
Mendengar perkataan gadis pujaan hatinya, Gian dengan cepat naik ke atas motornya, memasukkan ponselnya tanpa mendengar perkataan dari Kia. Hatinya sangat bersalah mengabaikan Kia seharian ini. Dia melajukan motor sport-nya dengan kecepatan yang tinggi.
Cekiiiit!!! Brugh!!!
Gian berusaha menekan rem pada tangan dan kakinya untuk menghindari mobil yang rem mendadak di depannya. Tapi usahanya itu malah membuat dirinya terpental dan kepalanya terbentur di atas aspal. Darah segar yang keluar dari kepalanya membuat jalanan penuh dengan lumuran darah.
Kejadian ini membuat jalanan mengalami kemacetan parah. Tidak lama tim medis datang dan langsung membawa tubuh Gian yang sudah lemas ke rumah sakit. Kecelakaan beruntun ini diakibatkan truk yang mengangkut pasir tiba-tiba saja berhenti dan membuat lima mobil belakangnya saling bertabrakan.
Mobil ambulans dengan cepat membawa tubuh Gian, karena satu-satunya korban yang parah hanyalah dirinya. Saat sampai di Rumah sakit, Raffa dan Rani kedua orang tua Gian sudah berada di rumah sakit. Keduanya dikabari oleh pihak medis mengenai keadaan anaknya.
Pendarahan yang begitu hebat membuat Gian langsung dibawa ke ruang operasi, karena benturan yang sangat keras dibagian kepalanya.
Satu persatu sahabat dari kedua orang tua Gian datang saat mendengar kecelakaan yang dialami oleh Gian.
“Ran, lo sabar ya!” ucap Putri sambil memeluk sahabat kecilnya. Ranu hanya bisa menangis dan tidak tahu harus berkata apa.
Bukan cuma para orang tua yang menunggu kabar dari Gian, tapi para sahabatnya pun sama kecuali Kia yang sejak tadi sulit untuk dihubungi.
Mendengar kabar calon mantunya kecelakaan, Satya dan Bela yang sedang berada diluar kota pun dengan cepat balik ke Jakarta.
Empat jam sudah berlalu, tapi tidak sedikit pun pihak medis keluar dari ruang operasi. Ini pun membuat para kerabat merasa sangat cemas dengan keadaan Gian.
Tidak lama setelah kedua orang tua Kia datang, akhirnya Kia yang sejak tadi susah untuk dihubungi datang juga. Dia yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi merasakan sesak di dadanya.
Belum mendengar bagaimana kabar dari Gian, tubuh Kia sudah merasa sangat lemas. Dia akhirnya tidak sadarkan diri, karena tidak siap mendengar kabar dari calon tunangannya itu. Bela terus menatap sang anak yang masih terbaring lemas tak berdaya di ruang UGD.
“Bel, bagaimana kabar Kia?” tanya Citra yang datang bersama Putri. Bela hanya menggelengkan kepalanya, karena sejak tadi Kia memang belum sadarkan diri.
“Bagaimana dengan Gian?” tanya balik Bela pada kedua sahabatnya.
“Operasinya berhasil. Tapi, dokter tidak bisa memprediksi kapan Gian akan siuman. Benturan di kepalanya sangat keras mengakibatkan gangguan otak yang cukup parah. Kita hanya bisa pasrah pada Tuhan, semoga semuanya kembali seperti semula,” jelas Citra panjang lebar.
Mendengar itu Bela tidak bisa menahan tetesan air matanya. Walau bagaimanapun juga, Gian sudah seperti anaknya sendiri. Dia juga merasakan sakit seperti Rani merasakan sakit. Terlebih melihat perempuannya yang masih belum sadarkan diri. Entah harus mulai dari mana Bela menceritakan ini semua pada anaknya.
“Sayang, kita pulang yuk! Kamu lagi hamil besar lebih baik kamu harus banyak istirahat,” ucap Kenzo pada istrinya. Zana hanya menggelengkan kepalanya. Dia masih mau tetap berada disana sampai dia yakin kalau Gian benar-benar akan bangun.
“Kenzo benar, Zan. Kasian bayi kamu, lebih baik kamu pulang dulu ya!” bujuk Sarah pada menantunya.
“Tapi, Bun,” Sarah hanya menggelengkan kepalanya yang membuat Zana mengerti kalau mertuanya tidak menerima alasan apapun itu demi cucu pertama mereka. Akhirnya Zana dan Kenzo pun pamit pada semua orang tua.
“Sayang, Gian akan baik-baik aja 'kan?” tanya Zana cemas saat mereka berada di dalam mobil. Kenzo meraih tangan istrinya dan menciumnya.
“Gian orang yang sangat kuat. Terlebih cintanya yang kuat buat Kia. Pasti dia akan sekuat tenaga untuk bangun kembali. Kamu jangan khawatir ya! Kita bantu doa agar semuanya berjalan dengan baik. Apapun itu kedepannya, percayalah! Rencana Tuhan lebih baik dari pada rencana umatnya.” mendengar itu, Zana tertunduk meneteskan air matanya. Zana benar-benar sangat menyayangi Gian seperti saudara kandungnya sendiri.
“Mi ... Kia!” ucap Satya pada istrinya saat melihat anak mereka yang siuman. Bela langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kia yang masih linglung dengan keadaan sekitar.
“Mi, Pi! Aku dimana?” tanyanya dengan suara yang masih berat.
“Bagaimana keadaan kamu, Sayang?” tanya balik Bela pada anaknya. Mendengar pertanyaan itu membuat Kia mengingat kembali kenapa dia bisa berada disana. Kia langsung bangun dari tempat tidurnya dan membuat kedua orang tuanya cukup kaget dengan reaksinya.
“Pi, Mi ....” Kia malah menangis sejadi-jadinya. Bela yang melihat anaknya sangat terpukul ikut menangis dan memeluk erat tubuh anaknya.
“... Gian! Gian! Kemana dia, Mi?” dalam tangisnya Kia terus saja mengucapkan nama kekasihnya. Bela hanya bisa menepuk pelan pundaknya untuk menenangkan emosi anaknya. Dia belum berani untuk menceritakan keadaan Gian yang sebenarnya.
“Dia baik-baik aja, Sayang. Sekarang kamu tenang dulu ya!” ucap Satya agar membuat anak gadis kesayangannya merasa sedikit tenang. Mendengar itu Kia masih menangis dalam pelukan maminya, tapi sekarang emosinya sedikit tenang.
...Aku berharap kamu benar baik-baik saja, sayang. Maafkan aku! Aku sangat mencintaimu, gumam Kia yang masih memeluk sang mami....
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Bagaimana reaksi Kia saat mendengar keadaan yang sebenarnya mengenai kekasihnya?
terus ikuti kisah mereka ya ....
Jangan lupa like, komen dan vote guys...
Oia, sambil menunggu novel ini Update, Author mau kasih novel recommended kesukaan Author semoga kalian juga menyukai yaa...
...Pena : Pengembara Elite...
...Judul : Between Guns & Roses...
...Pena : Kenziki Kyozaki...
...Judul : Legenda Dewa Surgawi...
...Pena : Azmi1401...
...Judul : My husband is a Devil...
...Pena : Irma Indriani...
...Judul : Cinta Sang Widuri...
AKU PADAMU SEMUANYA ♥️♥️♥️