
disekolah nya Rei sangat terkenal cowok dingin dan pendiam. tapi setelah dekat dengannya pikiran orang selama ini salah. dia sebenarnya cowok yang sangat care dan hangat. tapi karena gosip yang terlanjur menyebar orang-orang segan untuk dekat dengannya.
dia selalu kemana-mana dengan Kiki sahabatnya. ya, hanya Kiki yang selalu setia berada di sampingnya temannya sejak taman kanak-kanak. tapi dia mempunyai 2 orang sahabat lainnya selain Kiki tapi berbeda sekolah dengannya
"bro ntar Sabtu nongkrong yu, anak-anak ngajak kumpul" ajak Kiki tapi tidak digubrisnya karena mata Rei dari tadi tertuju pada Nia yang sedang asik ngobrol dengan cowok entah siapa itu karena memang tidak banyak yang Rei kenal di sekolah.
ada rasa kesal melihat Nia yang dekat dengan cowok lain selain dia. karena memang yang Rei tau cowok yang dekat dengan Nia hanyalah dia.
"wooy lo kenapa gue tanya diem aja" ucap Kiki sambil menepuk bahunya. Kiki menatap ke arah mata Rei, diapun langsung tau kenapa Rei yang tiba-tiba diam.
Sahabat sejak sekolah dasar Rei ini sangat paham perasaannya terhadap Nia walapun dia sama sekali tidak pernah mengakuinya. Kiki tau betul semua tentang Rei walaupun dia tidak bisa mengekspresikan perasaan nya.
saat pulang sekolah seperti biasa Nia menunggu Rei di gerbang sekolah. hari ini ayahnya tidak bisa menjemput mereka karena sedang pergi tugas keluar kota bersama Tristan, sedangkan Putri juga tidak bisa menjemput keduanya. hari ini keduanya pulang dengan naik transportasi umum.
Nia terus melihat jam yang ada di tangannya, sudah 15 menit dia menunggu Rei tapi tak kunjung datang.
"Nia ngapain disini?" tanya Vino kakak kelas yang tadi mengajaknya ngobrol di lapangan
"eh kak Vino, lagi nungguin Rei kak"
"ooh mau bareng ga pulangnya? kebetulan aku di jemput pakai mobil"
"emmm.. makasih kak mungkin lain kali"
"kalau gitu gue duluan ya bye Nia" katanya sambil melambaikan tangan.
sekali lagi Rei melihat keduanya, kini entah kenapa tubuhnya semakin panas melihat Nia dengan cowok itu, dia pun berjalan tanpa menghiraukan Nia yang sudah dari tadi menunggunya.
"Rei tunggu" teriak Nia berlari kecil menyusulnya
"kok lama habis dari mana?" tanya Nia tapi Rei sama sekali tidak menjawabnya. Rei terus melangkahkan kakinya. Nia harus berlari kecil mengikuti langkah kaki Rei yang lebih panjang darinya.
"Rei tunggu" teriak Nia sambil menarik tangannya. langkah keduanya terhenti. Nia berjalan hingga dia berada di depannya.
"kamu lagi marah sama aku?" Rei hanya menatap Nia dan kembali melangkah, tapi langkah Rei terhenti karena Nia menghadangnya.
"kita akan tertinggal bus Nia" kini dia mengeluarkan suaranya
"kamu marah sama aku, iya kan?"
"gak" jawabnya singkat dan jalan, kini langkahnya lebih kecil dari sebelumnya sehingga Nia bisa menyamakan langkahnya
"terus kenapa kamu seperti ini?"
"setiap hari juga aku seperti ini"
"gak kok, kamu hari ini beda, maaf ya kalau aku salah" langkah Rei tiba-tiba terhenti. dia menatap ke arah Nia membuat gadis cantik itu heran dan salah tingkah.
