
Ya ... Tepat satu bulan sudah Kia menjauh dari Gian. Tidak di pungkiri rasa rindunya begitu besar padanya. Sebenarnya ini bukan cuma keinginan Kia yang mau menjauh darinya, tapi memang dirinya sibuk mengikuti berbagai pelajaran tambahan mengingat mereka yang sudah duduk di kelas XII SMA.
Hari ini Kia pergi dengan membawa kendaraannya sendiri, karena jadwal lesnya padat sampai kelas malam. Dia sudah meminta izin pada kedua orang tuanya akan pulang telat hari ini. Mobil Yaris putih sudah siap terparkir di depan rumahnya dan Kia pun pamit pergi pada kedua orang tuanya.
Sudah 5 hari ini Gian tidak pernah lagi datang ke rumahnya untuk menjemputnya. Mungkin dia lelah karena, selalu mendapat penolakan dari kekasihnya. Sesampai di sekolah, Kia memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju kelas. Langkah dia terhenti saat melihat Gian yang berdiri menyenderkan tubuhnya di dinding dekat gerbang sekolah.
Kia binggung apa yang harus dia lakukan. Dia pun memutuskan masuk kedalam gerbang sambil menunduk dan pura-pura tidak mengetahui keberadaan Gian di sana. Melihat gadis yang sejak tadi di tunggunya Gian langsung menghampiri Kia dan itu membuat Kia menghentikan langkahnya.
“Bisa bicara sebentar?” dengan suara merdu Gian menatap wajah Kia. Dia masih menunduk tidak menatap wajah Gian, tapi mendengar suara Gian membuat rasa rindunya semakin membara. Kia hanya mengangguk menjawabnya. Keduanya pun berjalan ke taman sekolah. Sekolah masih sangat sepi, karena memang keduanya datang di waktu yang masih pagi.
Keduanya pun duduk di bangku taman di bawah pohon rindang. Gian terus menatap wajah kekasihnya seakan-akan mengungkapkan betapa rindunya dia dengan wajah cantiknya.
“Ada apa?” tanya Kia dengan tatapan lurus ke depan.
“Sampai kapan kita seperti ini? Apa kamu sudah tidak menyukaiku?” Kia langsung melirik ke arah Gian menatapnya dengan sinis.
“Menurut kamu gimana?” ucapnya dengan nada yang kesal.
“Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan. Kalau memang kamu sudah tidak mempunyai perasaan padaku, aku rela kok kamu mau pergi meninggalkan ku. Dan aku berjanji tidak akan menganggu kehidupan kamu lagi.”
Mendengar itu hati Kia merasa sangat sakit. Dia mencoba menahan air matanya dan berusaha tegar di depan Gian.
“Jadi, selama ini kamu berpikir seperti itu? Oke, lebih baik memang kita sudahi saja, percuma apa yang aku lakukan tidak membuat kamu mengerti aku,” Kia berdiri dan hendak meninggalkan Gian tapi, dengan cepat Gian menggenggam tangannya.
Gian memberikan kotak ke tangan Kia.
“Minum ini, aku lihat kamu terlalu sibuk belajar. Jaga kesehatanmu,” setelah menyerahkan vitamin di tangannya, Gian langsung melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang.
Tubuh Kia seketika merasa lemas, dia pun kembali duduk. Kini air matanya sudah tidak bisa di tahan lagi. Dadanya terasa sangat sesak, air matanya terus mengalir. Apa aku salah selama ini, Tuhan? Tangisnya semakin menjadi. Kia langsung berlari ke toilet karena, semakin banyak siswa yang mulai berdatangan.
Air matanya tidak bisa berhenti. Kia duduk di toilet menangis, menatap 1 kotak vitamin yang di berikan Gian padanya. Tubuhnya sangat lemas, ingin rasanya dia berlari dan memeluk tubuh Gian, tapi apa daya dia tidak bisa melakukannya.
Bel masuk pun berbunyi, tapi Kia masih tetap di dalam toilet. Dia tidak bisa memasuki kelas dengan keadaan wajahnya yg sembab, terlebih lagi air matanya yang sejak tadi masih terus mengalir. Kia merindukan masa-masa dulu kebersamaan dia dengan Gian, sebelum mereka berkomitmen untuk pacaran.
Gian seorang yang penuh perhatian, walaupun memang dia selalu usil padanya tapi, Kia tidak pernah merasa terganggu dengan keusilan nya. Selama dua tahun hubungannya dengan Gian membuat dia belajar bahwa ikatan persahabatan lebih kuat di banding ikatan cinta.
Terlintas rasa menyesal Kia yang mau menjalin kasih dengan Gian. Karena, kalau sudah seperti ini dia tidak bisa sedekat dulu dengan orang yang di sayanginya. Kia memilih lebih baik dia terus bersahabat dengan Gian, memendam perasaannya dari pada harus berpisah seperti ini. Tangis Kia semakin menjadi mengingat betapa dekatnya dia dan Gian dulu.
Kia memutuskan untuk istirahat di UKS. Dia mengabari Shella sahabat sekaligus teman sebangkunya kalau dia tidak enak badan dan sekarang berada di UKS. Shella pun memberitahukan pada guru yang sedang mengajar dikelas.
Bel istirahat pun berbunyi. Shella bergegas menghampiri Kia yang berada di UKS karena, sejak tadi dia merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Melihat Shella, Kia kembali mengeluarkan air matanya. Dia langsung menyambut tubuh Shella dalam pelukannya.
Shella tidak mengerti apa yang terjadi pada Kia. Tapi, dia menyambut pelukannya dan membiarkan Kia meluapkan rasa sedihnya. Setelah sepuluh menit Kia menangis, dia pun melepaskan pelukannya dan tertunduk melihat kembali kotak vitamin yang ada di tangannya.
“Lo, kenapa?” tanya Shella sambil mengusap air mata yang ada di pipi Kia.
sambil menatap kotak vitamin, Kia kembali menangis “Gi-Gian ... Gian ...," ucapnya tersedu-sedu.
“Iya, ada apa dengan Gian? Kalian berantem lagi?”
“Gian ... Dia menyerah, Dia pergi La,” kembali tangisnya pecah sambil terus menatap kotak yang ada di tangannya.
Shella mengerti apa yang di rasakan oleh sahabatnya. Kembali di memeluk tubuh Kia, menepuk pundaknya untuk menenangkannya.
“Gue yakin, Gian sangat mencintai lo, mungkin saat ini yang terbaik untuk kalian. Saling introspeksi diri dan merenungkan kesalahan kalian berdua,”
“Apa tidak cukup sebulan ini kita saling introspeksi diri? Kenapa harus menyudahi hubungan kita untuk merenung? Gue sengaja menjauh dari dia, agar dia bisa belajar dari kesalahannya. Tapi, kenapa dia malah memutuskan semuanya? Kenapa La?” air mata Kia terus mengalir. Shella tidak tau apa yang harus dia lakukan.
Tidak terasa jam istirahat pun berbunyi. Shella Pamit pada sahabatnya dan berjanji sepulang sekolah akan menemui nya lagi. Kia mengangguk, dengan berat hati Shella meninggalkan sahabatnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa like dan komen ya zeyeng-zeyengku..
Juga Vote author sebanyak-banyaknya biar Author semangat update terus ceritanya...😊😊😊