
Sebelum masuk ke dalam kelasnya, Shella menghampiri Gian yang sedang asik ngobrol berjalan menuju kelasnya. Shella menarik tangan Gian dan menceritakan tentang Kia padanya. Ada rasa bersalah dalam diri Gian. Sebelum pergi ke UKS, terlebih dahulu Gian membeli roti dan susu di kantin, karena dia tahu kalau Kia belum memakan apapun pada saat jam istirahat.
Kia menatap layar ponselnya yang di penuhi dengan foto-foto nya bersama mantan kekasihnya. Tidak terasa air matanya kembali mengalir di atas pipi nya. Entah kenapa hari ini rasa rindunya begitu besar pada Gian? Kia berharap bahwa hubungan mereka bisa seperti dulu sebelum dia menjalin hubungan dengan Gian.
Kia merasa hari ini dia tidak kuat untuk menerima pelajaran. Dia pun memutuskan untuk meminta surat izin pulang. Langkah Kia terhenti saat hendak keluar dari ruang UKS. Tatapan Kia menatap lurus ke arah Gian yang sedang berdiri di pintu sambil tersenyum padanya.
Apa ini hanya hayalanku? melihat Gian yang berdiri di sana meragukan pikirannya tentang apa yang di lihatnya. Kia menundukkan kepalanya dan mengedipkan matanya. Gian yang melihat kelakuan mantan kekasihnya tertawa dan menghampirinya. Gian merangkul tubuh Kia agar kembali ke atas kasur untuk istirahat. Kia hanya pasrah mengikut langkahnya sambil tertunduk. Jantung nya berdebar dengan sangat cepat, dia tidak menyangka kalau Gian menghampirinya disini.
“Mau kemana? Kalau masih sakit mending istirahat dulu,” ucapnya sambil menuntun Kia untuk naik kembali ke atas kasur.
“Vitaminnya udah diminum? Nih aku bawain roti sama susu coklat kesukaan kamu, pasti kamu belum makan kan?” Kia hanya diam dan menatap lurus ke arah Gian. Gian membukakan bungkus rotinya lalu memberikannya ke tangan Kia.
“ ... Kok bengong? Di makan donk rotinya,”
“Sebenarnya, mau kamu apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti dengan sikap kamu,” tatapan Kia terus menatap Gian. Bukan jawaban yang di dapatkannya melainkan hanya sebuah senyuman. Dan itu membuat Kia semakin binggung. Kia merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Gian tertawa, dia membuka selimutnya dan menarik tangan Kia agar dia duduk kembali.
“Aku menyesal, hanya itu yang bisa aku bilang saat ini. Dan aku tidak ingin hubungan kita menjadi menjauh. Aku ingin kita seperti dulu lagi.” Ucapan Gian membuat hati Kia semakin teriris. Secara tidak langsung, Gian tidak ingin melanjutkan hubungan mereka lagi. Air mata Kia kembali mengalir, dia tertunduk dan menangis terisak.
“Kia, kamu kenapa? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Aku minta maaf! Please, jangan menangis!” Gian menggenggam tangannya. Dia tidak mengerti kenapa Kia menjadi sangat sensitive akhir-akhir ini?
Kia turun dari tempat tidurnya, dia berlari meninggalkan Gian dan masuk ke dalam toilet wanita. Kian mengejarnya dan berdiri di depan pintu, menunggu Kia keluar. Di dalam toilet Kia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa mengutarakan apa yang dirasakan nya pada Gian. Mulutnya seolah-olah terkunci, untuk bilang kalau dirinya masih sangat mencintainya.
Sudah 15 menit Gian berdiri di depan pintu tapi Kia tak kunjung keluar. Gian berusaha menelponnya, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Kia. Gian pun mengirim pesan pada Shella untuk menghampiri Kia yang dari tadi berada di dalam toilet.
Beruntung Shella sedang memegang ponselnya yang dia sembunyikan di kolong mejanya. Mendapat pesan dari Gian, Shella meminta izin pada guru dan segera berlari ke arab toilet.
“Gian, Kia dimana?” tanya Shella dengan wajah yang panik. Gian segera menyuruhnya untuk masuk ke dalam toilet, karena sejak tadi Gian merasa sangat khawatir.
