan menunggu dia membuka matanya. Rani tak henti-hentinya mengucap syukur saat Gian perlahan membuka matanya.
Gian mengerenyitkan mata saat membukanya dan melirik satu persatu orang yang ada di sana. Bagai orang yang linglung, dia hanya memutar bola matanya bergantian melihat orang sekelilingnya.
“Sayang, ini aku Kia,” ucap Kia saat mata Gian tertuju padanya cukup lama. Gian pun perlahan menarik sudut bibirnya, tersenyum. Kia bersyukur, perasaannya yang tidak enak tadi, bukan berarti apa-apa. 'Sayang, terimakasih kamu mau bangun dan memberikan senyuman itu padaku lagi,' gumamnya sambil terus menatap Gian dan tersenyum padanya.
Rani tak kuat menahan tangis kebahagiaannya di dalam pelukan suaminya. Akhirnya harapan semua orang terkabul dengan sadarnya Gian. Hari ini, adalah hari yang sangat bahagia dengan lahirnya baby Gael dan juga sadarnya Gian. Kebahagiaan yang teramat luar biasa, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih semuaaaaa .... ❤️❤️
Jangan lupa like dan komennya 😊😊😊😊...
Follow IG Author dong @PENULISMICIN biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author dan juga Follow akun Mangatoon/Noveltoon Aku ya 😘
AKU PADAMU SEMUANYA ❤️❤️❤️