
Kia, Zacky dan Zian kini sudah resmi menjadi seorang mahasiswa. Dan ketiganya kuliah di tempat yang sama seperti Galen dan Yuri. Mereka akhirnya berkumpul kembali walaupun dengan suasan yang berbeda.
Ingin rasanya Zana berkumpul kembali bersama para sahabatnya. Setiap hari mereka selalu menyempatkan melakukan VC untuk melepaskan rasa rindu. Padahal hanya menghitung beberapa hari lagi mereka pulang ke Indonesia, tapi rasa rindu Zana sudah sangat bergejolak di dalam dada.
Zana sudah mempersiapkan barang-barang untuk pulang ke Indonesia. Sebenarnya mereka sudah libur dari satu minggu yang lalu, tapi mereka tidak mendapatkan tiket pesawat. Mungkin karena libur akhir tahun, jadi memang sangat sulit untuk mendapatkan tiket pesawat.
Zana menghampiri suaminya di kamar yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Memang akhir-akhir ini Kenzo selalu sibuk mengerjakan kerjaannya. Walaupun sangat jauh, Kenzo selalu mendapat kerjaan yang harus dia kerjakan. Itu juga menjadi salah satu alasan Zana merasa kesepian dan ingin segera balik ke Indonesia.
Zana menyesal karena telah menunda untuk mempunyai keturunan. Enam bulan dari dia lepas meminum pil KB dia tidak kunjung mempunyai seorang anak. Zana selalu berpikir kalau ini kesalahan dirinya dan karma untuknya.
“Bang ...,”
“Emmm,”
“Masih sibuk ya?”
“Lumayan,” Zana menarik nafas panjang. Dia hanya melihat dari atas kasur, suaminya yang sedang sibuk di meja kerjanya.
Zana mengambil ponselnya, membalikkan badannya memunggungi Kenzo. Dirinya benar-benar sangat bosan, Zana mengirim pesan pada sahabatnya tapi, tidak satupun dari mereka yang membalas pesannya. Dia mencoba memainkan game yang ada di ponselnya tapi itu juga tidak membuat rasa bosannya hilang.
Kenzo melirik ke arah istrinya, dia tersenyum dan perlahan menghampirinya, memeluk tubuhnya. Zana kaget dengan kedatangan suaminya. Dia membalikkan badannya, menatap wajah Kenzo dengan muka yang sayu.
“Kenapa sih, sayang?” Tanya Kenzo sambil mencubit kecil hidungnya.
“Bosan ...,” Kenzo menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya dan mencium keningnya.
“Sabar ya sayang, 2 hari kan kita pulang ke Indonesia,”
“Bang, sudah 6 bulan, kenapa aku belum hamil aja? Apa ini karma buat aku?”
“Ga sayang. Tuhan, punya rencana terbaik untuk kita. Kamu jangan berfikir seperti itu yaa!” Zana mengangguk, dia berharap apa yang di katakan Kenzo benar terjadi.
Untuk menghilangkan rasa bosan Zana Kenzo pun mengajak istrinya untuk pergi kencan. Mendengar itu, di tiap sudut bibirnya Zana melengkung ke atas. Dia sangat senang sekali dan bergegas bersiap.
“Bang, aku mau lihat kamu joget lagi,” Kenzo tidak mengerti apa yang di katakan Zana padanya.
“Maksudnya?”
“Seperti yang kamu lakukan dulu saat melamar aku,” Ucap Zana sambil tertawa. Wajah Kenzo seketika menjadi sangat merah saat mengingat apa yang dulu dia lakukan.
Jujur, dia sangat malu saat itu. Kenzo yang selalu bersikap dewasa dan cool melakukan hal-hal yang bodoh yang membuatnya malu. Zana mencubit kecil pipinya karena merasa gemas dengan wajah merah Kenzo.
“Aku sangat menyukainya sayang, sedikit kaget memang, tapi aku senang,” Zana melempar senyumannya. Kenzo menarik tangan Zana dan menciumnya.
“Selama itu bisa membuatmu senang, aku akan melakukannya tiap hari sayang,”
“Eeeee ... Mending ga usah sayang, cukup 1 kali dalam seumur hidup aku,” Zana langsung mengalihkan pandangannya.
“Kenapa? Katanya mau lihat lagi? Atau aku joget sekarang?" Kenzo berdiri dari tempat duduknya, dengan cepat Zana langsung menarik tangan Kenzo sebelum dia melakukan hal bodoh yang akan membuatnya malu.
Kenzo tertawa melihat wajah panik istrinya. Niatnya hanya bercanda pun dianggap serius oleh Zana.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, komen dan vote ya..
Terimakasih...