Kia jongkok di pojok kamar mandi, menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya. Punggungnya mengambarkan dirinya yang sedang menangis terisak-isak. Shella menarik nafas dalam, dia menghampiri Kia dan memeluk tubuhnya. Kia kaget! Dia langsung mengangkat wajahnya. Melihat sahabatnya yang datang dia langsung memeluk kembali tubuh Shella dengan sangat erat.
“La, gue masih mencintainya. Apa gue salah dengan sikap gue selama ini? La, Gian sudah tidak menyayangi gue lagi, gue harus bagaimana?” Kia terus menangis.
“Lo kan ga tau perasaan Gian yang sebenarnya kalau lo tidak mau menanyakan padanya. Dia sejak tadi menunggu lo di luar,”
“La, gue mau pulang! Tapi, gue minta tolong suruh dia pergi,” Shella pun menuruti titah sahabatnya. Dia memohon pada Gian untuk tidak menunggu Kia.
Setelah Gian pergi, Kia pun memohon izin pada guru untuk pulang karena dirinya yang merasa tidak enak badan dan dia pun mendapatkan izin itu. Berulang kali Shella menawarkan untuk membawa mobilnya, tapi Kia menolak, dia tidak ingin menganggu jam pelajaran sahabatnya.
Kia pun berjalan ke parkiran. Betapa kagetnya dia melihat Gian yang sedang berdiri di depan mobilnya. Ternyata Gian tidak menyerah, setelah di suruh Shella untuk pergi, Gian langsung meminta izin pada guru dan bergegas menunggu Kia di parkiran, depan mobilnya.
Melihat kedatangan Kia, Gian langsung melempar senyumannya tanpa dosa.
“Mau apa kesini?” tanya Kia dengan nada yang jutek dan terus berjalan, membuka pintu mobilnya. Gian dengan cepat mengambil kuncinya, merangkul Kia berjalan ke arah pintu penumpang dan membukakan pintu untuknya. Kia yang merasa heran pasrah dan masuk kedalam mobil. Rendra tersenyum , dia berlari kecil dan masuk ke dalam. Gian pun melajukan mobilnya.
“Aku udah izin kok,” jawabnya santai seperti tidak terjadi sesuatu apapun. Kia tidak melanjutkan bicaranya. Dia hanya diam sambil menatap ke arah jendela sampingnya.
Gian memarkirkan mobilnya di taman komplek tempat tinggal kekasihnya itu.
“Kok berhenti!” ucap Kia dengan nada yang sedikit marah dan jutek.
Gian menarik tangan Kia lalu menciumnya. Kia merasa sangat kaget dengan sikap Gian yang tiba-tiba menjadi sangat manis. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
“Sayang, kamu tau hal yang paling berat dalam hidup aku? Yaitu kehilangan kamu yang sebagai kekasih maupun sebagai sahabat aku. Aku sangat mencintaimu, dan mungkin saking cintanya aku sama kamu, aku tidak ingin siapapun mendekatimu. Mungkin selama ini aku salah telah membatasi pergaulanmu dan aku mohon maaf selama ini aku selalu bersifat egois padamu. Sayang, aku ingin kita seperti dulu lagi, jadi aku mohon maafkan aku yang dulu tidak pernah mengerti akan perasaanmu.”
Mendengar itu Kia kembali menangis. Entah sudah berapa kali air mata ini keluar dari pipinya. Jujur apa yang di katakan Gian membuat hatinya teriris sakit. Kia menundukkan kepalanya, tapi Gian dengan cepat mengangkat wajahnya dan kembali menghadap padanya.
“Jangan nangis, aku sangat merasa bersalah kalau kamu seperti ini lagi,”
“Aku masih mencintaimu, apa harus kita memutuskan hubungan kita seperti ini?” kini Kia mulai mengeluarkan suaranya didalam tangisannya.
Gian menarik tubuh Kia dan memeluknya dengan erat. Gian bersyukur bisa mendengar kata-kata yang selama ini dia tunggu dari Kia.
“Aku lebih mencintaimu sayang,” Kia mendorong tubuh Gian dan menatap tajam padanya.
“Jadi ...?”
“Jadi, aku akan terus di sisimu walau banyak cobaan yang harus aku hadapi.” Kia tersenyum dengan lebar dan kembali memeluk tubuh Gian.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa like dan komen yaa
Di tunggu Vote sebanyak-banyaknya
♥️♥️♥️