Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Kangen



Pagi hari, Zana sudah berkutat di dapur. Hari ini, hari dimana dia sudah menjadi seorang istri sesungguhnya. Zana bersyukur, banyak mendapat ilmu dari mamanya perihal masak memasak. Pagi itu dia memasak masakan kesukaan sang suami.


Karena kampus masih dalam penyambutan mahasiswa baru, jadi hanya Kenzo yang berangkat ke kampus hari ini. Semua makanan tertata di meja mini bar yang berada di dekat dapur.


“Sibuk banget sih, sayang,” sapa Kenzo, memeluk tubuh istrinya dari belakang. Zana membalikan tubuhnya menghadap suaminya dan mengecup bibir Kenzo sebagai ucapan selamat pagi untuknya. Kenzo tersenyum dan membalas kecupan istrinya dengan ciuman yang hangat.


“Udah deh, jangan mulai, nanti kamu terlambat. Ayo sarapan dulu!” Kenzo pun menuruti titah sang istri.


Betapa lahapnya Kenzo memakan masakan sang istri. Zana yang melihat suaminya merasa sangat senang. Setelah menyantap masakan sang istri, Kenzo mempersiapkan keperluannya di bantu sang istri. Zana pun mengantarkan kepergian sang suami sampai ke depan pintu apartemen.


“Jangan kemana-mana ya,” ucap Kenzo mencium kening istrinya. Zana tersenyum mengangguk. dan melambaikan tangannya.


Zana mempersiapkan berkas-berkas untuk persyaratan, karena besok dia akan memberikannya ke rektor kampus. Melihat lembar-lembar dari kampusnya yang dulu, seketika Zana merasa rindu pada para sahabatnya. Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat-sahabat nya.


Zana :“Guys, kangen 😭,”


Zana terus menatap ponselnya berharap sahabat-sahabat nya membalas pesan yang di kirimkan di grup chat. Walaupun sedikit lama, akhirnya ponsel Zana berbunyi. Mendengarnya dengan sigap Zana meraih ponselnya. Zana tersenyum melihat teman-teman nya membalas pesannya.


Keysa : “Hai manten, Gue kangen juga sama lo,”


Icha : “Beib, Gimana kabar lo?”


Kia : “Kak Zana, Kia miss u 🥺,”


Zana : “Gue disini baik, sumpah Gue kangen banget sama kalian semua. Aji dan yang lainnya mana kok belum nongol?”


Aji: “Jiwa Gue merasa terpanggil, hai Ratu kangen juga lo ma Gue? Kirain lupa,”


Zana: “Aji, mana bisa Gue lupain lo, Gue kangen,”


Percakapan mereka terus berlanjut, sampai Zana melupakan tugas dia untuk membereskan barang-barang yang baru saja sampai dari Indonesia. Setelah hampir 4 jam dia melepas rasa rindunya, Zana kaget melihat jam dinding. Dirinya bergegas terlebih dahulu merapihkan berkas-berkas nya, setelah itu membereskan barang-barangnya yang baru saja datang.


**♥️♥️**


Seperti biasa Nia selalu menunggu sang kekasih di gerbang sekolah. Kali ini mereka tidak lagi di antar jemput oleh Bang Jojon ayah dari Nia. Rei sudah mendapat izin mengemudi dan membawa motor kesayangannya dari kedua orang tuanya. Sudah hampir 15 menit Nia menunggu kedatangan Rei, tapi sosok yang di tunggunya tak kunjung datang.


Kemana sih? Lama banget, Kesal Nia.


Dengan berlari akhirnya Rei menghampiri Nia dengan nafas yang ngos-ngosan.


“Maaf, tadi Aku habis dari ruang guru nyerahin tugas. Eh, malah di ajak ngobrol sama Pak Jursa (guru olahraga sekaligus pelatih tim basket),” jelas Rei. Nia masih dalam kesalnya berjalan meninggalkannya.


“Nia, kamu marah? Maaf donk sayang, gitu aja marah,” Rei terus memohon, tapi Nia tetap saja diam dan tidak menghiraukannya.


Memang Akhir-akhir ini Rei selalu sibuk dengan tim basketnya. Kadang Nia merasa kangen saat masa-masa di mana keduanya selalu berdua dan belajar bersama. Selama perjalanan Nia hanya diam, Rei yang merasa tidak enak di ceukin oleh Nia, memarkirkan motornya di cafe yang tidak jauh dari rumah.


“Kok, berhenti?” tanya Nia heran.


“Laper...,” jawab Rei dan langsung menarik tangan Nia.


Keduanya memilih bangku yang ada di pojok dekat kaca, tempat favorit Rei apabila sedang berkumpul dengan teman-temannya. Rei memesan aneka cemilan dan minuman. Dia menarik tangan Nia dan di genggamnya di atas meja. Melihat itu, Nia merasa aneh dengan sikap Rei hari ini.


“Rei, kamu kenapa sih? Hari ini aneh banget tau,”


“Apanya yang aneh? Aku ga merasa aneh sama sekali kok,” ujarnya tersenyum.


“Cih, nih liat...! tumben-tumbenan kamu megang tangan Aku terus,” Nia mengangkat tangannya yang di genggam oleh Rei, dan memperlihatkan padanya. Rei yang melihatnya tersenyum, dan mencium tangannya. Tapi, sebelum itu terjadi Nia langsung menarik tangannya sehingga Rei tidak berhasil mencium tangan kekasihnya.


“Mau ngapain? Malu tau di liatin orang,” ucap Nia sedikit kaget dengan apa yang akan di lakukan Rei.


Melihat wajah Nia, Rei tertawa puas. Nia yang melihatnya semakin heran dengan tingkah laku Rei hari ini.


“Sayang, kamu ga lagi kerasukan kan?”


“Gemes banget tau, Aku tuh,” kata Rei sambil mencubit kedua pipi Nia. Dan itu berhasil membuat Nia meringis kesakitan memegang kedua pipinya.


Makanan yang di pesan keduanya pun datang. Tidak bisa di pungkiri perut Nia sudah lapar. Dan dia akan memberi perhitungan pada Rei setelah memberi makan cacing-cacing yang ada di perutnya yang sejak tadi sudah meronta-ronta.


“Pelan-pelan donk makannya,” Rei mengambil tisu dan membersihkan makanan yang menempel di pinggir bibir Nia. Nia yang mendapat perhatian dari kekasihnya tertunduk malu, karena mukanya yang sudah memerah.


“Rei, jujur deh, kamu hari kenapa?” memang sejak tadi Nia merasa aneh dengan sikap Rei yang mendadak menjadi sedikit romantis dari biasanya.


“Emang Aku kenapa sayang? Biasa aja kok,” jawabnya sambil tersenyum genit. Melihat itu, tubuh Nia seketika menjadi merinding. Bagaimana tidak? Rei yang biasa terkesan jutek dan tidak peduli menjadi Rei yang genit dan agresif.


Nia memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaan nya. Karena, semakin dia bertanya, dia akan semakin geli mendengar jawaban Rei yang genit.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Alhamdulillah, novel ini hari ini lolos kontrak. Maafkan Author beberapa hari ini tidak up ya🙏🙏🙏, karena Author sibuk revisi novel ini.


Terimakasih untuk dukungan dan doa dari kalian semua.. Tanpa kalian Author bukanlah apa-apa.


Dukung terus karya Author yaa....


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya...


Love u all... 😘😘