Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
chef Kenzo



Terlihat sekali kalau Kenzo tidak tertarik dengan film yang sekarang sedang diputar oleh Zana. Kenzo hanya bersandar di bahu Zana sibuk sendiri dengan ponselnya. Namun sesekali saat jaringannya lemot dia nampak kesal lalu memainkan rambut Zana, sampai akhirnya dia terlelap tak tahan menahan kantuk, bahkan filmnya belum habis satu episode pun.


“Haduh ... abang mah cemen,” ujar Zana sambil menyelimuti lalu setelahnya kembali lanjut menonton.


Sedangkan di kamarnya, Rei masih terjaga, dirinya masih asyik bermain game online meski saat ini sudah larut malam. Bukan karena Rei penggila game yang membuatnya masih betah tak lepas dengan ponselnya, Rei bahkan sudah menyelesaikan PR fisikanya sejak tadi sore, namun belakang Rei sepertinya terkena insomnia. Bermain game hanya sekedar siasat untuk menunggu rasa kantuk datang menghampiri.


Sebenarnya Rei dan Zana sama saja, kakak beradik itu berat sekali kalau soal memejamkan mata saat malam, sudah seperti hewan nocturnal saja. Sepertinya mereka punya dunianya sendiri, bahkan mereka dikategorikan sudah mumpuni jika menjadi hansip untuk jaga malam.


**♥️♥️**


Belum sudah masalah antara Gian dan Kia sehingga membuat Gian malam ini berbicara empat mata dengan papanya. Gian tak mau sampai mamanya juga ikut nimrung, akhirnya balkon adalah tempat yang dipilih agar obrolan mereka tidak di dengar oleh mamanya. Gian sebetulnya tidak bermaksud merahasiakan masalahnya kepada mama tercintanya, namun bagi dirinya ini adalah obrolan antara dua orang pria sejati. Saat seorang ayah menceritakan prihal cinta kepada anak laki-lakinya, seorang ayah biasanya akan menceritakan kisah cinta masa mudanya, dan ini penting untuk membangun kepercayaan bagi Gian.


Setelah selesai mereka mengobrol, Raffa masuk karena dinginnya angin malam terasa menusuk menembus kulit, bahkan ujung benang yang tidak rapi di mantelnya sudah sedari tadi menari-nari tertiup angina. Kini hanya Gian sendirian yang masih berada di balkon, dan menatap pada langit malam yang mendung kemerah-merahan. Gian kemudian menelepon Kia.


“Hallo yank … lagi ngapain?” tanya Gian.


“Ah, kepo banget sih, yank. Mangkanya nikahin aja gue ga usah tanya-tanya.”


“Kangen ga sama aku?”


“Beh kangen gila.”


“Sama dong aku juga kangen banget, ayah bilang nikah aja makin cepet makin bagus.”


“Lah, terus?”


“Pikiranku mulai terbuka yank, mungkin dalam waktu dekat kami sekeluarga akan datang melamar.”


“Ah dasar **** .. gini aja lama banget mikirnya, yaudah jangan bohong, aku tunggu!”


“Secepatnya yank, sekarang pria ini sudah menemukan jalannya. Lagian aku udah bosen bobo sendirian,” canda Gian yang membuat Kia tertawa.


“Hayo mikirin apa? Udah pasti ngeres ini mah,”


“Emang iya kok, boleh 'kan yank?”


“Boleh kepala lu peyang, udah ya terserah dengan dunia halumu, aku mau bobo. Good night my bear,”


“Night to my honey.” Sambungan telpon ditutup.


Langit yang mendung kini menumpahkan airnya, tak lama setelah Gian masuk kedalam dan menutup pintu. Hujan yang begitu lebat membasahi hamparan seisi kota. Langit saat itu sudah seperti sedang memarahi bumi, petir menyambar-nyambar, sapuan angin menghuyungkan pohon. Akan tetapi meski keadaan di luar rumah sedang begitu kacau, tak ada kualitas tidur terbaik melebihi tidur malam dengan hujan yang sangat deras.


**♥️♥️**


Pagi-pagi sekali Kenzo sudah bangun dan membuatkan susu hangat untuk istrinya.


Setelah bangun Zana sedikit bingung, karena mendapati suaminya tak ada di kamar. Berusaha untuk tidak terlalu khawati akhirnya Zana mengalihkannya dengan segera mandi. Bahkan setelah dirinya selesai mandi, Kenzo belum juga kembali ke dalam kamar, hal ini membuat rasa khawatirnya menjadi tak terbendung.


Lantas Zana segera mencari ke seluruh ruangan sampai kehalaman belakang, sampai dirinya merasa lelah mencari, akhirnya Zana hanya duduk menunggu di kursi teras dengan kerutan di alisnya yang menunjukan sekali bahwa dirinya sedang sangat gelisah.Tak berapa lama akhirnya Kenzo muncul dari arah jalan menuju rumah lalu membuka gerbang pagar dan mendekati Zana dengan napas yang ngos-ngosan. Zana memperhatikan ikatan simpul pada sepatu Kenzo.


