
Sadarnya Gian menjadi kebahagiaan yang luar biasa untuk semua orang. Harapan kecil yang divonis dokter untuk kesadaran Gian hanya menjadi cerita. Dua bulan sudah Gian sadar dari komanya. Tapi dia masih harus bulak-balik untuk kontrol kepalanya yang mengalami benturan yang sangat hebat.
Kia dengan setianya selalu mengantarkan Gian untuk ****** ke rumah sakit. Hari ini adalah hari di mana Gian cek up ke rumah sakit. Sejak dini hari sudah bersiap langsung berangkat untuk menjemput kekasihnya, karena entah kenapa jadwal rutin cek Gian dimajuin menjadi jadwal pagi.
“Sayang, orang-orang rumah pada kemana? Kok sepi banget?” tanya Kia yang heran hanya ada Gian sendiri di rumahnya.
“Oh ... bibi lagi mudik, kalau bunda lagi pergi arisan, ayah kamu tahu sendiri lah dia banyak kerjaan,” jelas Gian.
“Ini 'kan weekend, **Yank. Tumben banget ayah kerja,” binggung Kia.
“Aku juga kurang tahu. Mungkin mau ketemu sama rekan kerjanya. Ya sudahlah jangan kebanyakan mikir nanti kamu cepet tua, mending sekarang kita pergi,” canda Gian.
“Cih ... enak aja gue tua. Ya udah ayok!” Kia membantu menuntun Gian berjalan masuk menuju mobil.
Gian terus menatap Kia yang sedang menyetir, membuat wanita cantik itu merasa risih.
“Ngapain sih ngeliatin?” tanya Kia yang sadar tatapan Gian padanya.
“Sayang, kalau aku harus** cek up seperti ini terus, apa kamu masih mau menikah denganku?” Kia mengerutkan keningnya, dia heran kenapa Gian tiba-tiba menanyakan hal itu padanya.
“Kenapa kamu menanyakan seperti itu? Aku mencintai kamu apa adanya, jadi stop bahas-bahas aku mau apa tidak menjadi pendamping kamu. Mau kamu seperti apapun, aku akan tetap mencintai kamu.” Gian tersenyum, dia menggenggam tangan Kia dan menciumnya.
Sampai di rumah sakit, Gian langsung masuk ke dalam ruangan. Kia heran kenapa pagi itu rumah sakit sangat sepi, karena biasanya saat Gian kontrol akan banyak pasien mengantri juga. Kia memilih mengabaikan kejanggalan yang ada dan mengikuti Gian untuk masuk ke dalam ruangan.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka selesai. Gian meminta kunci mobil pada kekasihnya, awalnya Kia tidak mengijinkan kalau Gian mengendarai mobil, tapi Gian terus saja memaksa dengan alasan dia sudah lama tidak menyetir dan dia sangat ingin menyetir mobil. Akhirnya dengan berbagai rayuan Gian, Kia pun menjadi luluh.
“Yank, kok ke sini?” tanya Kia yang merasa heran, karena Gian melewati jalan yang berbeda kearah jalan pulang. Gian hanya melemparkan senyumannya. Dia meraih tangan Kia dan menggenggamnya dengan erar.
'Ada apa dengannya hari ini?' gumam Kia heran. Diapun memilih diam dan mengikuti kemana arah yang Gian tuju.
Dua puluh menit waktu yang di tempuh, akhirnya mereka sampai di depan hotel mewah. Pikiran Kia sudah melayang jauh kemana-mana. Gian pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya.
“Ngapain kamu bawa aku ke sini? Kamu ....” Gian tersenyum dan menarik tangan Kia.
“... Yank, ngapain kita ke sini? Jangan macem-macem deh Gian!” Gian terus menarik tangan kekasihnya tanpa menggubris kekasihnya.
Sampai di depan hotel, Gian menyerahkan kekasihnya pada dua orang wanita yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
“Bro, cepetan! Tim rias sudah nungguin lo ganti baju,” teriak Zacky. Gian pun bergegas mengikuti langkah sahabatnya itu.
Ya ... hari ini adalah hari pernikahan Gian dan Kia. Gian sengaja merancang semuanya tanpa diketahui oleh kekasihnya. Dia ingin memberikan kejutan pada kekasihnya, karena memang selama ini impian Kia adalah menikah dengan dirinya.
Dengan seijin dari kedua orang tua Kia, akhirnya Gian merancang semua rencananya. Semua sahabatnya turut serta dalam membantu acara pernikahan. Aula hotel bintang lima itu dihias begitu mewah, dengan banyak bunga hidup didalamnya. Semua dirancang sesuai dengan impian Kia. Karena memang Kia pernah menceritakan pada Zana tentang pernikahan yang dia inginkan.
Kia sendiri masih merasa binggung. Dia ditarik masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan alat-alat rias.
“Permisi, Mba. Ini maksudnya apa ya? Apakah ada acara?” tanya Kia. Lagi-lagi mereka hanya tersenyum. Kia pun pasrah dengan apa yang terjadi.
Satu jam sudah berlalu. Gian yang sudah tampil menggunakan jas silver membuat dirinya tampak bercahaya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Dengan dituntun dua perempuan, Kia datang dari arah pintu aulia. Kia mwrasa kaget melihat aula yang di design sesuai impian dia. Terlebih dia melihat Gian yang berdiri dihadapannya memakai baju yang senada dengannya.
Gian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kia yang susah tidak bisa menahan rasa harunya. Sampai di depan Kia, Gian pun berlutut dihadapannya dan berkata, “Sayang, will you marry me?” Kia menutup mulutnya saat mendengar apa yang dikatakan Gian. Tidak butuh waktu lama, Kia mengangguk. Semua orang yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dengan penuh kebahagiaan.
Pernikahan pun berjalan dengan sangat hikmat. Akhirnya apa yang diimpikan Kia selama ini pun terwujud. Gian terus menggenggam tangan wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
“Sayang, terimakasih kamu sudah mempersiapkan semua ini untukku,” bisik Kia.
“Kamu menyukainya?” Kia tersenyum mengangguk.
“Terimakasih juga kamu sampai saat ini setia mencintaiku. Aku janji akan menjadi suami terbaik untukmu.” Gian mencium kening istrinya.
.
.
.
.
.
~The End~