Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Pergantian Tahun



Zana membantu mamanya yang menyiapkan aneka makanan untuk acara tahun baru nanti malam. Rencananya, semua sahabat kedua orang tuanya dan juga sahabatnya akan berkumpul di rumahnya untuk merayakan malam pergantian tahun.


Bukan hanya Zana yang membantu, tapi juga Kenzo ikut terjun membantu mertuanya. Satu persatu sahabat dari Putri datang dan juga ikut terjun membantu dirinya. Rumah pun sudah mulai ramai dengan adanya para pasangan muda maupun pasangan tua.


Karena sudah banyak yang membantu, Zana dan Kenzo pun pamit untuk bergabung bersama sahabat-sahabat yang lainnya. Dihalaman belakang berkumpulah perkumpulan para anak muda, di ruang tengah para suami dan para istri berkumpul di dapur, karena merekalah yang menyiapkan semua kebutuhan untuk acara nanti malam.


“Rah, muka lo pucat banget sih, lo sakit?” Citra merasa ada yang aneh dengan sahabatnya.


“Ga tau gue, akhir-akhir ini gue merasa ga enak badan dan mudah lelah,” keluh Sarah.


“Sebaiknya lo cepet-cepet periksa Rah, jaman sekarang tuh banyak penyakit yang aneh-aneh,” ucap Rani.


“Iya, rencananya setelah malam tahun baru gue cek ke Dokter.”


Mereka pun melanjutkan persiapan mereka. Suara tawa dari taman belakang meramaikan suasana. Para anak muda tidak henti-hentinya tertawa saat mereka sedang kumpul bersama. Momen yang sudah sangat jarang terjadi semenjak mereka semua lulus SMA.


Seperti biasa Zacky selalu menjadi orang yang membuat mereka tertawa, tapi lain hal dengan tunangannya. Dia merasa malu dengan tingkah laku tunangannya. Kali ini hanya anak dari para sahabat Putri yang berkumpul, karena sahabat-sahabat Zana yang lainnya tidak dapat ikut berkumpul.


Hari sudah mulai gelap. Para muda-mudi membantu ibu mereka menyiapkan segala kebutuhan untuk acara di halaman belakang. Kembang api dan petasan pun mulai satu persatu di nyalakan. Beruntungnya pada saat itu tidak ada seorang bayi, karena bunyi petasan yang sangat menggelegar.


Zana dan Kenzo juga Kia dan Yuri membantu orang tua mereka membakar makanan untuk menu makan malam. Sedangkan yang lainnya asik menyalakan kembang api. Terlihat seperti anak kecil, tapi ini sudah menjadi ciri khas untuk malam pergantian tahun.


Setelah semua makanan siap di tata di atas menjadi yang berukuran panjang, mereka pun berkumpul sejenak. Tristan sebagai kepala rumah memimpin doa agar tahun depan bisa menjadi lebih baik dari tahu sekarang. Setelah berdoa mereka pun menyantap makanan yang sudah di sediakan.


Zana tersenyum ketika menatap adiknya yang begitu mesra bersama Nia. Dia tidak menyangka sikap dingin adiknya bisa hilang setelah berpacaran dengan adik angkatnya itu. Dia pun melihat satu-persatu orang yang ada di sana. Semua terlihat sangat bahagia dengan penuh tawa. Pemandangan akan sangat jarang dia jumpai, karena lusa dirinya yang sudah harus pulang ke Singapura.


Tinggal menunggu beberapa menit lagi tahun akan berubah. Masing-masing dari mereka sudah memegang petasan yang siap di hidupkan pada saat jam pergantian tahun. Sambil melihat jam yang ada di tangan mereka, semuanya pun berteriak mundur untuk menyambut tahun yang baru.


Petasan pun semuanya di nyalakan, langit seketika cerah dengan warna-warni dari berbagai jenis petasan. HAPPY NEW YEAR, teriak mereka semua. Akhirnya awal tahun pun datang. Zana berharap di tahun yang baru ini, Tuhan bisa menitipkan seorang nyawa di dalam rahimnya.


Kenzo melihat istrinya yang sedang menatap langit sambil memegang perutnya. Dia pun menghampirinya dan memeluk tubuhnya dari belakang. Dia memegang tangannya Zana yang ada di atas perutnya.


“Kita akan segera mempunyai anak, sayang. Kamu harus percaya dan aku akan berusaha membuat semua itu terwujud.” Bisik Kenzo membuat istrinya tersenyum bahagia.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya, kalau memang kalian suka dan mau mendukung novel ini.


Aku padamu semuanya ♥️♥️♥️