“Abang, minggat ya? jadi Abang masih marah karena masalah semalam?” tanya Zana.


“Minggat kemana yank? orang abang joging, susunya sudah diminum belum?”


“Mana bisa minum kalau ga ada Abang, maunya minum setengah-setengah sama Abang.”


“Yaudah ayo ke kamar kita minum susunya sama-sama Sayangku,”


“Tapi, Abang beneran ga marah 'kan? Abang itu punya ciri khas kalo ngikat tali sepatu itu ga kayak ini, nah liat sekarang gayanya lain, ada dua lipatan simpul, ikatannya juga kencang, jangan-jangan Abang bener marah terus mau minggat 'kan.”


“Yah ... namanya juga joging yank, abang sengaja mengikat kencang supaya gak lepas, biar larinya juga enak. Lagi pula kamu ada-ada aja sih, liat mood orang dari tali sepatu,”


“Ya ... biasanya 'kan abang gitu. Ya udah.”


“Lah gitu doang?” Mengertukan dahi.


“Yah kumat ini mah, ayo kekamar Yank.”


“Oke Bang, nanti sudah minum susu aku pengen makan pempek, Bang,” ucap Zana sambil berjalan menuju kamar.


“Iya nanti abang beli kalau udah agak siang.”


“Maunya di bikinan, Abang.”


“Lah abang mana bisa bikin pempek yank,”


“Ga mau tau pokoknya abang harus bikinin, liat YouTube aja, Bang.”


Kenzo dibuat pusing bukan kepalang oleh istrinya itu. Hari-hari selalu saja ada permintaan yang berganti-ganti, dan sekarang dia harus membuat pempek, sesuatu yang dimakannya saja jarang apa lagi membuatnya. Namun meski begitu ada senyuman yang ingin dipertahankan dan terus hinggap di wajah istrinya itu. Kenzo tetap akan membuatkannya setelah ini. Bahkan sekarang Kenzo sudah membayangkan Zana sudah nampak seperti Chef Juna yang siap mengomentari rasa dari masakannya.


Beberapa channel sudah ditonton olehnya. Bahkan dia menanyakan pada mertuanya --Putri-- bagaimana cara membuat pempek yang mudah, sebelum mertuanya pergi kerja.


“Ampun deh kakak, masih aja dia ngidam? padahal udah masuk sembilan bulan loh,” ucap Putri sambil menggelengkan kepalanya.


“Ga apa-apa Ma, selagi aku bisa aku akan membuatnya demi calon buah hatiku,”


“Romantis banget sih, Bang. Oia ... mama pernah tulis resep bikin pempek mudah, kamu bisa ikutin cara-cara mama, sebentar ya!” Putri masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil buku resep yang dia bikin sendiri dulu sewaktu masih sekolah memasak.


“Nih, Bang,” ucapnya sambil memberikan buku resepnya.


“... semua bahan-bahan kebetulan ada di kulkas, kamu tinggal bikin aja sesuai resep di buku.”


“Makasih ya, Ma. Mama memang terbaik,” Kenzo menaikkan kedua jempolnya.


“Ya udah, mama pergi dulu ya, papa udah nunggu di depan,” pamit Putri.


“Hati-hati ya, Ma.”


Selagi Kenzo membuat pempeknya, Zana yang sejak tadi di kamar merasa bosan dan menghampiri suaminya. Dia tersenyum saat melihat Kenzo dengan bersemangat membuatkan pempek yang dia inginkan.


“Nak, liat daddy! dia benar-benar sangat menyayangi kamu. Sampai keinginan kamu pun daddy rela membuatnya,” ucapnya sambil mengucap perutnya yang besar. Jabang bayi yang ada di dalam kandung merespon ucapan Zana dengan sedikit gerakan yang membuat Zana meras sedikit ngilu. Zana tersenyum sambil mengusap perutnya.


Akhirnya pempek buatan Kenzo jadi. Zana yang sejak tadi duduk di meja makan sambil melihat suaminya sudah tidak sabar ingin merasakan pempek buatannya. Jangan ditanya bagaimana kondisi dapur, jelas seperti kapal pecah. Bi Sari pun langsung membereskan hasil dari ulah Kenzo memasak.


“Enak ga, yank?” tanya Kenzo harap-harap cemas saat Zana mencoba masakan buatannya. Zana memainkan kedua matanya sambil terus mengunyah, dan itu membuat Kenzo semakin penasaran.


“... gimana?”


“Bang, kita buka rumah makan pempek aja yuk! masakan abang enak banget,” ucapnya sambil menaikkan kedua jempolnya. Kenzo tersenyum, walaupun ini pertama kalinya dia membuat pempek, tapi dia berhasil membuat istrinya menyukainya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, dan Vote sebanyak-banyaknya ♥️♥️♥️


Kolom komentar terbuka lebar untuk kalian yang mau berkomentar... Karena komentar kalian adalah mood booster buat Author...


CU Next Time... 😘😘😘


Cerita ini hasil kolaborasi bersama dengan Author "Terpaksa Menikahi Pria Culun" Arip Riko. Jangan lupa untuk mampir ke karya dia ya ...