"kamu pacaran?" tanya Rei. mulutnya sejak tadi sudah tidak tahan untuk menanyakan pertanyaan itu. Nia mengkerutkan keningnya dia tidak mengerti dengan pertanyaan Rei padanya. dia menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"terus kenapa tadi ngobrol sama kakak kelas mesra seperti itu?" Nia memikirkan apa yang di maksud Rei padanya
"oh kak Vino, dia cuma mau ngundang aku ke acara ulang tahunnya" Rei melangkahkan kakinya lagi, memang jarak sekolah ke halte lumayan jauh sebenarnya bisa saja mereka naik angkot untuk sampai ke sana tapi Rei lebih memilih jalan kaki agar bisa berduaan sama Nia.
"kok kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Nia
"ga boleh" jawab Rei yang menurut Nia tidak nyambung dengan pertanyaannya
"maksudnya?"
"emm..emang kenapa kalau aku pergi toh aku ga ada pacar ini jadi bebas donk ga ada yang ngelarang" katanya dengan sengaja memancing Rei
Rei menghentikan langkahnya lagi menatap serius ke arah Nia.
"tadi kan aku udah larang kamu, ga boleh ya berarti ga boleh"
"aku ga ngerti Rei, apa hak kamu ngelarang aku?" ucap Nia, dia kembali berjalan meninggalkan Rei, dalam hatinya dia sangat senang melihat ekspresi wajah Rei yang serius tadi.
Rei kemudian mengikuti langkah Nia dan langsung menggenggam tangannya membuat Nia kaget.
"sekarang aku punya hak buat ngelarang kamu" ucap Rei sambil memperlihatkan tangan yang di genggam nya. Nia tersenyum,saking bahagianya kupu-kupu dalam hatinya meronta ingin keluar, debaran hatinya sangat kencang ingin sekali rasanya dia melompat kegirangan. selama ini ternyata dia tidak bertepuk sebelah tangan.
sampai di halte bis keduanya langsung naik karena kebetulan bis yang mereka naikin sudah datang. siang itu bis masih terlihat lumayan sepi karena belum jam orang pulang kantoran. mereka memilih duduk di bangku yang paling belakang. Rei terus menggenggam tangan Nia sampai keduanya duduk.
kini suasana menjadi sangat canggung. memang Rei tipikal orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Nia menatap terus wajah Rei membuat dia menjadi malu.
"ngapain ngeliatin terus" katanya sambil mendorong wajah Nia agar tidak melihatnya.
"jadi kita?" tanya Nia yang ingin memastikan hubungan mereka
"ya kita itu" jawabnya dengan malu
"itu apa?"
"itu aja"
"oh berarti belum jelas donk statusnya" Nia menarik tangannya tapi Rei kembali menggenggam nya.
"ya kamu pacar aku dan mulai sekarang kamu ga boleh dekat dengan pria manapun kecuali aku" memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. sifat Rei sama dengan sang ayahnya yang sangat cemburuan.
kedua sudut bibir Nia naik ke atas, terpancar wajah yang sangat bahagia, begitupun dengan Rei dia tersenyum menatap Nia.
"gitu aja susah ngomong nya" ucap Nia tertawa kecil
"ya kamu udah tau pake nanya lagi"
"dimana-mana orang kalau ngajak orang pacaran itu nanya dulu mau ga jadi pacar aku? ini malah main ngambil keputusan aja"
"ya terserah aku donk, aku kan bukan orang yang kamu pikirin"
"gimana kalau aku ga mau?"
" buktinya kan sekarang mau" Rei benar-benar tidak mau kalah, memang dia sangat gengsi mengungkapkan perasaannya.
"ya udah aku ga mau" kata Nia hendak menarik tangannya tapi Rei mengeratkan menggenggam nya
"udah terlambat, sekarang kamu udah jadi pacar aku"
"diih egois"
"biarin" katanya sambil menjulurkan lidahnya.
keduanya terus berdebat, Rei tidak mau kalah dengan Nia. kini Nia tidak perlu lagi menahan rasa sukanya terhadap orang yang sudah menjadi pacarnya.
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA ♥️😘